Postingan

Menampilkan postingan dari 2026

Catatan

Pria Tidak Berdaya

Gambar
Selamat bertambah usia untukku. Di tengah perayaan sederhana yang kuhidupkan lewat tulisan ini, aku memilih tema “Pria Tidak Berdaya” sebagai cermin perjalananku. Bukan untuk meratapi nasib, tapi untuk memeluk kejujuran—tentang diriku, tentang hidup, dan tentang harapan yang masih kugenggam erat meski kadang terasa rapuh. Dalam bahasa Indonesia, “berdaya” berarti punya kekuatan, kemampuan, atau kemauan untuk menghadapi hidup—entah itu menyelesaikan masalah, mengejar mimpi, atau sekadar bangun dari tempat tidur dengan semangat.  Tapi di usia ini, aku merasa berada di sisi sebaliknya: tidak berdaya. Bukan karena aku menyerah, tapi karena hidup terasa seperti permainan yang aturannya terus berubah, dan aku sering kehabisan napas untuk mengejar. Hampa di Tengah Keramaian Di usia 39, aku melihat banyak pria seusia ku hidup dalam ritme yang sepertinya lebih “hidup”. Mereka punya pekerjaan yang memberi kepastian—gaji bulanan yang datang tanpa drama, hanya perlu mengatur apa yang masuk ke ...

🏟️ Pengalaman Pertama Kali Main di Stadion Citarum Semarang

Gambar
[ Artikel 68#, kategori sepakbola ] Akhirnya, stadion sepak bola legendaris yang berada di kawasan Bugangan ini bisa saya jajal juga. Kesempatan ini datang setelah Sanmaru FC mengalihkan jadwal mainnya ke Stadion Citarum pada Kamis malam, 14 Mei 2026 kemarin. Yang biasanya cuma sekadar saya lewati saat bersepeda pagi, kini saya benar-benar bisa merasakan atmosfer langsung di dalam lapangannya. Namun, apakah ekspektasinya sesuai bayangan? Saya sangat menyambut momentum ketika diberi kesempatan merumput di lapangan bola yang menjadi saksi bisu perjalanan tim PSIS Semarang ini. Maklum, biaya sewa lapangan bertaraf standar FIFA seperti ini tentu tidak murah untuk ukuran komunitas. Kekhawatiran Sebelum Bertanding Di tengah semangat yang membara, terselip sebuah kekhawatiran besar di kepala saya. Sebagai penjaga gawang, saya sangat cemas jika nanti berdiri di bawah mistar dan kebobolan oleh bola lob atau tendangan lambung. Maklum, memori bermain di lapangan sepak bola ukuran normal sebelumn...

Kapur Barus

Gambar
[ Artikel 90#, kategori rumah ] Sering kali, hal-hal kecil seperti butiran kapur barus hadir untuk mengingatkan kita tentang pentingnya sirkulasi udara dan kesegaran di dalam ruang personal. Menjaga suasana tetap nyaman adalah kunci untuk tetap produktif menulis di rumah. Bagaimana cara Anda menjaga 'aroma' semangat hari ini? Artikel terkait : 🚰 Mendadak Pompa Air Mati: Sebuah Ujian Kesabaran di Balik Dinding Rumah 🚗 Mudik Tahun 2026 📦 Babak Baru di Ruang Sempit 😩 Menguji Konsistensi: Ketika Rencana Berhadapan dengan Realita Lainnya

