Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Halo, Maret 2025

[Artikel 149#, kategori catatan] Ada kebimbangan besar saat menyambut bulan suci Ramadan yang jatuh pada tanggal 1 Maret ini. Apakah saya akan puasa atau mencari alasan saja agar membenarkan isi kepala karena tidak punya apa-apa? Entah kenapa saya berada di titik ini sekarang.

Saya dilema. Kewajiban yang sudah seharusnya dilakukan malah terus dibenturkan dengan realita. Padahal pada zaman dulu, Nabi dan para sahabat kondisinya tidak lebih baik dari saya. Namun itu tetap saja tidak menampar saya bahwa saya harus melakukannya. 

Apakah ini buah yang saya tanam sejak dulu? Semenjak memiliki riwayat maag, saya selalu membenarkan keadaan untuk tidak puasa meski seorang muslim.

Dan sekarang saya menuai apa yang saya tanam tersebut. Kebenaran yang membawa kesalahan dan dosa besar. Ditambah saya tidak membayarnya ketika selesai bulan puasa.

Kondisi 

Jika maag menjadi alasan kuat, maka kondisi saat ini menambah alasan tersebut semakin kuat. Apa yang diharapkan dengan hanya makan nasi dan tempe rebus saat sahur?

Saat sudah pagi, perut saya sudah lapar lagi. Ada banyak kekurangan dalam menu yang saya santap tiap hari. Tidak heran saat bertemu orang-orang yang saya kenal, mereka mengatakan saya tampak kurus dan lesu.

Saya mengamini pandangan mereka tiap bercermin usai mandi. Yah, saya semakin kurus saja. Satu sisi bertahan sekedar sesuap nasi, sisi lain tetap produktif di tengah kenikmatan yang diberi.

Mau bilang tolong dimaklumin, tapi saya terus ditampar kenyataan bahwa puasa adalah kewajiban. Ingat, orang-orang dulu kondisinya lebih parah dan sulit. Masa gini saja menyerah.

Ada ungkapan menarik yang kemarin saya dapatkan saat bersepeda. Ketika berpikir hidupmu sulit, ingatlah bahwa ada orang di luar sana yang hidupnya lebih sulit. Maka jangan mengklaim dirimu sangat menderita hari ini.

...

Perjalanan hidup di bulan ke-3 tahun 2025 benar-benar lebih sulit untuk dipikirkan. Puasa yang seharusnya membawa berkah, malah menjadi keraguan dan kebimbangan.

Saya mohon maaf sebesar-besarnya bahwa sebagai muslim saya lalai menjalankan perintah-Nya. Saya harap kemudian hari saat kembali membaca ini, saya sudah lebih baik lagi.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

📌 Realitas Finansial Juni 2026: Ketika Tagihan Menembus Angka 1 Juta dan Bertahan di Jalur Blogger