Postingan

Catatan

Pria Tidak Berdaya

Gambar
Selamat bertambah usia untukku. Di tengah perayaan sederhana yang kuhidupkan lewat tulisan ini, aku memilih tema “Pria Tidak Berdaya” sebagai cermin perjalananku. Bukan untuk meratapi nasib, tapi untuk memeluk kejujuran—tentang diriku, tentang hidup, dan tentang harapan yang masih kugenggam erat meski kadang terasa rapuh. Dalam bahasa Indonesia, “berdaya” berarti punya kekuatan, kemampuan, atau kemauan untuk menghadapi hidup—entah itu menyelesaikan masalah, mengejar mimpi, atau sekadar bangun dari tempat tidur dengan semangat.  Tapi di usia ini, aku merasa berada di sisi sebaliknya: tidak berdaya. Bukan karena aku menyerah, tapi karena hidup terasa seperti permainan yang aturannya terus berubah, dan aku sering kehabisan napas untuk mengejar. Hampa di Tengah Keramaian Di usia 39, aku melihat banyak pria seusia ku hidup dalam ritme yang sepertinya lebih “hidup”. Mereka punya pekerjaan yang memberi kepastian—gaji bulanan yang datang tanpa drama, hanya perlu mengatur apa yang masuk ke ...

Sulitnya Sekarang Konsisten Posting 3 Kali Sehari

Gambar
[ Artikel 55#, kategori blog ] Akhirnya memaksakan menulis keluh kesah ini secara langsung bahwa saya memang benar-benar kesulitan menulis 3 postingan dalam sehari. Padahal beberapa tahun sebelumnya, bisa dilakukan. Apa yang sebenarnya terjadi? Saya ingin ngubah konsep nulis blog ke depannya, terutama blog pribadi ini. Saya ingin menjadikannya sebagai media sosial agar bisa menjaga konsistensi menulis di sini. Namun akibatnya, tulisan saya akan lebih pendek dan kurang berbobot atau kurang mendalam. Saya memilih ini karena pikiran saya sudah terlalu banyak tersimpan ide-ide yang harus dikeluarkan. Saat menulis halaman ini, saya sudah menulis 3 artikel. Yang utama tentu blog dotsemarang, kemudian kofindo dan terakhir tulisan ini. Ternyata bisa. 😋 Yaudahlah, pokoknya ke depannya saya sudah sulit posting 3 artikel sekaligus. Untuk blog pribadi, akan saya usahakan bisa juga setiap hari seperti blog dotsemarang. Makasih. Artikel terkait : Target 3 Kali Sehari Posting Blog Tembu 8 ribu views...

🧀 Strategi Bertahan Hidup dengan Keju dan Kecap

Gambar
[ Artikel 12#, seni bertahan hidup ] Pulang selepas meliput kemeriahan Pawai Ogoh-ogoh pada Minggu malam (26/4), saya memutuskan menepi sejenak di sebuah minimarket di kawasan Jolotundo. Ada sebuah misi sederhana yang ingin saya tunaikan malam itu: menghidupkan kembali strategi lama untuk bertahan hidup lewat kombinasi keju dan kecap. Total belanjaan kali ini menyentuh angka 19 ribu rupiah. Pilihan kecap jatuh pada merek Ikan Lele. Menariknya, jika biasanya saya hanya menjumpai merek ini dalam kemasan sachet di warung-warung, kali ini saya menemukan versi botolannya di rak minimarket. Sementara untuk keju, saya tidak memiliki keterikatan pada merek tertentu. Prinsip saya sederhana: mata akan langsung tertuju pada label harga yang paling ekonomis. Dan pilihan malam itu jatuh pada Prochiz Gold Cheddar. Ambisi Durasi Konsumsi Alasan utama saya beralih ke stok keju dan kecap sebenarnya berkaitan dengan durasi. Saya selalu punya ambisi agar lauk teman nasi bisa bertahan lebih lama di dapur...

🌧️ Kabar Duka di Balik Rintik Hujan April

Gambar
[ Artikel 32#, kategori keluarga ] Hujan mengguyur Kota Semarang seharian penuh hari ini, Rabu (22/4). Bagi sebagian orang, rintik air yang jatuh mungkin terasa menenangkan, namun bagi saya, ada trauma kecil yang menyelinap setiap kali langit mulai mendung. Benar saja, hujan kali ini kembali membawa pesan yang selama ini paling saya hindari: kabar duka. Suara dering telepon yang belakangan ini sering membuat saya waswas tiba-tiba memecah keheningan. Di layar ponsel, terpampang nama Bapak. Begitu tombol terima saya tekan, terdengar suara yang sangat familiar sedang bertanya tentang cara melakukan panggilan video. Tak lama, sambungan berganti menjadi video call . Melihat wajah Bapak dengan peci putihnya, perasaan saya mulai tidak enak. Jarang sekali beliau meminta panggilan video jika tidak ada hal yang sangat mendesak. Benar saja, dengan nada suara yang berusaha tenang, Bapak mengabarkan bahwa adik bungsunya—paman saya—telah meninggal dunia. Kalimat Innalillahi meluncur begitu saja. Sa...