🫘 Seni Bertahan Hidup dengan Tempe: Cara Mengatur Anggaran Dapur

Gambar
[ Artikel 13#, seni bertahan hidup ] Mungkin saya hanya sedang bosan dengan sayur pare. Namun jika ditelisik lebih dalam, ini sebenarnya adalah bagian dari manajemen keuangan atau budgeting mandiri. Membeli pare di warung makan langganan rupanya hanya mampu bertahan untuk satu pekan. Berbeda ceritanya dengan tempe, yang bisa diandalkan hingga lebih dari seminggu, meski anggaran yang dikeluarkan kurang lebih sama. Sudah beberapa bulan lamanya saya tidak menyentuh tempe. Seingat saya, terakhir kali menu ini ada di piring adalah pada bulan Januari lalu. Hingga akhirnya di bulan Mei ini, saya kembali memutuskan untuk membelinya di pasar dekat rumah. Durasi yang Lebih Lama untuk Menghemat Pengeluaran Semenjak menerapkan filosofi kesederhanaan dalam keseharian, seni bertahan hidup yang saya jalani memang kerap berganti-ganti pola. Khususnya dalam menentukan menu pendamping nasi. Sebelum kembali ke tempe, saya sempat mencoba bereksperimen dengan keju dan kecap. Sayangnya, kombinasi tersebut ...

💔 Warteg Andalan Tutup! Cerita Sayur Pare dan Filosofi Bertahan Hidup

Gambar
[Artikel 8#, kategori tempat] Semenjak jatuh cinta dengan sayur pare , saya semakin intens datang ke warteg dekat rumah. Warteg ini punya tempat tersendiri di hati, bukan cuma karena rasanya yang cocok di lidah, tapi juga kebaikannya yang kadang memberi porsi lebih meskipun saya hanya membeli lima ribu rupiah. Namun hari ini, kejutan kurang menyenangkan datang. Di depan bangunannya, sudah terpampang spanduk besar bertuliskan: DIJUAL . What?! Saya tidak pernah membayangkan jika warteg pun memiliki masa kedaluwarsa seperti bisnis modern lainnya. Mini market tutup, kedai kopi estetik gulung tikar, atau rumah makan besar yang bangkrut sudah biasa saya lihat dan amati dalam dinamika kota. Tapi warteg? Rasanya jarang sekali. Tidak ada jawaban yang pasti mengenai alasan penutupannya, apalagi bangunan sederhana tersebut berdiri strategis di pinggir jalan raya. Mungkin harga sewa lahannya naik gila-gilaan, atau bisa jadi sang pemilik memutuskan pensiun dan memilih pulang kampung menikmati masa ...

Halo, Mei 2026

Gambar
[ Artikel 163#, kategori catatan ] Langit kota di awal bulan ini tampak begitu cerah, seolah memancarkan energi baru yang membawa harapan sekaligus tantangan yang tidak biasa. Pagi ini, kayuhan pedal sepeda membawa saya membelah jalanan menuju lapangan hijau. Ada antusiasme yang membuncah, sebuah awal yang saya harap menjadi pertanda baik untuk melampaui bulan ini dengan pencapaian yang lebih bermakna. Langkah di bulan Mei ini sebenarnya sudah dimulai sejak pergantian kalender dari April lalu. Menghabiskan waktu bersama tim sepak bola langganan di hari libur menjadi momen yang sangat saya syukuri. Kebetulan, peringatan Hari Buruh pada 1 Mei memberikan ruang untuk sejenak melepas penat dan mempererat kebersamaan di lapangan. Geliat Hari Jadi Kota Semarang Mei selalu memiliki tempat istimewa, terutama bagi kota yang saya tinggali saat ini. Suasana kota terasa lebih hidup menyambut puncak perayaan hari jadi pada tanggal 2 Mei. Salah satu agenda yang paling dinanti setiap tahunnya adalah S...

Sulitnya Sekarang Konsisten Posting 3 Kali Sehari

Gambar
[ Artikel 55#, kategori blog ] Akhirnya memaksakan menulis keluh kesah ini secara langsung bahwa saya memang benar-benar kesulitan menulis 3 postingan dalam sehari. Padahal beberapa tahun sebelumnya, bisa dilakukan. Apa yang sebenarnya terjadi? Saya ingin ngubah konsep nulis blog ke depannya, terutama blog pribadi ini. Saya ingin menjadikannya sebagai media sosial agar bisa menjaga konsistensi menulis di sini. Namun akibatnya, tulisan saya akan lebih pendek dan kurang berbobot atau kurang mendalam. Saya memilih ini karena pikiran saya sudah terlalu banyak tersimpan ide-ide yang harus dikeluarkan. Saat menulis halaman ini, saya sudah menulis 3 artikel. Yang utama tentu blog dotsemarang, kemudian kofindo dan terakhir tulisan ini. Ternyata bisa. 😋 Yaudahlah, pokoknya ke depannya saya sudah sulit posting 3 artikel sekaligus. Untuk blog pribadi, akan saya usahakan bisa juga setiap hari seperti blog dotsemarang. Makasih. Artikel terkait : Target 3 Kali Sehari Posting Blog Tembu 8 ribu views...

