Pria Tidak Berdaya
[Artikel 87#, kategori rumah] Mendadak saja, kesibukan terlihat di area belakang rumah. Barang-barang yang selama ini tertumpuk mulai dikeluarkan satu per satu. Awalnya saya tidak terlalu menghiraukan, sampai akhirnya sebuah kalimat mendarat dan menyadarkan saya: Kamar itu sedang disiapkan untuk saya tempati. Ya, saya harus pindah ke sana segera setelah proses pembersihan selesai.
Perasaan saya seketika campur aduk. Ada rasa sesak yang sulit digambarkan, namun di sisi lain, ada tembok realitas yang membuat saya sulit untuk sekadar melayangkan protes.
Memasuki tahun 2026, saya akhirnya resmi memulai babak baru di sebuah kamar yang ukurannya jauh lebih mungil dari sebelumnya, yakni 2 x 3 meter. Ruangan yang dulu sempat berfungsi sebagai gudang ini, kini bertransformasi menjadi ruang ekspresi utama saya saat berhadapan dengan layar komputer.
Posisinya berada tepat di lantai bawah, bersisian dengan pintu belakang yang menjadi saksi bisu lalu lalang penghuni rumah. Kepindahan ini terasa begitu cepat, datang tanpa ketukan pintu atau obrolan hangat di meja makan sebelumnya. Tahu-tahu, ruangan ini sudah bersih dan siap ditempati, tepat sebelum aroma Ramadan menyapa.
Di usia kepala empat, saya kembali mendapat pelajaran berharga. Hidup ternyata tidak selalu tentang seberapa luas ruang yang kita miliki, melainkan seberapa lapang hati kita dalam menerima perubahan yang datang mendadak. Ada rasa sedih yang terselip, itu manusiawi. Ada pula rasa kaget saat sesuatu yang sempat kita anggap sebagai "ruang milik" ternyata bisa bergeser dalam sekejap tanpa aba-aba.
Namun, ketika mengingat kembali deretan jasa dan kebaikan keluarga ini, rasanya kemarahan menjadi sebuah kemewahan yang tidak pantas saya pamerkan.
Kini, di balik pintu belakang ini, sebuah sejarah baru dimulai. Ruangnya mungkin sempit dan terbatas, tapi setidaknya saya masih memiliki sudut untuk merenung. Mungkin ini adalah cara semesta meminta saya untuk lebih "merunduk" dan menyederhanakan diri sebelum memasuki bulan suci.
Sejarah di kamar lantai dua yang luas itu kini telah tertutup rapat. Kamar yang bagi saya pribadi terasa sangat mewah itu, kini berganti dengan ruangan penuh dedikasi sebagai titik awal yang baru. Saya berharap, aroma sisa gudang di sini pelan-pelan akan luruh, tergantikan oleh wangi harapan dan semangat untuk terus berimajinasi dalam tulisan.
Suasana baru bagi perjalanan dotsemarang di tahun 2026. Meski dari ruang yang lebih sempit, saya berharap produktivitas justru semakin meluas.
Artikel terkait :
Komentar
Posting Komentar