Pria Tidak Berdaya
[Artikel 28#, kategori Puasa] Ada perasaan campur aduk saat menyambut awal Ramadan tahun ini. Antara senang, sedih, atau mungkin sedikit bimbang. Apalagi setelah saya resmi pindah ke ruangan baru yang sempat membuat pikiran bertanya-tanya, apakah ini nyata atau memang sudah jalannya.
Kamis dini hari (19/2), saya sudah terbangun bahkan sebelum alarm jam 01.20 berbunyi. Entah karena saya tidur lebih awal usai Isya, atau memang alam bawah sadar saya yang sedang dipenuhi banyak pertimbangan.
Tantangan Puasa dan Refleksi Diri
Jujur saja, tahun ini saya masih dibayangi ketidakyakinan apakah bisa menjalankan puasa secara penuh. Seperti tahun-tahun sebelumnya, catatan puasa saya masih sering bolong-bolong. Sebagai seorang muslim, saya akui diri ini jauh dari kata sempurna. Mungkin, ini juga yang menjadi refleksi mengapa rezeki dan jodoh terasa masih jauh dari jangkauan.
Kesibukan di hari pertama pun sudah menanti. Saya sempat lupa bahwa ada undangan buka puasa dari Hotel Grand Candi Semarang yang waktunya berbarengan dengan jadwal bermain mini soccer.
Siasat Transportasi di Kota Semarang
Setelah menimbang berbagai opsi, saya memutuskan untuk melakoni keduanya. Siasatnya, saya akan datang lebih awal ke lapangan untuk menaruh sepeda. Tujuannya sederhana, agar setelah selesai main nanti, urusan transportasi tidak lagi merepotkan.
Ini adalah cara saya mengakali undangan launching menu buka puasa hotel yang dimulai sejak pukul 5 sore. Rencananya, dari lapangan saya akan melanjutkan perjalanan ke hotel menggunakan jasa ojek online.
Untuk menekan biaya, saya sempat terpikir menggunakan Trans Semarang. Namun, jika selisih tarifnya tidak beda jauh antara langsung ke tujuan atau harus transit di halte, pilihan saya jatuh pada transportasi langsung agar lebih efisien waktu.
Karena jadwal mini soccer dimulai jam 7 malam, saya harus segera beranjak sebelum waktu tersebut. Meski rasanya cukup disayangkan karena harus menyudahi momen mencicipi kemewahan menu hotel lebih awal, setidaknya kebimbangan ini sudah terjabarkan dan sedikit melegakan perasaan.
Rutinitas Potong Rumput dan Ruangan Baru
Di sisi lain, ada urusan domestik yang menanti. Saya sebenarnya berharap bisa libur memotong rumput di hari pertama puasa ini. Namun, rutinitas harian ini sulit ditinggalkan; sehari saja absen, rumput di taman bisa tumbuh sangat subur.
Mengenai ruang kerja, kini saya menempati ruangan yang dulunya digunakan oleh rekan saya, Amir. Ukurannya memang lebih kecil dibandingkan ruangan lama. Saat diminta pindah, saya hanya bisa pasrah. Di tengah kondisi ekonomi saat ini, tidak banyak opsi yang tersedia.
Meski terasa sempit karena banyaknya barang yang saya miliki, saya tetap menyukai ruangan baru ini. Salah satu keuntungan besarnya adalah posisi yang dekat dengan kamar mandi. Saya tidak perlu lagi naik turun tangga hanya untuk ke toilet. Suasananya pun terasa lebih tenang dan memberikan ruang untuk berpikir lebih mendalam.
Bismillah, semoga puasa tahun ini berjalan lancar. Meski saya sadar tantangannya tidak mudah, harapan untuk mendapatkan berkah tetap ada. Petualangan Ramadan kembali dimulai, dan saya bersiap untuk kembali mengunjungi tempat-tempat ikonik di Kota Semarang, terutama masjid-masjidnya yang menenangkan.
Artikel terkait :
Komentar
Posting Komentar