Postingan

Catatan

Pria Tidak Berdaya

Gambar
Selamat bertambah usia untukku. Di tengah perayaan sederhana yang kuhidupkan lewat tulisan ini, aku memilih tema “Pria Tidak Berdaya” sebagai cermin perjalananku. Bukan untuk meratapi nasib, tapi untuk memeluk kejujuran—tentang diriku, tentang hidup, dan tentang harapan yang masih kugenggam erat meski kadang terasa rapuh. Dalam bahasa Indonesia, “berdaya” berarti punya kekuatan, kemampuan, atau kemauan untuk menghadapi hidup—entah itu menyelesaikan masalah, mengejar mimpi, atau sekadar bangun dari tempat tidur dengan semangat.  Tapi di usia ini, aku merasa berada di sisi sebaliknya: tidak berdaya. Bukan karena aku menyerah, tapi karena hidup terasa seperti permainan yang aturannya terus berubah, dan aku sering kehabisan napas untuk mengejar. Hampa di Tengah Keramaian Di usia 39, aku melihat banyak pria seusia ku hidup dalam ritme yang sepertinya lebih “hidup”. Mereka punya pekerjaan yang memberi kepastian—gaji bulanan yang datang tanpa drama, hanya perlu mengatur apa yang masuk ke ...

🌿 Menemukan Kedamaian di Antara Gunting Tanaman dan Sapu Halaman

Gambar
[ Artikel 91#, kategori rumah ] Bagi sebagian orang, Senin pagi mungkin menjadi awal dari perlombaan mingguan yang melelahkan. Namun bagi saya, ada sebuah rutinitas sederhana yang belakangan ini menjadi jangkar bagi kesehatan mental: bersih-bersih taman rumah. Aktivitas ini bukan sebuah proyek besar, melainkan rutinitas harian yang terjadwal santai antara jam 7 hingga 9 pagi. Durasinya cukup dua jam saja. Tentu saja jadwal ini fleksibel. Jika malam sebelumnya saya habis kelelahan setelah pulang bermain sepak bola, rutinitas ini sengaja saya liburkan demi mengistirahatkan badan. Begitu pula dengan hari Minggu, di mana waktu saya sepenuhnya beralih untuk menyusuri riuhnya suasana Car Free Day (CFD). Namun di luar hari-hari itu, dua jam di pagi hari bersama tanaman telah menjelma menjadi ruang kontemplasi yang sangat berharga. Ritual Menjaga Pikiran di Usia Menjelang Kepala Empat Harus diakui, menginjak usia yang hampir menyentuh 40 tahun dengan kondisi finansial yang masih pas-pasan, di...

🏟️ Pengalaman Pertama Kali Main di Stadion Citarum Semarang

Gambar
[ Artikel 68#, kategori sepakbola ] Akhirnya, stadion sepak bola legendaris yang berada di kawasan Bugangan ini bisa saya jajal juga. Kesempatan ini datang setelah Sanmaru FC mengalihkan jadwal mainnya ke Stadion Citarum pada Kamis malam, 14 Mei 2026 kemarin. Yang biasanya cuma sekadar saya lewati saat bersepeda pagi, kini saya benar-benar bisa merasakan atmosfer langsung di dalam lapangannya. Namun, apakah ekspektasinya sesuai bayangan? Saya sangat menyambut momentum ketika diberi kesempatan merumput di lapangan bola yang menjadi saksi bisu perjalanan tim PSIS Semarang ini. Maklum, biaya sewa lapangan bertaraf standar FIFA seperti ini tentu tidak murah untuk ukuran komunitas. Kekhawatiran Sebelum Bertanding Di tengah semangat yang membara, terselip sebuah kekhawatiran besar di kepala saya. Sebagai penjaga gawang, saya sangat cemas jika nanti berdiri di bawah mistar dan kebobolan oleh bola lob atau tendangan lambung. Maklum, memori bermain di lapangan sepak bola ukuran normal sebelumn...

Kapur Barus

Gambar
[ Artikel 90#, kategori rumah ] Sering kali, hal-hal kecil seperti butiran kapur barus hadir untuk mengingatkan kita tentang pentingnya sirkulasi udara dan kesegaran di dalam ruang personal. Menjaga suasana tetap nyaman adalah kunci untuk tetap produktif menulis di rumah. Bagaimana cara Anda menjaga 'aroma' semangat hari ini? Artikel terkait : 🚰 Mendadak Pompa Air Mati: Sebuah Ujian Kesabaran di Balik Dinding Rumah 🚗 Mudik Tahun 2026 📦 Babak Baru di Ruang Sempit 😩 Menguji Konsistensi: Ketika Rencana Berhadapan dengan Realita Lainnya

