Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

⚽ Dilema Hari Pertama Puasa 2026: Antara Agenda Hotel dan Lapangan Mini Soccer

[Artikel 28#, kategori Puasa] Ada perasaan campur aduk saat menyambut awal Ramadan tahun ini. Antara senang, sedih, atau mungkin sedikit bimbang. Apalagi setelah saya resmi pindah ke ruangan baru yang sempat membuat pikiran bertanya-tanya, apakah ini nyata atau memang sudah jalannya.

Kamis dini hari (19/2), saya sudah terbangun bahkan sebelum alarm jam 01.20 berbunyi. Entah karena saya tidur lebih awal usai Isya, atau memang alam bawah sadar saya yang sedang dipenuhi banyak pertimbangan.

Tantangan Puasa dan Refleksi Diri

Jujur saja, tahun ini saya masih dibayangi ketidakyakinan apakah bisa menjalankan puasa secara penuh. Seperti tahun-tahun sebelumnya, catatan puasa saya masih sering bolong-bolong. Sebagai seorang muslim, saya akui diri ini jauh dari kata sempurna. Mungkin, ini juga yang menjadi refleksi mengapa rezeki dan jodoh terasa masih jauh dari jangkauan.

Kesibukan di hari pertama pun sudah menanti. Saya sempat lupa bahwa ada undangan buka puasa dari Hotel Grand Candi Semarang yang waktunya berbarengan dengan jadwal bermain mini soccer.

Siasat Transportasi di Kota Semarang

Setelah menimbang berbagai opsi, saya memutuskan untuk melakoni keduanya. Siasatnya, saya akan datang lebih awal ke lapangan untuk menaruh sepeda. Tujuannya sederhana, agar setelah selesai main nanti, urusan transportasi tidak lagi merepotkan.

Ini adalah cara saya mengakali undangan launching menu buka puasa hotel yang dimulai sejak pukul 5 sore. Rencananya, dari lapangan saya akan melanjutkan perjalanan ke hotel menggunakan jasa ojek online.

Untuk menekan biaya, saya sempat terpikir menggunakan Trans Semarang. Namun, jika selisih tarifnya tidak beda jauh antara langsung ke tujuan atau harus transit di halte, pilihan saya jatuh pada transportasi langsung agar lebih efisien waktu.

Karena jadwal mini soccer dimulai jam 7 malam, saya harus segera beranjak sebelum waktu tersebut. Meski rasanya cukup disayangkan karena harus menyudahi momen mencicipi kemewahan menu hotel lebih awal, setidaknya kebimbangan ini sudah terjabarkan dan sedikit melegakan perasaan.

Rutinitas Potong Rumput dan Ruangan Baru

Di sisi lain, ada urusan domestik yang menanti. Saya sebenarnya berharap bisa libur memotong rumput di hari pertama puasa ini. Namun, rutinitas harian ini sulit ditinggalkan; sehari saja absen, rumput di taman bisa tumbuh sangat subur.

Mengenai ruang kerja, kini saya menempati ruangan yang dulunya digunakan oleh rekan saya, Amir. Ukurannya memang lebih kecil dibandingkan ruangan lama. Saat diminta pindah, saya hanya bisa pasrah. Di tengah kondisi ekonomi saat ini, tidak banyak opsi yang tersedia.

Meski terasa sempit karena banyaknya barang yang saya miliki, saya tetap menyukai ruangan baru ini. Salah satu keuntungan besarnya adalah posisi yang dekat dengan kamar mandi. Saya tidak perlu lagi naik turun tangga hanya untuk ke toilet. Suasananya pun terasa lebih tenang dan memberikan ruang untuk berpikir lebih mendalam.

Bismillah, semoga puasa tahun ini berjalan lancar. Meski saya sadar tantangannya tidak mudah, harapan untuk mendapatkan berkah tetap ada. Petualangan Ramadan kembali dimulai, dan saya bersiap untuk kembali mengunjungi tempat-tempat ikonik di Kota Semarang, terutama masjid-masjidnya yang menenangkan.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

☕ Cerita Juli: Memulai Misi Hemat Bersama Kopi Luwak Sachet