Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Amar, Selalu Tidak Konsisten


Posisinya tidak jelas dan terkadang bingung sendiri. Ini bukan karena saya memberikan posisi itu sembarang, tapi karena dia sendiri yang gak bisa konsisten. Amar adalah rekan dan sahabat saya sejak berdirinya dotsemarang.

Namun saat dotsemarang resmi berdiri 2010, dia pindah ke Jakarta untuk bekerja dan kuliah. Beberapa kali berkegiatan di Jakarta, Amarlah yang membantu saya dan teman-teman menemani perjalanan saya disana. Memberi petunjuk arah dan bahkan memberi penginapan. Dari rasa kebersamaan tersebut, mulailah saya ajak dia kembali ke Semarang.

Tahun 2012, ia resmi kembali ke Semarang dan saya masukkan ke dotsemarang. Dari dialah, saya mulai serius menggarap dotsemarang. Kami sudah punya kantor dan merubah komunitas menjadi manajemen. Posisinya waktu itu adalah bagian offline yang pekerjaannya menerima undangan dari komunitas lain.

Seiring waktu, saya terus mencobanya di berbagai posisi. Ini dikarenakan setelah dotsemarang memiliki manajemen, banyak orang komunitas satu persatu pergi melepaskan diri meski mereka tak keluar.

Tinggallah saya, Amar, Ismi, Rois dan Mariana waktu itu (2012). Amar jugalah yang mau memberi modal dana untuk mengembangkan dotsemarang yang ia bawa dari kota asalnya, Bumiayu. Saya senang bisa mendapat dana segar untuk kemajuan dotsemarang waktu itu termasuk tempat dia juga sekaligus kos.

Dan jadilah kantor dotsemarang yang sebenarnya itu adalah kos nya amar. Waktu terus berlalu dan beberapa orang keluar lagi seperti Mariana dan Rois. Amar sudah berada di rumah saya untuk saya fokuskan kos nya menjadi kantor.

Tahun 2013,

Amar ternyata masuk kuliah dan harapan saya untuk membuat dotsemarang terkendala karenanya. Amar adalah orang harapan saya termasuk Ismi untuk membangun dotsemarang. Rupanya gara-gara kuliah, Amar mulai tidak fokus dan bahkan meninggalkan pekerjaannya.

Saya pikir itu adalah wajar mengingat pertama kuliah. Namun tanpa disadari, penyakit inkonsistensinya tak kunjung baik. Ia tetap tak punya greget membangun dotsemarang dan malah jarang ke kantor. Saya sering marah kepadanya meski ia tahu kemarahan saya ada maksudnya.

Begitulah Amar, orang yang cukup berjasa untuk dotsemarang namun cukup melelahkan juga untuk saya. Jika harus memilih, saya lebih suka bekerja sendiri ketimbang mengurusi orang seperti Amar yang tak kunjung berubah. Bahkan tak pernah menyentuh meja manajemen sama sekali.

Kelebihannya dari Amar adalah cara pola berpikirnya yang penih pertimbangan. Tipenya adalah pemikir tapi sulit bertindak. Sering kali saya mempertimbangkan keputusan saya karenanya.

Begitulah Amar, bahkan sampai ia sendiri menjuluki dirinya penasehat. Semoga tulisan ini bukan untuk menjatuhkan tapi untuk memulai menuliskan sejarah bagi dotsemarang.

📝 Diperbarui tanggal 19 Juni 2023.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

☕ Cerita Juli: Memulai Misi Hemat Bersama Kopi Luwak Sachet

📌 Sekali Seumur Hidup: Menjaga Asa Menikah di Usia 40 Tahun