🧀 Strategi Bertahan Hidup dengan Keju dan Kecap

Gambar
[ Artikel 12#, seni bertahan hidup ] Pulang selepas meliput kemeriahan Pawai Ogoh-ogoh pada Minggu malam (26/4), saya memutuskan menepi sejenak di sebuah minimarket di kawasan Jolotundo. Ada sebuah misi sederhana yang ingin saya tunaikan malam itu: menghidupkan kembali strategi lama untuk bertahan hidup lewat kombinasi keju dan kecap. Total belanjaan kali ini menyentuh angka 19 ribu rupiah. Pilihan kecap jatuh pada merek Ikan Lele. Menariknya, jika biasanya saya hanya menjumpai merek ini dalam kemasan sachet di warung-warung, kali ini saya menemukan versi botolannya di rak minimarket. Sementara untuk keju, saya tidak memiliki keterikatan pada merek tertentu. Prinsip saya sederhana: mata akan langsung tertuju pada label harga yang paling ekonomis. Dan pilihan malam itu jatuh pada Prochiz Gold Cheddar. Ambisi Durasi Konsumsi Alasan utama saya beralih ke stok keju dan kecap sebenarnya berkaitan dengan durasi. Saya selalu punya ambisi agar lauk teman nasi bisa bertahan lebih lama di dapur...

🌧️ Kabar Duka di Balik Rintik Hujan April

Gambar
[ Artikel 32#, kategori keluarga ] Hujan mengguyur Kota Semarang seharian penuh hari ini, Rabu (22/4). Bagi sebagian orang, rintik air yang jatuh mungkin terasa menenangkan, namun bagi saya, ada trauma kecil yang menyelinap setiap kali langit mulai mendung. Benar saja, hujan kali ini kembali membawa pesan yang selama ini paling saya hindari: kabar duka. Suara dering telepon yang belakangan ini sering membuat saya waswas tiba-tiba memecah keheningan. Di layar ponsel, terpampang nama Bapak. Begitu tombol terima saya tekan, terdengar suara yang sangat familiar sedang bertanya tentang cara melakukan panggilan video. Tak lama, sambungan berganti menjadi video call . Melihat wajah Bapak dengan peci putihnya, perasaan saya mulai tidak enak. Jarang sekali beliau meminta panggilan video jika tidak ada hal yang sangat mendesak. Benar saja, dengan nada suara yang berusaha tenang, Bapak mengabarkan bahwa adik bungsunya—paman saya—telah meninggal dunia. Kalimat Innalillahi meluncur begitu saja. Sa...

🚲 Pengalaman Pertama Ban Sepeda Bocor Tengah Malam

Gambar
[ Artikel 34#, kategori sepeda ] Malam itu, Kamis malam (2/4) , saya hanya diberi dua pilihan untuk menyikapi situasi yang sedang terjadi: menertawakan diri sendiri atau marah sejadi-jadinya, meski hanya di dalam hati. Pengalaman belasan tahun bersepeda ternyata belum cukup menghindarkan saya dari momen ikonik ini: pertama kalinya mengalami ban bocor di tengah sunyinya malam. Membuka awal April, agenda di lapangan rumput sudah dimulai bersama Sanmaru FC. Rasa percaya diri membumbung tinggi, apalagi durasi bermain kali ini ditambah satu jam lebih lama—dari biasanya dua jam menjadi tiga jam. Semesta seolah merestui kebahagiaan saya saat itu, setidaknya sampai peluit panjang ditiupkan. Kejutan Tak Terduga Saat Pulang   Segalanya berubah drastis ketika saya hendak beranjak pulang. Saat menghampiri sepeda, ban belakang tampak kempes sempurna. Padahal, pagi harinya sudah saya pompa hingga maksimal. Satu-satunya alasan logis yang tersisa di kepala saya saat itu hanya satu: fix , ban ini b...

