Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Mewahnya Menu Puasa Tahun Ini di Rumah

[Artikel 25#, kategori Puasa] Bertahun-tahun menjalani puasa di Kota Semarang, akhirnya hidangan menu berbuka puasa kali ini terasa mewah. Tidak lagi makan mie rebus atau apa adanya. Alasannya?

Karena kedatangan pemilik rumah di akhir bulan Maret kemarin. Memang semenjak kedatangan mereka (kerabat), suasana rumah lebih berisik dan berwarna. Namun yang saya sangat syukuri adalah sosok yang bekerja keras di dapur yang tak kenal lelah meski sedang berpuasa.

Menu mewah

Beliau adalah juru masak terbaik menurut saya karena masakan beliau mengandung bawang yang membuat saya teringat masakan rumah dan almarhumah Ibu kandung saya.

Memang sih beliau memasak demi anak dan keluarganya. Saya yang hanya ikut numpang di rumah ini tentu ikut merasakan bahagianya juga.

Setelah hari pertama mereka tiba di Kota Semarang, beliau langsung minta temenin belanja ke pasar. Saya tahu arahnya akan kemana dengan banyaknya bahan-bahan yang dibeli di Pasar Gang Baru.

Dan seperti yang diharapkan saat suara azan berkumandang. Menu-menu yang dihidangkan terasa mewah buat saya yang selama ini hanya makan apa adanya atau cari makan di tempat lain.

Drop

Sayangnya kegembiraan itu tidak berlangsung lama ketika akan menjelang hari Lebaran. Sosok yang begitu penyayang keluarganya ini mendadak drop alias sakit.

Pantes saja, aktivitas dapur terhenti dan makanan mewah yang tersaji mendadak berubah menjadi makanan cepat saji.

Sedih juga melihat beliau terbaring lemah di dalam kamar. Bagi saya, beliau adalah Ibu kedua saya yang paling saya hormati. Andai saja saya jago memasak, mungkin beliau akan saya manjakan dengan berbagai menu yang lezat.

...

Menu mewah yang saya maksud di sini bukan menu mahal, melainkan menu yang biasa dihidangkan ala rumahan seperti tempe dan tahu goreng, ayam goreng dan sebagainya.

Buat saya yang hanya makan mie rebus atau nasi dicampur keju selama bulan puasa, masakan yang beliau buat adalah kemewahan tersendiri. 

Puasa yang penuh kenangan kali ini.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini