Catatan

Pria Tidak Berdaya

Gambar
Selamat bertambah usia untukku. Di tengah perayaan sederhana yang kuhidupkan lewat tulisan ini, aku memilih tema “Pria Tidak Berdaya” sebagai cermin perjalananku. Bukan untuk meratapi nasib, tapi untuk memeluk kejujuran—tentang diriku, tentang hidup, dan tentang harapan yang masih kugenggam erat meski kadang terasa rapuh. Dalam bahasa Indonesia, “berdaya” berarti punya kekuatan, kemampuan, atau kemauan untuk menghadapi hidup—entah itu menyelesaikan masalah, mengejar mimpi, atau sekadar bangun dari tempat tidur dengan semangat.  Tapi di usia ini, aku merasa berada di sisi sebaliknya: tidak berdaya. Bukan karena aku menyerah, tapi karena hidup terasa seperti permainan yang aturannya terus berubah, dan aku sering kehabisan napas untuk mengejar. Hampa di Tengah Keramaian Di usia 39, aku melihat banyak pria seusia ku hidup dalam ritme yang sepertinya lebih “hidup”. Mereka punya pekerjaan yang memberi kepastian—gaji bulanan yang datang tanpa drama, hanya perlu mengatur apa yang masuk ke ...

Halo, Maret 2026

[Artikel 161#, kategori catatan] Tidak disangka, saya menulis catatan bulanan ini dari sebuah ruangan baru yang masih berada di bawah atap yang sama. Secara ukuran, ruangannya memang lebih sederhana dan terasa sedikit lebih sesak. Namun, ada satu kenyamanan yang saya syukuri: letaknya yang bersebelahan dengan toilet. Bagi saya, ini sebuah keuntungan teknis, terutama saat cuaca dingin mulai menyelimuti dan tubuh ini lebih sering menuntut untuk urusan ke belakang.

Menyapa Maret kali ini, jujur ada sedikit rasa enggan. Intensitas saya bercerita di blog pribadi kini mulai menurun drastis. Jika dulu jumlah tulisan bisa sebanyak jumlah penanggalan dalam sebulan, kini produktivitas saya bisa dihitung dengan jari. Ada jeda yang cukup terasa di sini.

Menghadapi Realita Adaptasi

Umur memang tidak bisa berbohong. Memasuki usia yang menjelang kepala empat, saya harus mengakui bahwa kemampuan fisik perlahan mulai memudar. Beruntung, masih ada ajakan bermain di lapangan mini soccer yang setidaknya menjaga tubuh ini agar tetap bergerak dan berkeringat.

Selain fisik, adaptasi juga merambah ke urusan perut selama bulan puasa. Pola makan malam saya justru menjadi lebih rajin, dengan menu yang sering kali berpindah dari satu masjid ke masjid lainnya. Di tengah proses adaptasi ini, menjaga ritme tulisan tetap menjadi tantangan yang paling sukar saya taklukkan.

Pelajaran dari Masjid Kauman

Saat menyempatkan diri menyimak ceramah di Masjid Agung Semarang (Kauman), saya merasa tertampar. Ada satu informasi yang jarang saya dengar sebelumnya mengenai adab saat batal puasa. Sang penceramah menjelaskan bahwa jika seseorang batal puasanya, ia harus tetap menahan diri (layaknya orang berpuasa) hingga waktu Maghrib tiba, meskipun sudah tidak mendapat pahala puasa hari itu.

Selama ini, saya menganggap saat tidak berpuasa berarti bebas makan dan minum kapan saja. Ternyata, menurut penceramah, terus-terusan makan setelah batal adalah sebuah kekeliruan besar. Sebuah pengingat yang cukup membekas di hati saya.

Makna Kemenangan dan Realita yang Menghimpit

Mendekati hari kemenangan, ada keinginan besar untuk berziarah ke makam almarhumah Ibu kandung. Namun, realita berkata lain. Jeratan angsuran pinjaman online membuat rencana itu terasa sulit diwujudkan. Ada rasa bersalah yang mendalam, seolah saya menjadi anak yang kurang berbakti.

Ditambah lagi, ada kekhawatiran untuk pulang kampung karena tumpukan masalah di sana. Saya merasa terpojok oleh keadaan; harus menanggung beban pinjaman yang sebenarnya dibuat oleh adik-adik saya sendiri. Niat hati ingin menolong saudara, namun yang saya terima justru kekecewaan karena mereka menghilang begitu saja. Jujur, ada rasa tidak ikhlas yang masih mengganjal.

Lantas, di mana seharusnya saya merayakan kemenangan? Dan kemenangan terhadap apa? Apakah terhadap sifat buruk, rasa malas, atau justru merayakan kesetiaan saya dalam menjaga amanah bersama dotsemarang?

Maret ini bagi saya bukan sekadar perpindahan bulan, tapi sebuah ujian tentang bagaimana tetap tegak di tengah adaptasi dan beban hidup yang nyata.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Money Flower, Drama Korea Tentang Kehebatan Jang Hyuk yang Selalu Dapat Menyelesaikan Masalah