Postingan

Menampilkan postingan dengan label Rumah

Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

🌿 Menemukan Kedamaian di Antara Gunting Tanaman dan Sapu Halaman

Gambar
[ Artikel 91#, kategori rumah ] Bagi sebagian orang, Senin pagi mungkin menjadi awal dari perlombaan mingguan yang melelahkan. Namun bagi saya, ada sebuah rutinitas sederhana yang belakangan ini menjadi jangkar bagi kesehatan mental: bersih-bersih taman rumah. Aktivitas ini bukan sebuah proyek besar, melainkan rutinitas harian yang terjadwal santai antara jam 7 hingga 9 pagi. Durasinya cukup dua jam saja. Tentu saja jadwal ini fleksibel. Jika malam sebelumnya saya habis kelelahan setelah pulang bermain sepak bola, rutinitas ini sengaja saya liburkan demi mengistirahatkan badan. Begitu pula dengan hari Minggu, di mana waktu saya sepenuhnya beralih untuk menyusuri riuhnya suasana Car Free Day (CFD). Namun di luar hari-hari itu, dua jam di pagi hari bersama tanaman telah menjelma menjadi ruang kontemplasi yang sangat berharga. Ritual Menjaga Pikiran di Usia Menjelang Kepala Empat Harus diakui, menginjak usia yang hampir menyentuh 40 tahun dengan kondisi finansial yang masih pas-pasan, di...

Kapur Barus

Gambar
[ Artikel 90#, kategori rumah ] Sering kali, hal-hal kecil seperti butiran kapur barus hadir untuk mengingatkan kita tentang pentingnya sirkulasi udara dan kesegaran di dalam ruang personal. Menjaga suasana tetap nyaman adalah kunci untuk tetap produktif menulis di rumah. Bagaimana cara Anda menjaga 'aroma' semangat hari ini? Artikel terkait : 🚰 Mendadak Pompa Air Mati: Sebuah Ujian Kesabaran di Balik Dinding Rumah 🚗 Mudik Tahun 2026 📦 Babak Baru di Ruang Sempit 😩 Menguji Konsistensi: Ketika Rencana Berhadapan dengan Realita Lainnya

🚰 Mendadak Pompa Air Mati: Sebuah Ujian Kesabaran di Balik Dinding Rumah

Gambar
[ Artikel 89#, kategori rumah ] Awalnya saya mengira ini hanyalah dampak dari hujan deras yang mengguyur kemarin. Namun, setelah berhari-hari berlalu, suara dengung pompa yang biasanya setia mengisi kesunyian rumah mendadak hilang. Bahkan, si bungsu yang seminggu lalu mudik kini sudah kembali berada di rumah, namun mesin itu tetap membisu. Apa yang sebenarnya salah? Mesin pompa air yang sudah terpasang sejak pertama kali rumah ini berdiri tampaknya telah mencapai masa kedaluwarsanya. Ternyata bukan cuma ponsel yang punya siklus hidup terbatas sekitar lima tahunan; mesin pompa pun demikian. Saya sendiri sampai lupa sudah berapa lama umur mesin itu menemani perjalanan rumah ini sejak pertama kali saya tinggali. Ikhtiar Memanggil Tukang Langkah pertama yang saya ambil adalah memanggil kenalan yang sudah lama berprofesi sebagai tukang. Berbekal jam terbangnya, saya menaruh harapan besar beliau paham solusi masalah ini. Sempat ada titik terang saat si tukang mencoba mengutak-atik mesin, bah...