🚲 Pengalaman Pertama Ban Sepeda Bocor Tengah Malam

Gambar
[ Artikel 34#, kategori sepeda ] Malam itu, Kamis malam (2/4) , saya hanya diberi dua pilihan untuk menyikapi situasi yang sedang terjadi: menertawakan diri sendiri atau marah sejadi-jadinya, meski hanya di dalam hati. Pengalaman belasan tahun bersepeda ternyata belum cukup menghindarkan saya dari momen ikonik ini: pertama kalinya mengalami ban bocor di tengah sunyinya malam. Membuka awal April, agenda di lapangan rumput sudah dimulai bersama Sanmaru FC. Rasa percaya diri membumbung tinggi, apalagi durasi bermain kali ini ditambah satu jam lebih lama—dari biasanya dua jam menjadi tiga jam. Semesta seolah merestui kebahagiaan saya saat itu, setidaknya sampai peluit panjang ditiupkan. Kejutan Tak Terduga Saat Pulang   Segalanya berubah drastis ketika saya hendak beranjak pulang. Saat menghampiri sepeda, ban belakang tampak kempes sempurna. Padahal, pagi harinya sudah saya pompa hingga maksimal. Satu-satunya alasan logis yang tersisa di kepala saya saat itu hanya satu: fix , ban ini b...

📅 Halo, April 2026

Gambar
[ Artikel 162#, kategori catatan ] Saya tak menyangka di balik terangnya langit Kota Semarang yang membuka tirai awal bulan, tersimpan rangkaian peristiwa yang menguras emosi. Pengalaman yang mungkin akan terus menetap dalam ingatan, terutama tentang momen pertama kalinya saya harus menuntun sepeda karena ban bocor di tengah sunyinya malam usai bermain bola. April tahun ini jatuh pada hari Rabu. Cahaya matahari yang cerah di hari pertama seolah memberi harapan akan hari-hari yang bergelimang rezeki. Apalagi, ponsel andalan yang selama ini menemani dokumentasi liputan baru saja laku terjual di awal bulan. Sebuah keputusan pahit yang harus saya ambil demi menutup lubang pinjaman. Meski hasilnya belum bisa menutup seluruh beban, setidaknya ada sedikit ruang napas dari tambahan bayaran tersebut. Ujian Setelah Kebahagiaan di Lapangan Dari sisi mental, saya sebenarnya merasa sangat segar mengawali bulan ini. Kamis malam, tanggal 2 April, saya kembali merumput bersama tim Sanmaru FC. Berlari ...

⚽ Pulang Bawa Beras: Apresiasi Tak Terduga di Lapangan Hijau

Gambar
[ Artikel 40#, kategori Dibalik Layar ] Momen selesai merumput biasanya hanya menyisakan peluh dan rasa lelah yang melegakan. Namun, ada yang berbeda saat saya hendak melangkah keluar lapangan kali ini, Senin malam (16/3). Tanpa disangka, panitia menghampiri dan menyerahkan satu karung beras kemasan 5 kg. Ternyata, apresiasi hari ini tidak hanya tertuju pada para pencetak gol yang atraktif. Posisi penjaga gawang atau kiper pun turut mendapat perhatian. Sebuah gestur yang sangat saya hargai, apalagi di tengah situasi yang menuntut kita untuk lebih cermat dalam mengatur pengeluaran bulanan. Perasaan saya tentu sangat bahagia. Ini bukan sekadar soal nilai materinya, melainkan tentang momen langka di mana hobi yang ditekuni bisa menghasilkan prestasi yang sangat praktis bagi dapur di rumah. Rasanya seperti mendapat anugerah yang patut disyukuri; kapan lagi pulang bermain bola bisa menenteng beras berkualitas? Bicara soal kualitas, beras pemberian ini kabarnya bukan sembarang produk. Katany...

💸 Mengambil Pinjaman Kedua di Tahun 2026: Sebuah Langkah Berat demi Bertahan

Gambar
[ Artikel 25#, kategori Keuangan ] Tahun 2026 baru saja dimulai, namun sebuah keputusan sulit harus kembali diambil. Sulit dipercaya rasanya harus kembali menempuh jalur ini begitu cepat. Secara realistis, meski ada pemasukan dari pekerjaan, nyatanya angka-angka yang masuk belum mampu menutup seluruh kebutuhan yang ada. Keputusan untuk mengambil pinjaman baru ini dilakukan sebagai langkah darurat demi menutupi tagihan pinjaman online lainnya. Ini adalah sebuah lingkaran yang saya sadari konsekuensinya: tagihan akan semakin membengkak. Ada rasa ketidakpastian yang besar mengenai bagaimana hari-hari ke depan akan berjalan saat waktu jatuh tempo itu tiba. Realita dan Harapan di Tengah Tekanan Berharap pada bantuan keluarga, dalam hal ini Bapak, juga bukan perkara mudah. Ada dilema besar ketika melihat kondisi beliau yang sebenarnya juga sedang tidak baik-baik saja, namun di sisi lain masih harus memikul beban untuk anggota keluarga yang lain. Harapan saya saat ini adalah munculnya pintu-p...