Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

📦 Babak Baru di Ruang Sempit

[Artikel 87#, kategori rumah] Mendadak saja, kesibukan terlihat di area belakang rumah. Barang-barang yang selama ini tertumpuk mulai dikeluarkan satu per satu. Awalnya saya tidak terlalu menghiraukan, sampai akhirnya sebuah kalimat mendarat dan menyadarkan saya: Kamar itu sedang disiapkan untuk saya tempati. Ya, saya harus pindah ke sana segera setelah proses pembersihan selesai.

Perasaan saya seketika campur aduk. Ada rasa sesak yang sulit digambarkan, namun di sisi lain, ada tembok realitas yang membuat saya sulit untuk sekadar melayangkan protes.

Memasuki tahun 2026, saya akhirnya resmi memulai babak baru di sebuah kamar yang ukurannya jauh lebih mungil dari sebelumnya, yakni 2 x 3 meter. Ruangan yang dulu sempat berfungsi sebagai gudang ini, kini bertransformasi menjadi ruang ekspresi utama saya saat berhadapan dengan layar komputer.

Posisinya berada tepat di lantai bawah, bersisian dengan pintu belakang yang menjadi saksi bisu lalu lalang penghuni rumah. Kepindahan ini terasa begitu cepat, datang tanpa ketukan pintu atau obrolan hangat di meja makan sebelumnya. Tahu-tahu, ruangan ini sudah bersih dan siap ditempati, tepat sebelum aroma Ramadan menyapa.

Di usia kepala empat, saya kembali mendapat pelajaran berharga. Hidup ternyata tidak selalu tentang seberapa luas ruang yang kita miliki, melainkan seberapa lapang hati kita dalam menerima perubahan yang datang mendadak. Ada rasa sedih yang terselip, itu manusiawi. Ada pula rasa kaget saat sesuatu yang sempat kita anggap sebagai "ruang milik" ternyata bisa bergeser dalam sekejap tanpa aba-aba.

Namun, ketika mengingat kembali deretan jasa dan kebaikan keluarga ini, rasanya kemarahan menjadi sebuah kemewahan yang tidak pantas saya pamerkan.

Kini, di balik pintu belakang ini, sebuah sejarah baru dimulai. Ruangnya mungkin sempit dan terbatas, tapi setidaknya saya masih memiliki sudut untuk merenung. Mungkin ini adalah cara semesta meminta saya untuk lebih "merunduk" dan menyederhanakan diri sebelum memasuki bulan suci.

Sejarah di kamar lantai dua yang luas itu kini telah tertutup rapat. Kamar yang bagi saya pribadi terasa sangat mewah itu, kini berganti dengan ruangan penuh dedikasi sebagai titik awal yang baru. Saya berharap, aroma sisa gudang di sini pelan-pelan akan luruh, tergantikan oleh wangi harapan dan semangat untuk terus berimajinasi dalam tulisan.

Suasana baru bagi perjalanan dotsemarang di tahun 2026. Meski dari ruang yang lebih sempit, saya berharap produktivitas justru semakin meluas.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Harga Kopi Sachet Nescafe Classic Naik ?