🚗 Mudik Tahun 2026

Gambar
[ Artikel 19#, kategori lebaran ] Tahun ini, keputusan saya masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya: menetap di Kota Semarang. Alasan ekonomi tetap menjadi faktor utama yang klasik, bahkan terasa kian berat dengan bayang-bayang beban finansial yang menghimpit. Di saat keluarga lain sibuk menyiapkan koper, saya justru tetap di sini, bergelut dengan rutinitas yang itu-itu saja. Sepekan menjelang Idulfitri, ritual pagi saya diisi dengan membersihkan taman. Tak ada hal istimewa yang dirasakan. Yang ada hanyalah percakapan batin yang penuh penyesalan—mempertanyakan mengapa di usia yang hampir menyentuh kepala empat, kemapanan seolah masih enggan menyapa. Andai kondisi keuangan mengizinkan, niat saya sebenarnya sederhana: pulang untuk berziarah ke makam almarhumah Ibu kandung. Namun, semesta berkata lain. Ketiadaan biaya membuat saya merasa dilabeli sebagai anak yang kurang berbakti karena tak mampu menjenguk peristirahatan terakhir beliau. Kabar di Sela Potong Rumput Berbeda dengan saya, ...

📦 Babak Baru di Ruang Sempit

Gambar
[ Artikel 87#, kategori rumah ] Mendadak saja, kesibukan terlihat di area belakang rumah. Barang-barang yang selama ini tertumpuk mulai dikeluarkan satu per satu. Awalnya saya tidak terlalu menghiraukan, sampai akhirnya sebuah kalimat mendarat dan menyadarkan saya: Kamar itu sedang disiapkan untuk saya tempati. Ya, saya harus pindah ke sana segera setelah proses pembersihan selesai. Perasaan saya seketika campur aduk. Ada rasa sesak yang sulit digambarkan, namun di sisi lain, ada tembok realitas yang membuat saya sulit untuk sekadar melayangkan protes. Memasuki tahun 2026, saya akhirnya resmi memulai babak baru di sebuah kamar yang ukurannya jauh lebih mungil dari sebelumnya, yakni 2 x 3 meter. Ruangan yang dulu sempat berfungsi sebagai gudang ini, kini bertransformasi menjadi ruang ekspresi utama saya saat berhadapan dengan layar komputer. Posisinya berada tepat di lantai bawah, bersisian dengan pintu belakang yang menjadi saksi bisu lalu lalang penghuni rumah. Kepindahan ini terasa b...

😩 Menguji Konsistensi: Ketika Rencana Berhadapan dengan Realita

Gambar
Konsistensi—sebuah kata sakti yang belakangan ini terasa begitu jauh. Terutama, dalam urusan aktivitas posting blog yang menjadi salah satu prioritas saya. Belakangan ini, konsistensi tersebut terasa sedikit terganggu. Gangguan ini bukan hanya disebabkan oleh faktor internal, seperti kebosanan atau burnout yang datang tiba-tiba. Justru, faktor eksternal turut serta memberikan tekanan. Jujur, terkadang rasanya ingin berteriak meluapkan kekesalan, namun saya memilih untuk menahan diri dan bersabar. Dulu, konsistensi adalah hal yang selalu saya agung-agungkan. Kini, ia seolah berbalik, membisikkan, "Sudah, dibawa santai saja." 🧺 Ritual Akhir Pekan yang Tersendat Ada satu isu konsistensi spesifik yang saya alami, dan ini sama sekali bukan karena diri sendiri: jadwal mencuci pakaian . Biasanya, saya memiliki ritual tetap: mengumpulkan semua pakaian kotor, dan menjadwalkan aktivitas mencuci tepat di akhir pekan. Tujuannya jelas, agar semua terkumpul dan waktu kerja optimal. Sete...

Mertua Datang, Rejeki Ngalir?

Gambar
[ Artikel 85#, kategori rumah ] Rumah kembali riuh rendah. Hari ini, Minggu, 17 Agustus, mertua bungsu datang berkunjung. Rasa rindu yang terpisah jarak akhirnya tersambung kembali, terutama antara mertua dan cucu-cucunya. Suasana hangat ini terasa istimewa, membawa kebahagiaan yang sulit diungkapkan. Sebagai salah satu penghuni rumah—sementara yang lain sudah memiliki keluarga dan rumah masing-masing—saya seperti menonton film drama di layar bioskop. Ada rasa senang bercampur haru menyaksikan kebersamaan mereka.  Di sudut hati, saya membayangkan suatu hari nanti bisa merasakan hal serupa: memiliki keluarga sendiri dan mertua yang penuh kasih. Rasa Hormat untuk Sang Mertua Mertua bungsu ini adalah sosok yang patut dihormati. Di usianya, ia masih sehat dan bugar, datang seorang diri untuk bertemu anak, menantu, dan cucu-cucunya.  Ketangguhan dan semangatnya menginspirasi. Saya teringat almarhumah ibu. Andai beliau masih ada, betapa bahagianya jika bisa dikunjungi seperti ini. K...

