Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang.

Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang.

Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Namun, saya tetap memilih untuk menerbitkan artikel ini dengan penanggalan waktu yang sebenarnya, sebagai penanda sebuah awal yang baru.

Realistis: Menakar Diri Tanpa Topeng di Usia 40

Dari segi fisik, sebenarnya tidak banyak perubahan yang mencolok. Saya merasa beruntung memiliki wajah yang sering dikira awet muda dan bentuk fisik yang sederhana. Rutinitas olahraga yang konsisten selama ini sangat membantu mempertahankan energi dan sisi muda tersebut.

Namun, bicara soal realitas hidup, ada hal yang belum lengkap. Hubungan asmara yang ideal—memiliki pasangan hidup seperti pria usia 40 tahun pada umumnya—memang belum saya dapatkan. Menariknya, status single ini di sisi lain memberikan ketenangan tersendiri di dalam kepala. Tidak ada beban untuk memikul kebahagiaan orang lain selain diri sendiri. Tidak ada keharusan berjuang mengais rezeki yang mengatasnamakan tuntutan kasih sayang.

Ini adalah kenyataan yang mirip pisau bermata dua. Ada rasa bahagia dan bebas, tetapi di sudut lain, ruang untuk tanggung jawab sebagai kepala keluarga itu masih kosong. Apakah saya harus bersedih di posisi ini? Rasanya tidak juga.

Elastis: Harapan yang Melar di Tengah Keterbatasan Asmara dan Perjuangan

Jika hari ini ada yang bertanya, "Apakah saya masih ingin menikah dan memiliki keluarga kecil?" Tentu saja, jawaban saya adalah iya. Sebagai makhluk sosial, saya tidak akan pernah memutus harapan alami tersebut. Hanya saja, sekarang saya menempatkan diri seperti gelas kosong yang tahu diri; yang sadar betul berapa kadar air yang tepat untuk diisi ke dalamnya.

Di sinilah formula elastis itu bekerja. Saya tidak hanya melihat diri secara realistis, tetapi juga fleksibel. Jika ada yang tertarik dan bersedia berjalan beriringan, saya terbuka selama jalurnya searah. Pilihannya tidak muluk-muluk. Mari duduk bersama, bicarakan secara terbuka, dan dengarkan apa pendapatmu tentang saya. Jika frekuensinya sama, kita lanjut.

Di usia 40 tahun ini, saya sadar sedang menjalani hidup di atas kaki sendiri. Tanpa bantuan besar dari keluarga, atau sokongan finansial yang kuat seperti cerita-cerita di film pendek. Realitasnya, saya hanya menyisakan Bapak, dan perjuangan mandiri ini harus terus berputar.

Dari sisi pekerjaan pun, tantangannya tidak kalah berat meskipun ini adalah bidang yang sangat saya cintai. Bagian ini tentu saja berpotensi memberikan pukulan telak apabila suatu saat berhadapan dengan pertanyaan klasik calon mertua: "Mau diberi makan apa anak saya ke depan? Cinta?" Sebuah pertanyaan realistis yang harus dijawab dengan sikap yang elastis.

Ujian Sang Karet Ban: Menghadapi Kerasnya Kehidupan

Garis awal perjalanan ini sudah resmi dimulai pada bulan Juli. Dengan mengusung misi PRALASTIS (Pria Realistis & Elastis) sebagai patokan langkah, saya berharap perjalanannya akan menjadi sebuah proses yang menyenangkan. Semoga langkah ini menuntun saya menemukan apa yang selama ini diidam-idamkan.

Perjalanan ke depan bukan hanya soal menemukan belahan jiwa atau urusan asmara semata. Kehidupan sehari-hari yang berliku dan penuh dinamika tentu akan menjadi ruang ujiannya tersendiri.

Semoga saja filosofi PRALASTIS ini memiliki umur yang panjang, tidak mudah tergoncang saat menghantam kerasnya jalanan kehidupan, dan pada akhirnya, berhasil menemukan ia yang mau bersanding bersama hingga akhir.

Terima kasih banyak untuk semua ucapan, doa, dan perhatian yang telah dikirimkan. Perjalanan baru resmi dimulai.

Artikel terkait:

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Harga Kopi Sachet Nescafe Classic Naik ?