Postingan

Catatan

Pria Tidak Berdaya

Gambar
Selamat bertambah usia untukku. Di tengah perayaan sederhana yang kuhidupkan lewat tulisan ini, aku memilih tema “Pria Tidak Berdaya” sebagai cermin perjalananku. Bukan untuk meratapi nasib, tapi untuk memeluk kejujuran—tentang diriku, tentang hidup, dan tentang harapan yang masih kugenggam erat meski kadang terasa rapuh. Dalam bahasa Indonesia, “berdaya” berarti punya kekuatan, kemampuan, atau kemauan untuk menghadapi hidup—entah itu menyelesaikan masalah, mengejar mimpi, atau sekadar bangun dari tempat tidur dengan semangat.  Tapi di usia ini, aku merasa berada di sisi sebaliknya: tidak berdaya. Bukan karena aku menyerah, tapi karena hidup terasa seperti permainan yang aturannya terus berubah, dan aku sering kehabisan napas untuk mengejar. Hampa di Tengah Keramaian Di usia 39, aku melihat banyak pria seusia ku hidup dalam ritme yang sepertinya lebih “hidup”. Mereka punya pekerjaan yang memberi kepastian—gaji bulanan yang datang tanpa drama, hanya perlu mengatur apa yang masuk ke ...

🫘 Seni Bertahan Hidup dengan Tempe: Cara Mengatur Anggaran Dapur

Gambar
[ Artikel 13#, seni bertahan hidup ] Mungkin saya hanya sedang bosan dengan sayur pare. Namun jika ditelisik lebih dalam, ini sebenarnya adalah bagian dari manajemen keuangan atau budgeting mandiri. Membeli pare di warung makan langganan rupanya hanya mampu bertahan untuk satu pekan. Berbeda ceritanya dengan tempe, yang bisa diandalkan hingga lebih dari seminggu, meski anggaran yang dikeluarkan kurang lebih sama. Sudah beberapa bulan lamanya saya tidak menyentuh tempe. Seingat saya, terakhir kali menu ini ada di piring adalah pada bulan Januari lalu. Hingga akhirnya di bulan Mei ini, saya kembali memutuskan untuk membelinya di pasar dekat rumah. Durasi yang Lebih Lama untuk Menghemat Pengeluaran Semenjak menerapkan filosofi kesederhanaan dalam keseharian, seni bertahan hidup yang saya jalani memang kerap berganti-ganti pola. Khususnya dalam menentukan menu pendamping nasi. Sebelum kembali ke tempe, saya sempat mencoba bereksperimen dengan keju dan kecap. Sayangnya, kombinasi tersebut ...

💔 Warteg Andalan Tutup! Cerita Sayur Pare dan Filosofi Bertahan Hidup

Gambar
[Artikel 8#, kategori tempat] Semenjak jatuh cinta dengan sayur pare , saya semakin intens datang ke warteg dekat rumah. Warteg ini punya tempat tersendiri di hati, bukan cuma karena rasanya yang cocok di lidah, tapi juga kebaikannya yang kadang memberi porsi lebih meskipun saya hanya membeli lima ribu rupiah. Namun hari ini, kejutan kurang menyenangkan datang. Di depan bangunannya, sudah terpampang spanduk besar bertuliskan: DIJUAL . What?! Saya tidak pernah membayangkan jika warteg pun memiliki masa kedaluwarsa seperti bisnis modern lainnya. Mini market tutup, kedai kopi estetik gulung tikar, atau rumah makan besar yang bangkrut sudah biasa saya lihat dan amati dalam dinamika kota. Tapi warteg? Rasanya jarang sekali. Tidak ada jawaban yang pasti mengenai alasan penutupannya, apalagi bangunan sederhana tersebut berdiri strategis di pinggir jalan raya. Mungkin harga sewa lahannya naik gila-gilaan, atau bisa jadi sang pemilik memutuskan pensiun dan memilih pulang kampung menikmati masa ...

Halo, Mei 2026

Gambar
[ Artikel 163#, kategori catatan ] Langit kota di awal bulan ini tampak begitu cerah, seolah memancarkan energi baru yang membawa harapan sekaligus tantangan yang tidak biasa. Pagi ini, kayuhan pedal sepeda membawa saya membelah jalanan menuju lapangan hijau. Ada antusiasme yang membuncah, sebuah awal yang saya harap menjadi pertanda baik untuk melampaui bulan ini dengan pencapaian yang lebih bermakna. Langkah di bulan Mei ini sebenarnya sudah dimulai sejak pergantian kalender dari April lalu. Menghabiskan waktu bersama tim sepak bola langganan di hari libur menjadi momen yang sangat saya syukuri. Kebetulan, peringatan Hari Buruh pada 1 Mei memberikan ruang untuk sejenak melepas penat dan mempererat kebersamaan di lapangan. Geliat Hari Jadi Kota Semarang Mei selalu memiliki tempat istimewa, terutama bagi kota yang saya tinggali saat ini. Suasana kota terasa lebih hidup menyambut puncak perayaan hari jadi pada tanggal 2 Mei. Salah satu agenda yang paling dinanti setiap tahunnya adalah S...

