Catatan

Pria Tidak Berdaya

Gambar
Selamat bertambah usia untukku. Di tengah perayaan sederhana yang kuhidupkan lewat tulisan ini, aku memilih tema “Pria Tidak Berdaya” sebagai cermin perjalananku. Bukan untuk meratapi nasib, tapi untuk memeluk kejujuran—tentang diriku, tentang hidup, dan tentang harapan yang masih kugenggam erat meski kadang terasa rapuh. Dalam bahasa Indonesia, “berdaya” berarti punya kekuatan, kemampuan, atau kemauan untuk menghadapi hidup—entah itu menyelesaikan masalah, mengejar mimpi, atau sekadar bangun dari tempat tidur dengan semangat.  Tapi di usia ini, aku merasa berada di sisi sebaliknya: tidak berdaya. Bukan karena aku menyerah, tapi karena hidup terasa seperti permainan yang aturannya terus berubah, dan aku sering kehabisan napas untuk mengejar. Hampa di Tengah Keramaian Di usia 39, aku melihat banyak pria seusia ku hidup dalam ritme yang sepertinya lebih “hidup”. Mereka punya pekerjaan yang memberi kepastian—gaji bulanan yang datang tanpa drama, hanya perlu mengatur apa yang masuk ke ...

⚽ Satu Tim, Dua Generasi, Satu Pelaminan: Cerita Kondangan "Jersey" ala Sanmaru

[Artikel 26#, kategori mini soccer] Sabtu malam Minggu, 20 Juni lalu, menjadi momen yang cukup berbeda buat saya. Bukan sekadar menghadiri undangan pernikahan biasa, tapi ini adalah hajatan besar dari salah satu keluarga komunitas mini soccer kami, Sanmaru FC.

Undangan spesial ini datang dari Om Kris, rekan satu tim kami. Uniknya, yang berdiri di pelaminan malam itu sebagai mempelai pria adalah Ariel, yang tak lain adalah anak kandung Om Kris sendiri. Ya, di Sanmaru, bapak dan anak memang kompak berada di satu lapangan hijau yang sama. Dan malam itu, lapangan hijau seolah sengaja dipindahkan ke atas panggung megah berlatar putih minimalis dengan aksen kayu dan taburan bunga merah yang cantik.

Misi "Perbaikan Gizi" yang Terancam

Sebelum cerita soal keseruan di pelaminan, ada satu pengakuan dosa yang harus saya tulis di sini. Beberapa hari sebelum acara, tepatnya pada hari Kamis malam yang merupakan jadwal rutin Sanmaru bermain, saya terpaksa absen. Alasannya klasik tapi menyiksa: diare. Perut saya sukses dibuat "mules" tak karuan.

Eh, begitu hari Sabtu malam tiba, saya mendadak nongol dengan segar bugar di lokasi acara. Saya bisa menangkap tatapan tak percaya sekaligus penuh seloroh dari rekan-rekan setim. Mungkin dalam hati mereka membatin, "Katanya sakit sampai absen main, kok begitu ada acara makan-makan mewah langsung paling depan? Awas, ntar mencret lagi!" haha...

Tapi bagi saya, datang ke acara ini mengusung misi ganda. Pertama, tentu saja bentuk rasa hormat kepada keluarga Om Kris yang sudah mengundang. Kedua, sebagai momen kumpul seru bareng teman-teman bola di luar lapangan. Dan yang tak kalah penting: menikmati jamuan mewah yang jarang-jarang bisa dinikmati setiap hari!

Namun, realitas tak seindah bayangan. Sebelum sampai di lokasi, saya sudah menyusun strategi untuk memilah-milah makanan yang aman buat perut yang baru saja sembuh ini. Ekspektasi saya, acaranya akan menggunakan sistem prasmanan di mana saya bisa mengambil porsi kecil atau memilih menu yang "ramah lambung".

Ternyata zonk! Begitu masuk, format jamuannya adalah set menu per meja. Satu meja bundar diisi sekitar 8 hingga 10 orang, dan menu makanannya keluar bergiliran satu per satu jenis di tiap waktu. Mau tidak mau, makanan yang datang harus dibagi rata. Tidak bisa nambah sepuasnya, dan celakanya buat saya: tidak ada pilihan menu alternatif! Alhasil, strategi "pilih-pilih makanan" yang saya rancang dari rumah gagal total. Perut saya dipaksa pasrah menerima apa yang disajikan. Untungnya, semua aman terkendali hingga acara usai.

Selebrasi Jersey di Atas Pelaminan

Puncak dari segala kehebohan malam itu terjadi saat sesi foto bersama. Jauh-jauh hari di group chat, rekan-rekan Sanmaru sudah sepakat untuk membuat aksi gila: kondangan dan naik ke pelaminan memakai jersey tim!

Saat rombongan pria berjersey biru dongker bertuliskan "SANMARU" ini berjalan beriringan, suasana langsung riuh. Begitu kami naik ke panggung, aura formal pernikahan seketika berubah menjadi sehangat ruang ganti pemain usai memenangkan pertandingan.

Kekompakan ini semakin lengkap saat Ariel (sang mempelai pria) memamerkan jersey biru dengan nomor punggung 10 bertuliskan namanya, sementara Om Kris memegang jersey bernomor 7. Rasanya seperti momen peresmian transfer pemain bintang baru, tapi kali ini Ariel sukses di-transfer ke kehidupan baru bersama Mbak Peni, sang mempelai wanita.

Melihat tawa lepas di atas panggung, saya tersadar bahwa Sanmaru bukan sekadar komunitas tempat berkeringat mencari kebugaran. Ini adalah ruang pertemanan lintas generasi yang hangat.

Selamat menempuh hidup baru untuk Ariel dan Fenny! Selamat juga untuk Om Kris yang sukses menggelar hajatan seru ini. Tetap kompak di lapangan, dan semoga Ariel-Peni selalu kompak dalam mengarungi bahtera rumah tangga.

📝 Selain dari Sanmaru, ada juga dari Guambo yang juga turut hadir.

Artikel terkait:

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Harga Kopi Sachet Nescafe Classic Naik ?