Pria Tidak Berdaya
[Artikel 91#, kategori rumah] Bagi sebagian orang, Senin pagi mungkin menjadi awal dari perlombaan mingguan yang melelahkan. Namun bagi saya, ada sebuah rutinitas sederhana yang belakangan ini menjadi jangkar bagi kesehatan mental: bersih-bersih taman rumah.
Aktivitas ini bukan sebuah proyek besar, melainkan rutinitas harian yang terjadwal santai antara jam 7 hingga 9 pagi. Durasinya cukup dua jam saja. Tentu saja jadwal ini fleksibel. Jika malam sebelumnya saya habis kelelahan setelah pulang bermain sepak bola, rutinitas ini sengaja saya liburkan demi mengistirahatkan badan. Begitu pula dengan hari Minggu, di mana waktu saya sepenuhnya beralih untuk menyusuri riuhnya suasana Car Free Day (CFD).
Namun di luar hari-hari itu, dua jam di pagi hari bersama tanaman telah menjelma menjadi ruang kontemplasi yang sangat berharga.
Harus diakui, menginjak usia yang hampir menyentuh 40 tahun dengan kondisi finansial yang masih pas-pasan, ditambah status yang masih menumpang tinggal di rumah keluarga, membawa beban psikologis tersendiri. Ada banyak kecemasan tentang masa depan yang kerap kali datang mengetuk pikiran tanpa diundang.
Menariknya, aktivitas domestik seperti memotong rumput liar hingga menyapu daun-daun kering yang berguguran di halaman seakan menjadi sarana untuk mengangkat beban-beban tak kasat mata tersebut. Setiap kali gunting tanaman memotong ranting yang berlebih, atau sapu lidi mengumpulkan remah-remah kotoran di atas tanah, ada rasa lega yang perlahan mengalir. Saya merasa sedang merapikan kekacauan yang ada di dalam kepala saya sendiri.
Sebenarnya, saya lebih menyukai saat-saat mengerjakan rutinitas ini dalam keheningan—hanya ada saya, tanaman, dan bumi. Namun hidup bertetangga tentu tidak se-terisolasi itu. Kadang ada saja tetangga yang lewat, sekadar menyapa, atau sengaja berhenti untuk melihat apa yang sedang saya lakukan.
Dari interaksi-interaksi kecil di halaman rumah itu, ada satu obrolan yang cukup menggelitik. Beberapa kali tetangga menyarankan agar saya menggunakan obat kimia pemusnah rumput saja. "Biar cepat mati rumputnya, Mas, jadi nggak capek bolak-balik motong dan halamannya cepat bersih," begitu kurang lebih saran yang sering saya dengar.
Saya memahami sudut pandang mereka. Di dunia yang serbacepat ini, banyak orang yang hanya berfokus pada hasil akhir. Mereka ingin melihat halaman yang bersih secara instan, tanpa peduli bagaimana prosesnya.
Namun bagi saya, esensinya justru terletak pada proses melelahkan itu sendiri. Menggunakan obat kimia mungkin akan memotong waktu kerja, tetapi itu juga akan memotong waktu saya untuk "berbicara" dengan diri sendiri. Memotong rumput secara manual bukanlah tentang mengejar target kebersihan layaknya petugas kebersihan kota. Ini adalah sebuah ritual harian untuk menjaga agar pikiran tetap jernih dan waras di tengah ketidakpastian hidup.
Pada akhirnya, taman rumah ini adalah cerminan dari bagaimana saya memandang hidup saat ini. Mungkin pertumbuhannya lambat, mungkin rumput-rumput liar akan selalu kembali tumbuh setiap minggu, dan mungkin hasilnya tidak langsung terlihat sempurna di mata orang lain.
Namun, selama saya masih diberikan ruang dan waktu untuk menikmati prosesnya setiap pagi, saya belajar untuk berdamai dengan keadaan. Bahwa hidup, sama seperti merawat taman, tidak selalu tentang seberapa cepat kita mencapai hasil akhir yang bersih, melainkan tentang bagaimana kita merawat apa yang ada di hadapan kita dengan penuh kesabaran.
Artikel terkait :
Komentar
Posting Komentar