🫘 Seni Bertahan Hidup dengan Tempe: Cara Mengatur Anggaran Dapur

Gambar
[ Artikel 13#, seni bertahan hidup ] Mungkin saya hanya sedang bosan dengan sayur pare. Namun jika ditelisik lebih dalam, ini sebenarnya adalah bagian dari manajemen keuangan atau budgeting mandiri. Membeli pare di warung makan langganan rupanya hanya mampu bertahan untuk satu pekan. Berbeda ceritanya dengan tempe, yang bisa diandalkan hingga lebih dari seminggu, meski anggaran yang dikeluarkan kurang lebih sama. Sudah beberapa bulan lamanya saya tidak menyentuh tempe. Seingat saya, terakhir kali menu ini ada di piring adalah pada bulan Januari lalu. Hingga akhirnya di bulan Mei ini, saya kembali memutuskan untuk membelinya di pasar dekat rumah. Durasi yang Lebih Lama untuk Menghemat Pengeluaran Semenjak menerapkan filosofi kesederhanaan dalam keseharian, seni bertahan hidup yang saya jalani memang kerap berganti-ganti pola. Khususnya dalam menentukan menu pendamping nasi. Sebelum kembali ke tempe, saya sempat mencoba bereksperimen dengan keju dan kecap. Sayangnya, kombinasi tersebut ...

💔 Warteg Andalan Tutup! Cerita Sayur Pare dan Filosofi Bertahan Hidup

Gambar
[Artikel 8#, kategori tempat] Semenjak jatuh cinta dengan sayur pare , saya semakin intens datang ke warteg dekat rumah. Warteg ini punya tempat tersendiri di hati, bukan cuma karena rasanya yang cocok di lidah, tapi juga kebaikannya yang kadang memberi porsi lebih meskipun saya hanya membeli lima ribu rupiah. Namun hari ini, kejutan kurang menyenangkan datang. Di depan bangunannya, sudah terpampang spanduk besar bertuliskan: DIJUAL . What?! Saya tidak pernah membayangkan jika warteg pun memiliki masa kedaluwarsa seperti bisnis modern lainnya. Mini market tutup, kedai kopi estetik gulung tikar, atau rumah makan besar yang bangkrut sudah biasa saya lihat dan amati dalam dinamika kota. Tapi warteg? Rasanya jarang sekali. Tidak ada jawaban yang pasti mengenai alasan penutupannya, apalagi bangunan sederhana tersebut berdiri strategis di pinggir jalan raya. Mungkin harga sewa lahannya naik gila-gilaan, atau bisa jadi sang pemilik memutuskan pensiun dan memilih pulang kampung menikmati masa ...

Halo, Mei 2026

Gambar
[ Artikel 163#, kategori catatan ] Langit kota di awal bulan ini tampak begitu cerah, seolah memancarkan energi baru yang membawa harapan sekaligus tantangan yang tidak biasa. Pagi ini, kayuhan pedal sepeda membawa saya membelah jalanan menuju lapangan hijau. Ada antusiasme yang membuncah, sebuah awal yang saya harap menjadi pertanda baik untuk melampaui bulan ini dengan pencapaian yang lebih bermakna. Langkah di bulan Mei ini sebenarnya sudah dimulai sejak pergantian kalender dari April lalu. Menghabiskan waktu bersama tim sepak bola langganan di hari libur menjadi momen yang sangat saya syukuri. Kebetulan, peringatan Hari Buruh pada 1 Mei memberikan ruang untuk sejenak melepas penat dan mempererat kebersamaan di lapangan. Geliat Hari Jadi Kota Semarang Mei selalu memiliki tempat istimewa, terutama bagi kota yang saya tinggali saat ini. Suasana kota terasa lebih hidup menyambut puncak perayaan hari jadi pada tanggal 2 Mei. Salah satu agenda yang paling dinanti setiap tahunnya adalah S...

Sulitnya Sekarang Konsisten Posting 3 Kali Sehari

Gambar
[ Artikel 55#, kategori blog ] Akhirnya memaksakan menulis keluh kesah ini secara langsung bahwa saya memang benar-benar kesulitan menulis 3 postingan dalam sehari. Padahal beberapa tahun sebelumnya, bisa dilakukan. Apa yang sebenarnya terjadi? Saya ingin ngubah konsep nulis blog ke depannya, terutama blog pribadi ini. Saya ingin menjadikannya sebagai media sosial agar bisa menjaga konsistensi menulis di sini. Namun akibatnya, tulisan saya akan lebih pendek dan kurang berbobot atau kurang mendalam. Saya memilih ini karena pikiran saya sudah terlalu banyak tersimpan ide-ide yang harus dikeluarkan. Saat menulis halaman ini, saya sudah menulis 3 artikel. Yang utama tentu blog dotsemarang, kemudian kofindo dan terakhir tulisan ini. Ternyata bisa. 😋 Yaudahlah, pokoknya ke depannya saya sudah sulit posting 3 artikel sekaligus. Untuk blog pribadi, akan saya usahakan bisa juga setiap hari seperti blog dotsemarang. Makasih. Artikel terkait : Target 3 Kali Sehari Posting Blog Tembu 8 ribu views...