Pekerjaan Baru di Rumah

Gambar
[ Artikel 84#, kategori rumah ] Ada-ada saja yang terjadi di rumah akhir-akhir ini. Ketika kita ikut menikmati suasana, mau tak mau harus patuh pada aturan tak tertulis yang dinamakan "kedewasaan". Menolak? Bersiaplah menghadapi sanksi sosial yang kadang lebih pedih dari kata-kata. Setelah belasan tahun tinggal di Semarang, saya tak pernah menyangka arah angin akan berubah begitu drastis. Penghuni baru datang, mengakuisisi ruang yang dulu begitu akrab. Dari sekadar tamu, kini mereka menjadi tuan rumah.  Dinamika berubah, dan saya, yang terbiasa dengan harmoni yang sudah tercipta bersama orang-orang dekat, mendadak merasa seperti orang asing di rumah sendiri. Benar kata orang, perempuan memang sulit ditebak. Apalagi di era sekarang, ketika logika dan perasaan sering bertabrakan. Mungkin karena mereka makhluk perasa?  Atau karena saya, seorang Cancer yang sensitif, justru mudah terseret arus emosi mereka? Entah kenapa, saya merasa klop sekaligus kewalahan menghadapi gelomba...

Kehangatan yang Kembali, Sekilas namun Berarti

Gambar
[ Artikel 83#, kategori rumah ] Langit Semarang pagi ini cerah, sinarnya lembut menyapa. Tapi di sudut hati, ada rasa sepi yang merayap. Kehangatan rumah yang sejak awal Juni begitu hidup kini perlahan memudar. Keluarga kedua saya, “pemilik” rumah ini, telah kembali ke Samarinda.   Hari itu, Jumat, 13 Juni 2025 , suasana pagi terasa begitu haru. Si bungsu dan keluarga kecilnya tampak paling terpukul, meski mereka masih sempat mengantar hingga bandara. Sorot mata mereka penuh campuran rindu dan doa. Saya hanya bisa membayangkan betapa berat hati mereka melepas kepergian ini.   Sebenarnya, ada rencana awal untuk pulang lewat Yogyakarta. Si Bapak, dengan sifatnya yang tak ingin merepotkan, sempat ingin menyewa mobil sekali jalan ke Jogja. Untunglah, rencana itu urung terlaksana. Si bungsu, dengan kepiawaiannya, berhasil merayu sang “bos besar” untuk memilih opsi yang lebih aman.   Sebagai alternatif, ada opsi lama: saya yang mengantar mereka ke Jogja. Tap...

Rumah Kembali Berdenyut: Kisah Rindu dan Syukur di Libur Iduladha

Gambar
[ Artikel 82#, kategori rumah ] Setahun terasa panjang bagi sebuah rumah yang sepi. Namun, kali ini, dalam hangatnya libur Iduladha, keheningan itu pecah oleh gelak tawa dan cerita. Semarang kembali menyambut kedatangan pemiliknya, dan bersamanya, kenangan-kenangan indah dari setiap perayaan besar seolah menari di setiap sudut ruangan. Kebahagiaan ini tak hanya milik si bungsu dan keluarganya yang akhirnya dapat memeluk erat kedua orang tua. Saya, yang ikut merasakan kehangatan rumah ini, pun tak dapat menyembunyikan suka cita.  Mereka bukan sekadar keluarga, melainkan rumah kedua yang selalu terbuka. Sebuah pertanyaan seringkali muncul: bagaimana kelak saya dapat membalas limpahan kebaikan ini? Ketika hati dipenuhi kebahagiaan, semesta seolah ikut tersenyum. Bulan Juni ini terasa istimewa dengan rezeki yang mengalir deras. Mungkin benar adanya, kupu-kupu cantik yang beberapa hari lalu singgah di taman adalah pertanda baik, sebuah isyarat bahwa perjuangan hidup yang selama ini saya...