Sulitnya Sekarang Konsisten Posting 3 Kali Sehari

Gambar
[ Artikel 55#, kategori blog ] Akhirnya memaksakan menulis keluh kesah ini secara langsung bahwa saya memang benar-benar kesulitan menulis 3 postingan dalam sehari. Padahal beberapa tahun sebelumnya, bisa dilakukan. Apa yang sebenarnya terjadi? Saya ingin ngubah konsep nulis blog ke depannya, terutama blog pribadi ini. Saya ingin menjadikannya sebagai media sosial agar bisa menjaga konsistensi menulis di sini. Namun akibatnya, tulisan saya akan lebih pendek dan kurang berbobot atau kurang mendalam. Saya memilih ini karena pikiran saya sudah terlalu banyak tersimpan ide-ide yang harus dikeluarkan. Saat menulis halaman ini, saya sudah menulis 3 artikel. Yang utama tentu blog dotsemarang, kemudian kofindo dan terakhir tulisan ini. Ternyata bisa. 😋 Yaudahlah, pokoknya ke depannya saya sudah sulit posting 3 artikel sekaligus. Untuk blog pribadi, akan saya usahakan bisa juga setiap hari seperti blog dotsemarang. Makasih. Artikel terkait : Target 3 Kali Sehari Posting Blog Tembu 8 ribu views...

🧀 Strategi Bertahan Hidup dengan Keju dan Kecap

Gambar
[ Artikel 12#, seni bertahan hidup ] Pulang selepas meliput kemeriahan Pawai Ogoh-ogoh pada Minggu malam (26/4), saya memutuskan menepi sejenak di sebuah minimarket di kawasan Jolotundo. Ada sebuah misi sederhana yang ingin saya tunaikan malam itu: menghidupkan kembali strategi lama untuk bertahan hidup lewat kombinasi keju dan kecap. Total belanjaan kali ini menyentuh angka 19 ribu rupiah. Pilihan kecap jatuh pada merek Ikan Lele. Menariknya, jika biasanya saya hanya menjumpai merek ini dalam kemasan sachet di warung-warung, kali ini saya menemukan versi botolannya di rak minimarket. Sementara untuk keju, saya tidak memiliki keterikatan pada merek tertentu. Prinsip saya sederhana: mata akan langsung tertuju pada label harga yang paling ekonomis. Dan pilihan malam itu jatuh pada Prochiz Gold Cheddar. Ambisi Durasi Konsumsi Alasan utama saya beralih ke stok keju dan kecap sebenarnya berkaitan dengan durasi. Saya selalu punya ambisi agar lauk teman nasi bisa bertahan lebih lama di dapur...

🌧️ Kabar Duka di Balik Rintik Hujan April

Gambar
[ Artikel 32#, kategori keluarga ] Hujan mengguyur Kota Semarang seharian penuh hari ini, Rabu (22/4). Bagi sebagian orang, rintik air yang jatuh mungkin terasa menenangkan, namun bagi saya, ada trauma kecil yang menyelinap setiap kali langit mulai mendung. Benar saja, hujan kali ini kembali membawa pesan yang selama ini paling saya hindari: kabar duka. Suara dering telepon yang belakangan ini sering membuat saya waswas tiba-tiba memecah keheningan. Di layar ponsel, terpampang nama Bapak. Begitu tombol terima saya tekan, terdengar suara yang sangat familiar sedang bertanya tentang cara melakukan panggilan video. Tak lama, sambungan berganti menjadi video call . Melihat wajah Bapak dengan peci putihnya, perasaan saya mulai tidak enak. Jarang sekali beliau meminta panggilan video jika tidak ada hal yang sangat mendesak. Benar saja, dengan nada suara yang berusaha tenang, Bapak mengabarkan bahwa adik bungsunya—paman saya—telah meninggal dunia. Kalimat Innalillahi meluncur begitu saja. Sa...

🚲 Pengalaman Pertama Ban Sepeda Bocor Tengah Malam

Gambar
[ Artikel 34#, kategori sepeda ] Malam itu, Kamis malam (2/4) , saya hanya diberi dua pilihan untuk menyikapi situasi yang sedang terjadi: menertawakan diri sendiri atau marah sejadi-jadinya, meski hanya di dalam hati. Pengalaman belasan tahun bersepeda ternyata belum cukup menghindarkan saya dari momen ikonik ini: pertama kalinya mengalami ban bocor di tengah sunyinya malam. Membuka awal April, agenda di lapangan rumput sudah dimulai bersama Sanmaru FC. Rasa percaya diri membumbung tinggi, apalagi durasi bermain kali ini ditambah satu jam lebih lama—dari biasanya dua jam menjadi tiga jam. Semesta seolah merestui kebahagiaan saya saat itu, setidaknya sampai peluit panjang ditiupkan. Kejutan Tak Terduga Saat Pulang   Segalanya berubah drastis ketika saya hendak beranjak pulang. Saat menghampiri sepeda, ban belakang tampak kempes sempurna. Padahal, pagi harinya sudah saya pompa hingga maksimal. Satu-satunya alasan logis yang tersisa di kepala saya saat itu hanya satu: fix , ban ini b...