Pria Tidak Berdaya
[Artikel 161#, kategori catatan] Tidak disangka, saya menulis catatan bulanan ini dari sebuah ruangan baru yang masih berada di bawah atap yang sama. Secara ukuran, ruangannya memang lebih sederhana dan terasa sedikit lebih sesak. Namun, ada satu kenyamanan yang saya syukuri: letaknya yang bersebelahan dengan toilet. Bagi saya, ini sebuah keuntungan teknis, terutama saat cuaca dingin mulai menyelimuti dan tubuh ini lebih sering menuntut untuk urusan ke belakang.
Menyapa Maret kali ini, jujur ada sedikit rasa enggan. Intensitas saya bercerita di blog pribadi kini mulai menurun drastis. Jika dulu jumlah tulisan bisa sebanyak jumlah penanggalan dalam sebulan, kini produktivitas saya bisa dihitung dengan jari. Ada jeda yang cukup terasa di sini.
Umur memang tidak bisa berbohong. Memasuki usia yang menjelang kepala empat, saya harus mengakui bahwa kemampuan fisik perlahan mulai memudar. Beruntung, masih ada ajakan bermain di lapangan mini soccer yang setidaknya menjaga tubuh ini agar tetap bergerak dan berkeringat.
Selain fisik, adaptasi juga merambah ke urusan perut selama bulan puasa. Pola makan malam saya justru menjadi lebih rajin, dengan menu yang sering kali berpindah dari satu masjid ke masjid lainnya. Di tengah proses adaptasi ini, menjaga ritme tulisan tetap menjadi tantangan yang paling sukar saya taklukkan.
Saat menyempatkan diri menyimak ceramah di Masjid Agung Semarang (Kauman), saya merasa tertampar. Ada satu informasi yang jarang saya dengar sebelumnya mengenai adab saat batal puasa. Sang penceramah menjelaskan bahwa jika seseorang batal puasanya, ia harus tetap menahan diri (layaknya orang berpuasa) hingga waktu Maghrib tiba, meskipun sudah tidak mendapat pahala puasa hari itu.
Selama ini, saya menganggap saat tidak berpuasa berarti bebas makan dan minum kapan saja. Ternyata, menurut penceramah, terus-terusan makan setelah batal adalah sebuah kekeliruan besar. Sebuah pengingat yang cukup membekas di hati saya.
Mendekati hari kemenangan, ada keinginan besar untuk berziarah ke makam almarhumah Ibu kandung. Namun, realita berkata lain. Jeratan angsuran pinjaman online membuat rencana itu terasa sulit diwujudkan. Ada rasa bersalah yang mendalam, seolah saya menjadi anak yang kurang berbakti.
Ditambah lagi, ada kekhawatiran untuk pulang kampung karena tumpukan masalah di sana. Saya merasa terpojok oleh keadaan; harus menanggung beban pinjaman yang sebenarnya dibuat oleh adik-adik saya sendiri. Niat hati ingin menolong saudara, namun yang saya terima justru kekecewaan karena mereka menghilang begitu saja. Jujur, ada rasa tidak ikhlas yang masih mengganjal.
Lantas, di mana seharusnya saya merayakan kemenangan? Dan kemenangan terhadap apa? Apakah terhadap sifat buruk, rasa malas, atau justru merayakan kesetiaan saya dalam menjaga amanah bersama dotsemarang?
Maret ini bagi saya bukan sekadar perpindahan bulan, tapi sebuah ujian tentang bagaimana tetap tegak di tengah adaptasi dan beban hidup yang nyata.
Artikel terkait :
Komentar
Posting Komentar