Akhirnya Mereka Mudik Juga

Gambar
[ Artikel 81#, kategori rumah ] Setelah beberapa tahun belakangan hanya merayakan Idulfitri di Kota Semarang, keluarga si bungsu akhirnya mudik juga ke Kota Samarinda. Sekarang, keluarga kecil tersebut datang dengan tambahan si kecil.  Jum'at pagi (28/3), saya mengantar mereka menuju bandara Semarang. Pemberitahuan mereka akan mudik sudah diberitahu satu hari sebelumnya. Sempat khawatir karena kebiasaan ngantar ke Jogja, kirain akan ke sana. Ternyata, bukan. Ngambil cuti Dulu alasan nggak sering mudik karena profesi si bungsu yang sulit mengambil waktu karena profesionya sebagai pelayan masyarakat alias Dokter. Ternyata tahun ini sudah bisa meluangkan waktu untuk balik. Itu adalah kebahagiaan yang luar biasa buat sang istri yang sudah rindu akan rumah karena kelamaan di Semarang. Lebih tenang Kepulangan mereka jadi keuntungan sendiri buat saya yang memutuskan masih tidak mudik. Lagian mau mudik, rumah yang dituju sudah tidak ada.  Ada banyak faktor yang membuat saya enggan pul...

Rezeki Tamu

Gambar
[ Artikel 80#, kategori rumah ] Rumah tampak rame minggu ini. Sebenarnya saya tidak peduli karena yang datang bukan tamu saya. Namun kedatangan mereka adalah berkah. Ada banyak makanan yang diberikan, ah senangnya. Jum'at malam (7/2), ruangan dalam rumah tampak hidup. Kamar yang biasanya kosong, kini ada penghuninya. Itu menyenangkan melihat rumah ini terlihat hidup. Meski sedikit cemas ketika berpapasan karena kami tidak saling mengenal. Makanan Kedatangan tamu si bungsu bukan saja mewarnai seisi rumah, tapi juga membawa rezeki yang tidak boleh terlewatkan. Saya menyukai kedatangan mereka yang membawa banyak buah tangan. Terutama dari Jogja. Bakpia Kukus yang saya pegang adalah salah satunya. Untuk orang yang akhir-akhir ini dianggap sangat kurus, oleh-oleh tersebut adalah rezeki. Sebuah kenikmatan yang tersaji tanpa perlu mengeluarkan seisi dompet digital. Bahkan, ada makanan lain yang turut keciptran yang saya dapatkan. Alhamdulillah, nikmat yang tidak bisa didustai kali ini. .....

Kebodohan Hari Ini, Lupa Matiin Air

Gambar
[ Artikel 79#, kategori rumah ] Saya mendapat pukulan berharga yang mungkin akan saya ingat sepanjang masa. Tentang bagaimana saya tidak sengaja lupa mematikan air yang biasa dinyalakan tiap dini hari. Jika diingat lagi, kata hati saya sebenarnya menyuruh mengecek sebenarnya. Tapi? Tempat penampungan air yang beberapa hari sekali saya isi dengan air PDAM mendadak airnya lumer ke luar saat dini hari tadi, Sabtu (14/12). Eh, seketika perasaan saya kacau dan menyalahkan diri sendiri. Ini memang bukan kejadian sekali dua kali, namun kali ini paling parah. Masalahnya jika ini benaran kelupaan, maka airnya nyala hampir 24 jam. Astaga..saya terus berusaha mencari pembenaran dan anehnya tutup air kok terbuka? Saya jarang sekali membukanya, kecuali ada petugas penghitung meter yang lewat. Dengarkan kata hati Saya masih menerka-nerka apakah benar air yang dinyalain dan tutup meteran terbuka karena ulah saya? Mengingat kondisinya kemarin hujan seharian dan saya tidak keluar kamar dini hari. M...