📅 Halo, April 2026

Gambar
[ Artikel 162#, kategori catatan ] Saya tak menyangka di balik terangnya langit Kota Semarang yang membuka tirai awal bulan, tersimpan rangkaian peristiwa yang menguras emosi. Pengalaman yang mungkin akan terus menetap dalam ingatan, terutama tentang momen pertama kalinya saya harus menuntun sepeda karena ban bocor di tengah sunyinya malam usai bermain bola. April tahun ini jatuh pada hari Rabu. Cahaya matahari yang cerah di hari pertama seolah memberi harapan akan hari-hari yang bergelimang rezeki. Apalagi, ponsel andalan yang selama ini menemani dokumentasi liputan baru saja laku terjual di awal bulan. Sebuah keputusan pahit yang harus saya ambil demi menutup lubang pinjaman. Meski hasilnya belum bisa menutup seluruh beban, setidaknya ada sedikit ruang napas dari tambahan bayaran tersebut. Ujian Setelah Kebahagiaan di Lapangan Dari sisi mental, saya sebenarnya merasa sangat segar mengawali bulan ini. Kamis malam, tanggal 2 April, saya kembali merumput bersama tim Sanmaru FC. Berlari ...

⚽ Pulang Bawa Beras: Apresiasi Tak Terduga di Lapangan Hijau

Gambar
[ Artikel 40#, kategori Dibalik Layar ] Momen selesai merumput biasanya hanya menyisakan peluh dan rasa lelah yang melegakan. Namun, ada yang berbeda saat saya hendak melangkah keluar lapangan kali ini, Senin malam (16/3). Tanpa disangka, panitia menghampiri dan menyerahkan satu karung beras kemasan 5 kg. Ternyata, apresiasi hari ini tidak hanya tertuju pada para pencetak gol yang atraktif. Posisi penjaga gawang atau kiper pun turut mendapat perhatian. Sebuah gestur yang sangat saya hargai, apalagi di tengah situasi yang menuntut kita untuk lebih cermat dalam mengatur pengeluaran bulanan. Perasaan saya tentu sangat bahagia. Ini bukan sekadar soal nilai materinya, melainkan tentang momen langka di mana hobi yang ditekuni bisa menghasilkan prestasi yang sangat praktis bagi dapur di rumah. Rasanya seperti mendapat anugerah yang patut disyukuri; kapan lagi pulang bermain bola bisa menenteng beras berkualitas? Bicara soal kualitas, beras pemberian ini kabarnya bukan sembarang produk. Katany...

💸 Mengambil Pinjaman Kedua di Tahun 2026: Sebuah Langkah Berat demi Bertahan

Gambar
[ Artikel 25#, kategori Keuangan ] Tahun 2026 baru saja dimulai, namun sebuah keputusan sulit harus kembali diambil. Sulit dipercaya rasanya harus kembali menempuh jalur ini begitu cepat. Secara realistis, meski ada pemasukan dari pekerjaan, nyatanya angka-angka yang masuk belum mampu menutup seluruh kebutuhan yang ada. Keputusan untuk mengambil pinjaman baru ini dilakukan sebagai langkah darurat demi menutupi tagihan pinjaman online lainnya. Ini adalah sebuah lingkaran yang saya sadari konsekuensinya: tagihan akan semakin membengkak. Ada rasa ketidakpastian yang besar mengenai bagaimana hari-hari ke depan akan berjalan saat waktu jatuh tempo itu tiba. Realita dan Harapan di Tengah Tekanan Berharap pada bantuan keluarga, dalam hal ini Bapak, juga bukan perkara mudah. Ada dilema besar ketika melihat kondisi beliau yang sebenarnya juga sedang tidak baik-baik saja, namun di sisi lain masih harus memikul beban untuk anggota keluarga yang lain. Harapan saya saat ini adalah munculnya pintu-p...

