Postingan

Catatan

Pria Tidak Berdaya

Gambar
Selamat bertambah usia untukku. Di tengah perayaan sederhana yang kuhidupkan lewat tulisan ini, aku memilih tema “Pria Tidak Berdaya” sebagai cermin perjalananku. Bukan untuk meratapi nasib, tapi untuk memeluk kejujuran—tentang diriku, tentang hidup, dan tentang harapan yang masih kugenggam erat meski kadang terasa rapuh. Dalam bahasa Indonesia, “berdaya” berarti punya kekuatan, kemampuan, atau kemauan untuk menghadapi hidup—entah itu menyelesaikan masalah, mengejar mimpi, atau sekadar bangun dari tempat tidur dengan semangat.  Tapi di usia ini, aku merasa berada di sisi sebaliknya: tidak berdaya. Bukan karena aku menyerah, tapi karena hidup terasa seperti permainan yang aturannya terus berubah, dan aku sering kehabisan napas untuk mengejar. Hampa di Tengah Keramaian Di usia 39, aku melihat banyak pria seusia ku hidup dalam ritme yang sepertinya lebih “hidup”. Mereka punya pekerjaan yang memberi kepastian—gaji bulanan yang datang tanpa drama, hanya perlu mengatur apa yang masuk ke ...

Halo, Maret 2026

Gambar
[ Artikel 161#, kategori catatan ] Tidak disangka, saya menulis catatan bulanan ini dari sebuah ruangan baru yang masih berada di bawah atap yang sama. Secara ukuran, ruangannya memang lebih sederhana dan terasa sedikit lebih sesak. Namun, ada satu kenyamanan yang saya syukuri: letaknya yang bersebelahan dengan toilet. Bagi saya, ini sebuah keuntungan teknis, terutama saat cuaca dingin mulai menyelimuti dan tubuh ini lebih sering menuntut untuk urusan ke belakang. Menyapa Maret kali ini, jujur ada sedikit rasa enggan. Intensitas saya bercerita di blog pribadi kini mulai menurun drastis. Jika dulu jumlah tulisan bisa sebanyak jumlah penanggalan dalam sebulan, kini produktivitas saya bisa dihitung dengan jari. Ada jeda yang cukup terasa di sini. Menghadapi Realita Adaptasi Umur memang tidak bisa berbohong. Memasuki usia yang menjelang kepala empat, saya harus mengakui bahwa kemampuan fisik perlahan mulai memudar. Beruntung, masih ada ajakan bermain di lapangan mini soccer yang setidakny...

🐯 Vonis Mati Zenfone 5 dan Filosofi Shio Macan di Tahun Kuda Api 2026

Gambar
[ Artikel 4#, kategori Smartphone ] Saya tidak pernah menyangka bahwa tahun 2026 akan menjadi babak terakhir bagi ASUS Zenfone 5 yang telah menemani perjalanan saya sejak 2019. Ponsel ini bukan sekadar perangkat keras; ia adalah saksi bisu perjuangan saya, hasil dari kemenangan kampanye promosi ASUS Indonesia bertahun-tahun silam. Namun, Selasa pagi (24/2)  mengubah segalanya begitu cepat. Saat sedang asyik menonton video, ponsel mendadak mati total. Awalnya, saya mengira ini hanya masalah baterai habis yang sepele. Namun, saat kabel pengisi daya dicolokkan, layar hanya menampilkan logo baterai yang berkedip hidup-mati secara berulang. Berbagai upaya mandiri hingga penelusuran solusi di internet saya lakukan, namun hasilnya nihil. Tidak ada jawaban yang mampu menghidupkannya kembali. Kekhawatiran saya memuncak. Membawa ponsel ke pusat servis berarti akan ada pengeluaran tak terduga. Kondisi ini terasa kian berat mengingat situasi keuangan yang sedang tidak menentu. Apalagi, baru be...

⚽ Dilema Hari Pertama Puasa 2026: Antara Agenda Hotel dan Lapangan Mini Soccer

Gambar
[ Artikel 28#, kategori Puasa ] Ada perasaan campur aduk saat menyambut awal Ramadan tahun ini. Antara senang, sedih, atau mungkin sedikit bimbang. Apalagi setelah saya resmi pindah ke ruangan baru yang sempat membuat pikiran bertanya-tanya, apakah ini nyata atau memang sudah jalannya. Kamis dini hari (19/2), saya sudah terbangun bahkan sebelum alarm jam 01.20 berbunyi. Entah karena saya tidur lebih awal usai Isya, atau memang alam bawah sadar saya yang sedang dipenuhi banyak pertimbangan. Tantangan Puasa dan Refleksi Diri Jujur saja, tahun ini saya masih dibayangi ketidakyakinan apakah bisa menjalankan puasa secara penuh. Seperti tahun-tahun sebelumnya, catatan puasa saya masih sering bolong-bolong. Sebagai seorang muslim, saya akui diri ini jauh dari kata sempurna. Mungkin, ini juga yang menjadi refleksi mengapa rezeki dan jodoh terasa masih jauh dari jangkauan. Kesibukan di hari pertama pun sudah menanti. Saya sempat lupa bahwa ada undangan buka puasa dari Hotel Grand Candi Sema...