Tetangga Baru, Pasangan Muda

Gambar
[ Artikel 78#, kategori rumah ] Tidak lama penghuni lama pindah, akhirnya rumah yang disewakan di sebelah sudah ada penghuni baru lagi. Entah sudah berapa kali rumah tersebut berganti-ganti penghuni. Kebanyakan yang sewa hanya menyewa 1 tahun saja, makanya tiap tahun saya akan melihat wajah baru. Jika sebelumnya adalah keluarga besar, kali ini tetangganya adalah pasangan muda. Baru punya bayi dan sepertinya mereka sangat harmonis. Saya jadi iri melihatnya. Cobaan usia 30-an Melihat situasinya, saya seperti diberi gambaran besar bagaimana berumah tangga. Padahal tetangga lainnya juga rata-rata pasangan dengan beberapa anak yang lucu. Belum lagi, di rumah sendiri ada pasangan si bungsu yang juga baru punya bayi. Saya seperti tertampar kenyataan untuk segera menyusul seperti mereka. Sudah dilatih dengan keadaan, melihat gambaran besar tapi kok masih adem-adem waye. Saya juga inginnya segera menikah, apalagi dengan umur yang semakin kepala 40-an. Namun semua sekarang serba salah. Mau n...

Kualat Mertua ?

Gambar
[ Artikel 77#, kategori rumah ] Tumpukan daun yang biasanya dibuang rutin, mendadak kali ini masih pada tempatnya. Perasaan tidak enak dilihat, apalagi sekitar ada tetangga dan itu sangat menghantui. Namun saya juga bingung sendiri semenjak akses keuangan rumah dihentikan. Saya pasrah dengan keadaan. Saya ingin memaksakan diri sebenarnya dengan merogoh kocek sendiri. Namun kata hati dalam pikiran seakan terus menolak karena keuangan masih tidak baik-baik saja. Makan saja masih nasi tempe, sok-sokan mau jadi pahlawan kesiangan. Dulu, mungkin saya berani menalangi dulu karena keuangan rumah masih rutin sehingga saya akan baik-baik saja meski terlambat dikirim. Sekarang, saya tak berani bertaruh untuk itu. Ada tagihan pay later yang harus saya bayar tiap awal bulan. Kepikiran Saya memikirkan sampah daun yang tiap pagi saya bersihin, kecuali malamnya futsal maka saya tidak bersih-bersih. Mengapa semua jadi berubah gini. Jika bicara keuangan rumah, tentu saya memahami keadaannya karena pem...

Menghilang

Gambar
[ Artikel 76#, kategori rumah ] Ada kegembiraan yang muncul meski itu hal sederhana sebenarnya. Sepertinya akan sedikit menghemat pengeluaran bulan ini. Saya membiarkannya beberapa hari, dan ini sudah waktunya beras yang terlihat beberapa hari di sudut rumah, akhirnya saya masukkan juga ke tempat biasanya. Fiuh! Menghela nafas dengan senyum sumringah. Saya tidak sabar untuk menariknya yang biasanya berbunyi lalu muncul beras sebanyak segenggam di tangan. Biasanya saya menariknya 2 kali, lumayan bisa buat dimasak dan dimakan 1 hari. Menghilang Namun hanya selang 1 hari, kotak berkepala merah itu menghilang dari letaknya yang berada di bawah alat memasak. Apa yang terjadi? Saya kemudian mentertawakan diri saya sendiri bahwa saya mendapatkan perlakuan seperti ini. Namun saya juga tidak bisa berbuat apa-apa karena itu juga bukan hak milik saya secara pribadi. Lawong bukan saya yang membeli. Kotak merah besar itu menghilang selama sepekan. Kemudian muncul lagi kemudian. Saya tersadar dengan...