🚰 Mendadak Pompa Air Mati: Sebuah Ujian Kesabaran di Balik Dinding Rumah

Gambar
[ Artikel 89#, kategori rumah ] Awalnya saya mengira ini hanyalah dampak dari hujan deras yang mengguyur kemarin. Namun, setelah berhari-hari berlalu, suara dengung pompa yang biasanya setia mengisi kesunyian rumah mendadak hilang. Bahkan, si bungsu yang seminggu lalu mudik kini sudah kembali berada di rumah, namun mesin itu tetap membisu. Apa yang sebenarnya salah? Mesin pompa air yang sudah terpasang sejak pertama kali rumah ini berdiri tampaknya telah mencapai masa kedaluwarsanya. Ternyata bukan cuma ponsel yang punya siklus hidup terbatas sekitar lima tahunan; mesin pompa pun demikian. Saya sendiri sampai lupa sudah berapa lama umur mesin itu menemani perjalanan rumah ini sejak pertama kali saya tinggali. Ikhtiar Memanggil Tukang Langkah pertama yang saya ambil adalah memanggil kenalan yang sudah lama berprofesi sebagai tukang. Berbekal jam terbangnya, saya menaruh harapan besar beliau paham solusi masalah ini. Sempat ada titik terang saat si tukang mencoba mengutak-atik mesin, bah...

🚗 Mudik Tahun 2026

Gambar
[ Artikel 19#, kategori lebaran ] Tahun ini, keputusan saya masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya: menetap di Kota Semarang. Alasan ekonomi tetap menjadi faktor utama yang klasik, bahkan terasa kian berat dengan bayang-bayang beban finansial yang menghimpit. Di saat keluarga lain sibuk menyiapkan koper, saya justru tetap di sini, bergelut dengan rutinitas yang itu-itu saja. Sepekan menjelang Idulfitri, ritual pagi saya diisi dengan membersihkan taman. Tak ada hal istimewa yang dirasakan. Yang ada hanyalah percakapan batin yang penuh penyesalan—mempertanyakan mengapa di usia yang hampir menyentuh kepala empat, kemapanan seolah masih enggan menyapa. Andai kondisi keuangan mengizinkan, niat saya sebenarnya sederhana: pulang untuk berziarah ke makam almarhumah Ibu kandung. Namun, semesta berkata lain. Ketiadaan biaya membuat saya merasa dilabeli sebagai anak yang kurang berbakti karena tak mampu menjenguk peristirahatan terakhir beliau. Kabar di Sela Potong Rumput Berbeda dengan saya, ...

⚽ Main 3 Jam: Dinamika di Bawah Mistar Gawang Jelang Libur Panjang

Gambar
[ Artikel 23#, kategori mini soccer ] Ada momentum spesial yang menjadi alasan mengapa tim Senin malam dan Kamis malam mengambil durasi bermain lebih lama dari biasanya. Main selama 3 jam sebenarnya tidak menjadi masalah, apalagi beban di pundak para bapak-bapak penggemar sepak bola ini cukup terasa. Anggap saja ini "jatah" mereka sebelum sepenuhnya fokus menghabiskan waktu bersama keluarga. Menjelang lebaran, kalender tahun ini memang memberikan banyak jatah libur, bahkan sampai seminggu lamanya. Kesempatan berharga ini tentu tidak disia-siakan oleh mereka yang akan menyambut suka cita bersama keluarga. Entah bagaimana dengan yang masih single seperti saya. Dampaknya ternyata merambah ke hobi yang saya geluti. Perubahan durasi ini merupakan kesepakatan bersama para pengurus, baik dari tim Senin maupun Kamis. Sebagai anggota, saya hanya bisa mengikuti keputusan yang ada. Durasi Panjang dan Tantangan Fisik Bermain selama 3 jam berarti ada lebih banyak kesempatan untuk merumpu...