📦 Babak Baru di Ruang Sempit

Gambar
[ Artikel 87#, kategori rumah ] Mendadak saja, kesibukan terlihat di area belakang rumah. Barang-barang yang selama ini tertumpuk mulai dikeluarkan satu per satu. Awalnya saya tidak terlalu menghiraukan, sampai akhirnya sebuah kalimat mendarat dan menyadarkan saya: Kamar itu sedang disiapkan untuk saya tempati. Ya, saya harus pindah ke sana segera setelah proses pembersihan selesai. Perasaan saya seketika campur aduk. Ada rasa sesak yang sulit digambarkan, namun di sisi lain, ada tembok realitas yang membuat saya sulit untuk sekadar melayangkan protes. Memasuki tahun 2026, saya akhirnya resmi memulai babak baru di sebuah kamar yang ukurannya jauh lebih mungil dari sebelumnya, yakni 2 x 3 meter. Ruangan yang dulu sempat berfungsi sebagai gudang ini, kini bertransformasi menjadi ruang ekspresi utama saya saat berhadapan dengan layar komputer. Posisinya berada tepat di lantai bawah, bersisian dengan pintu belakang yang menjadi saksi bisu lalu lalang penghuni rumah. Kepindahan ini terasa b...

📅 Halo Februari 2026: Antara Dugderan, Ramadan, dan Realita Isi Dompet

Gambar
[ Artikel 160#, kategori catatan ] Mengawali bulan baru di tahun 2026, tubuh saya justru memberikan sinyal protes. Lutut terasa sangat menderita, sebuah konsekuensi nyata setelah memutuskan bersepeda sejauh 14 km menuju POJ Marina di penghujung Januari lalu. Melelahkan, memang. Namun, ada kepuasan yang sulit dikonversi ke dalam kata-kata saat berhasil menaklukkan jarak tersebut demi sebuah kesenangan sederhana. Februari tiba dengan rencana-rencana baru. Tanggal 1 Februari yang jatuh pada hari Minggu terasa pas, berbarengan dengan keramaian CFD Simpang Lima. Cuaca pagi di Semarang tampak bersahabat dan cerah, meski sisa-sisa basah di beberapa sudut jalan menunjukkan bahwa hujan sempat turun membasahi kota pada malam sebelumnya. Dinamika Kota Semarang: Dugderan dan Imlek Semawis Bulan ini terasa sangat istimewa bagi Kota Semarang. Saat menyusun daftar Agenda Februari di blog dotsemarang , saya menyadari ada dua hajatan besar yang akan hadir hampir bersamaan menjelang bulan puasa. Tahun i...

⚽️ Jersey Baru Sanmaru FC: Simbol Semangat di Angka 40

Gambar
[ Artikel 19#, kategori mini soccer ] Tahun 2026 menjadi momentum di mana semangat tim hari Kamis terasa begitu meluap. Gairah tersebut akhirnya bermuara pada keputusan untuk merilis jersey baru. Awalnya, sempat ada kebimbangan mengenai seragam untuk posisi kiper—apakah perlu mendaftar khusus atau mengikuti desain tim secara keseluruhan. Biasanya, jersey penjaga gawang memang sering kali menyesuaikan arus besar desain tim. Memasuki akhir Januari, penantian itu tuntas. Jersey baru ini akhirnya resmi dipamerkan di lapangan. Momentum kebanggaan ini pun diabadikan dengan apik melalui jasa fotografer, memastikan setiap detail dan rasa syukur tim terdokumentasi dengan maksimal. Saya pribadi akhirnya memutuskan untuk ikut mendaftar setelah beberapa kali hanya menjadi penyimak dalam obrolan panjang di grup perpesanan. Dorongan kuat dari rekan-rekan yang sering mengajak bermain bola menjadi alasan utama saya tidak melewatkan rilisan kali ini. Refleksi di Balik Nomor Punggung 40 Pilihan nomo...

⚽ Cedera Jari Manis yang Tak Terduga

Gambar
[ Artikel 18#, kategori mini soccer ] Setiap kali selesai menunaikan ibadah Maghrib, saya selalu menyempatkan diri untuk berdoa sebelum berangkat ke lapangan hijau. Harapannya sederhana: diberi keselamatan, dijauhkan dari cedera, dan kembali ke kamar dalam kondisi utuh tanpa kurang satu apa pun. Namun, kenyataannya berkata lain. Harapan tersebut tidak sepenuhnya terkabul malam itu; jari manis tangan kanan saya justru mengalami cedera saat bermain Senin malam (12/1). Kronologi yang Sedikit Konyol Jika dibayangkan, mungkin orang akan mengira cedera ini terjadi karena benturan keras antar pemain atau aksi heroik saya saat terbang menepis bola layaknya kiper profesional. Nyatanya? Jauh dari kesan heroik. Ada cerita menarik, atau lebih tepatnya konyol, di balik cedera ini. Jari manis saya terkilir bukan karena kontak fisik, melainkan karena tersangkut rumput lapangan saat saya berusaha menangkap bola. Terdengar lucu, memang, tapi itulah realita yang saya hadapi. Meski merasa sedikit ko...