Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Jogja dan Batal Puasa

[Artikel 5#, kategori Jogja] Masih tidak bisa konsisten berpuasa, kali ini gagalnya karena otw ke Jogja. Semenjak mengambil tugas jemput pemilik rumah yang lebih suka datang lewat bandara Jogja, mau tidak mau, saya harus melakukan perjalanan dari Kota Semarang. Karena jauh, saya terpaksa memutuskan tidak berpuasa.

Saya mengerti betapa besar dosa saya karena tidak konsisten berpuasa. Jadi, mari dengarkan cerita lainnya yang tak perlu membahas tentang hal tersebut.

OTW bandara YIA

Saya berangkat dari rumah setengah 6 pagi dengan harapan sebelum pukul 9 sudah tiba di bandara. Karena bukan kali pertama ke bandara YIA, saya sedikit santai. Apalagi saya tidak sendiri. Ada istri dan anak si bungsu yang menemani. 

Kali ini saya tidak kelewatan melintas jalan tol yang sebelumnya melewati sampai Kopeng.  Ternyata setelah keluar tol Bawen, jalan yang digunakan adalah rute Magelang.

Kemudian, rutenya sama seperti saat melewati Kopeng. Saya sempat dejavu dan beranggapan rute yang kali ini terlalu jauh. Ternyata malah sebaliknya, ini lebih nyaman saja.

Debut si Mac

Pergi keluar dari kamar artinya harus membawa pekerjaan turut serta. Setelah drama laptop dijual, perjalanan ke Jogja kali ini adalah debutnya si laptop baru. Ya, tidak baru juga. Saya mendapatkannya barang second dan mereknya adalah Apple atau MacBook Air.

Meski dari sisi branding, MacBook lebih menarik, namun dari sisi kemampuan saya harus akui Zenbook Space Edition masih yang terbaik. Dari harga saja sudah beda kelas.

Saya masih beradaptasi dengannya karena sangat berbeda dari laptop yang biasanya bertipe Windows. Perjalanan kali ini semakin berarti untuk saya.

...

Saya berada di Jogja beberapa hari sebelum akhirnya memutuskan pulang. Menginap satu hari satu malam maksudnya. Merugikan tapi tidak bisa berbuat apa-apa juga.

Setidaknya, produktivitas saya tidak terganggu karena ada laptop baru (second). Sempat khawatir saat menjual Zenbook karena uangnya khawatir kurang. Uang penjualannya digunakan untuk membayar hutang yang adik-adik saya perbuat. Mengesalkan untuk berbicara tentang mereka.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini