Pria Tidak Berdaya
[Artikel 165#, kategori catatan] Setiap kali mengetik kata "Halo" di awal bulan, selalu ada rasa magis yang hadir. Seperti membuka lembaran putih baru yang masih bersih. Namun, sebelum benar-benar mengayuh pedal di bulan Juli ini, saya rasa saya perlu duduk sejenak di keheningan dini hari, menarik napas dalam-dalam, dan melihat kembali apa yang ditinggalkan oleh Juni.
Jujur saja, Juni kemarin rasanya seperti naik roller coaster tanpa sabuk pengaman. Naik-turunnya begitu cepat, menguras emosi, fisik, dan isi dompet secara bergantian. Baru saja membuka bulan dengan terkapar empat hari karena diare, hari kelima saya sudah harus memaksakan diri datang ke pernikahan teman setim bola. Sulit menolak undangan yang datang dari jauh-jauh hari, meski tubuh saat itu sebenarnya masih sibuk berkompromi dengan rasa lemas.
Setelah semua tampak membaik, saya sempat bersorak dalam hati. Akhirnya bisa comeback di lapangan hijau. Bagi saya, bermain mini soccer sudah seperti rutinitas menulis blog—ia adalah ruang rekreasi sekaligus ruang waras di tengah penatnya hari. Tapi rupanya, lapangan sore itu punya kejutan lain.
Satu benturan, dan gigi depan saya copot.
Di titik itu, mental saya rasanya ambruk. Kepercayaan diri merosot ke titik nadir. Lucu ya, bagaimana satu bagian kecil dari tubuh bisa membuat seseorang mendadak lesu dan enggan menatap cermin. Pikiran saya langsung melompat ke urusan finansial. Memperbaiki gigi jelas butuh biaya yang tidak sedikit. Jika ditahan, bagaimana saya harus bicara dengan orang lain atau menghadiri undangan acara komunitas ke depannya? Tapi jika disegerakan, tabungan sedang tidak ramah, bahkan tagihan pinjol yang berharap bisa ditambal bulan ini tampaknya harus rela antre lagi.
Namun, di balik drama yang menguras energi itu, Juni juga menunjukkan sisi baiknya. Hidup tidak membiarkan saya jatuh terlalu lama. Uluran tangan justru datang dari tempat yang tidak disangka: rekan-rekan satu tim bola. Meski nilainya mungkin tidak menutup seluruh biaya, perhatian dan patungan dari mereka setidaknya memberi saya ruang untuk bernapas. Menambal sedikit retak yang ada di kepala.
Dan kejutan Juni tidak berhenti di situ. Di saat saya sedang pusing memikirkan proyeksi keuangan, ASUS Indonesia mendadak mengumumkan acara di Kota Semarang. Setelah sempat absen di tahun 2025 lalu, kedatangan mereka kali ini seperti membawa angin segar. Bagi seorang blogger, kehadiran brand besar seperti ini bukan cuma soal menghadiri peluncuran teknologi baru, melainkan pintu peluang kerja sama—sebuah harapan akan adanya proyek ulasan atau promosi media sosial yang bisa menjadi penyambung napas finansial.
Juni benar-benar sebuah dilema yang komplit. Senang, lalu sakit. Comeback ke lapangan, lalu kena mental. Dapat peluang dari ASUS, tapi di saat yang sama harus merelakannya untuk biaya pemasangan gigi. Uang yang diharapkan bisa menutup lubang lain, terpaksa bergeser rutenya.
Dan kini, tibalah saya di bulan Juli. Bulan yang kali ini terasa jauh lebih berat bobotnya karena secara resmi saya menandai langkah baru: memasuki usia 40 tahun. Kepala empat. Sebuah angka sakral yang biasanya dilekati dengan begitu banyak ekspektasi luar biasa bagi seorang pria.
Kalau kilas balik ke tulisan "Halo Juli" tahun lalu, saya sempat berujar punya target untuk pindah dari tempat tinggal sekarang—tempat di mana saya diberi tumpangan oleh keluarga selama hidup di Kota Semarang. Namun, Juli 2026 ini datang dengan realita yang berbeda. Target itu tampaknya harus urung terealisasi. Faktanya, tagihan pinjol justru semakin membengkak. Impian untuk bebas finansial masih terasa sangat sulit dan jauh dari jangkauan jika hanya mengandalkan ketukan jari di atas kibor blog.
Apakah saya kecewa? Tentu ada rasanya. Tapi di usia sekarang, saya belajar bahwa mengakui kondisi dengan ksatria jauh lebih menyelamatkan waras daripada terus-menerus memelihara gengsi.
Meski dibenturkan dengan realita finansial dan kesehatan yang ribet, bertambahnya usia tidak lantas membuat saya berhenti menyematkan harapan. Di lembaran baru Juli ini, saya ingin bertualang di jalan yang baru—meski secara fisik, saya sebenarnya tidak kemana-mana juga. Petualangan itu ada di dalam isi kepala dan bagaimana saya merespons hidup.
Di sela-sela doa yang saya rapalkan, ada satu keinginan yang tulus dari lubuk hati terdalam. Sekali seumur hidup ini, saya ingin sekali bisa menikah, memiliki pasangan yang menemani perjalanan, dan membangun rumah tangga bersama.
Selain itu, impian memiliki rumah sendiri pun tetap menyala. Akhirnya ini saya sering kali kedapatan asyik menyaksikan video-video pendek tentang campervan—mobil yang dimodifikasi sedemikian rupa menjadi rumah tinggal yang bisa berjalan. Rasanya menyenangkan sekali melihat konsep hidup sesederhana dan sebebas itu. Walau saya tahu, mewujudkannya butuh biaya yang sangat besar dan mungkin belum akan terjadi dalam waktu dekat, imajinasi kecil itu setidaknya memberi warna tersendiri di tengah penatnya rutinitas keseharian.
Juli 2026 akhirnya menjadi langkah baru bagi seorang pria yang mencoba untuk tetap hidup normal di tengah segala keterbatasan. Saya tidak meminta bulan ini berjalan tanpa kerikil, karena itu terlalu utopis.
Harapan saya di bulan kelahiran ini sebenarnya sangat sederhana: saya ingin hidup tenang. Saya ingin bisa menjalani rutinitas dengan damai, tetap bersepeda mencari keringat, bermain mini soccer tanpa trauma, konsisten menulis, dan yang terpenting—tetap bertahan dan berkarya di Kota Semarang, kota yang telah merekam banyak jatuh bangunnya hidup saya.
Fondasi ketahanan sudah diuji habis-habisan sepanjang Juni kemarin. Kini saatnya sepasang kaki ini kembali melangkah dengan lebih mantap, lebih siap, dan tentu saja—dengan senyuman yang semoga bisa segera kembali utuh.
Selamat datang, Juli. Mari berjalan (dan mengayuh) lagi.
📝 Gambar by instagram @kis_grovas
Artikel terkait :
Komentar
Posting Komentar