Hujan Datang Malam Hari dan Masalah yang Turut Menghampiri: Sebagian Listrik Padam

Gambar
[ Artikel 75#, kategori rumah ] Hujan mendadak turun malam hari (22/9) mengademkan suasana kamar yang begitu gerah karena sudah cukup lama kemarau melanda. Saya yang sudah tertidur ikut terbangun mendengarnya. Ada perasaan lega karena rumput di pekarangan rumah yang mengering akhirnya mendapat air yang berlimpah. Hujannya cukup deras terasa dari suaranya yang terdengar dari dalam kamar. Ah, tapi saya sudah mengantuk berat untuk menikmatinya. Biarkan tubuh saja yang merasakannya. Listrik sebagian rumah mati Akhirnya dini hari tiba, saya terbangun seperti biasa. Hujan semalam masih terdengar rintik-rintik. Saat menuju dapur dan menyalakan lampu, eh nggak nyala. Waduh! Oh ya, saya lupa hujan cukup deras semalam sepertinya penyebabnya. Dan saya juga lupa jika hujan cukup deras, sebagian listrik di rumah pasti kena imbas. Ini masalah bertahun-tahun yang tidak terpecahkan hingga sekarang. Saya langsung mengecek air kran. Dampak sebagian listrik yang padam di rumah biasanya berimbas dengan po...

September 2024, Mertua Pulang

Gambar
[ Artikel 74#, kategori rumah ] Dapur kembali sunyi yang sebulan terakhir begitu sibuk. Suara-suara alat memasak hingga gelak tawa saat beliau sedang menelpon juga sudah senyap tak terdengar. Si bungsu dan keluarganya sekarang akan lebih bekerja keras lagi mengurus buah hatinya yang baru lahir . Mertuanya sudah pulang. Saya tidak sempat bersalaman dan bahkan mengucapkan terima kasih saat beliau pergi ke bandara, Sabtu subuh (7/9). Padahal keberangkatannya saat subuh di mana saya sudah beraktivitas malah nggak ketemu. Saya juga bingung mengapa demikian meski tinggal satu atap. Apakah buru-buru ngejar pesawat? Atau karena saya yang kurang ajar sebagai yang muda seharusnya menyapa duluan? Yah, saya juga nggak ngerti. Pulang saja saya tidak tahu. Diberitahu saja tidak, bagaimana saya mikir akan mengucapkan terima kasih. Yasudah lah, terkadang itu sering terjadi. Apalagi saya bukan anak beliau atau menantunya. Lebih baik tidak tahu sama sekali ketimbang sok tahu.  Terima kasih buat beli...

Sebuah Tanda, Masa Depan yang Semakin Menderita

Gambar
[ Artikel 78#, kategori motivasi ] Ini bukan cerita tentang Negeri tercinta. Melainkan tentang perjalanan saya yang diprediksi akan tidak baik-baik saja mulai sekarang. Terutama sektor ekonomi. Berat bener bahasanya. Bilang aja isi dompet. Sok-sokan. Hehe.. biar keren aja saat dibaca . Sudah-sudah, saya mau serius sedikit. Ini menyangkut keberlangsungan hidup saya yang hanya modal di depan laptop.  Pembayaran bulanan macet Saya tidak menyangka hari itu akan tiba, di mana salah satu akses pemasukan akan terganggu. Meski tidak besar, tapi setidaknya cukup bisa beli paket internet 100 GB . Saya pernah bercerita ke beberapa orang bagaimana saya dapat hidup menjadi bloger meski dengan penghasilan murni di bawah 15 ribu tiap bulan lewat adsense.  Itu karena saya di Kota Semarang tinggal bersama kerabat. Keluarga yang membawa saya dari tahun 20007 hijrah dari Samarinda hingga sekarang tinggal di Kota Semarang. Karena ditampung, tentu saya tidak hanya tinggal makan dan tidur. Beberapa...