Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Akhirnya Mereka Mudik Juga

[Artikel 81#, kategori rumah] Setelah beberapa tahun belakangan hanya merayakan Idulfitri di Kota Semarang, keluarga si bungsu akhirnya mudik juga ke Kota Samarinda. Sekarang, keluarga kecil tersebut datang dengan tambahan si kecil. 

Jum'at pagi (28/3), saya mengantar mereka menuju bandara Semarang. Pemberitahuan mereka akan mudik sudah diberitahu satu hari sebelumnya. Sempat khawatir karena kebiasaan ngantar ke Jogja, kirain akan ke sana. Ternyata, bukan.

Ngambil cuti

Dulu alasan nggak sering mudik karena profesi si bungsu yang sulit mengambil waktu karena profesionya sebagai pelayan masyarakat alias Dokter.

Ternyata tahun ini sudah bisa meluangkan waktu untuk balik. Itu adalah kebahagiaan yang luar biasa buat sang istri yang sudah rindu akan rumah karena kelamaan di Semarang.

Lebih tenang

Kepulangan mereka jadi keuntungan sendiri buat saya yang memutuskan masih tidak mudik. Lagian mau mudik, rumah yang dituju sudah tidak ada. 

Ada banyak faktor yang membuat saya enggan pulang, terutama finansial yang lagi nggak baik-baik saja. Bahkan, sudah tahu lagi sulit, si bapak malah pinjam uang. Tambah susah dah.

Di Semarang, maksudnya rumah yang saya tinggalin, keadaannya jadi lebih tenang. Suasana sunyi yang saya dambakan jadi kemewahan sendiri karena tak perlu khawatir dengan apa yang saya lakukan jika masih ada keluarga si bungsu.

Suasananya sudah menyulitkan sekarang bagi saya. Kehadiran keluarga bungsu, apalagi bertambah satu lagi, membuat saya tidak enak sendiri.

Posisi saya hanya numpang. Tak banyak kontribusi seperti ikut bayar listrik atau air. Jadinya serba salah. Intinya keadaannya sudah tidak seperti dulu lagi. Tapi, saya ingin bertahan beberapa tahun lagi sebelum benar-benar memutuskan pergi.

Sekarang, si bungsu dan keluarga kecilnya sudah pergi. Mari menikmati keadaan yang hening di rumah dengan suka cita. Pria umur 30+ yang belum menikah memang adalah orang yang menganggap kesunyian adalah kemewahan.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

☕ Cerita Juli: Memulai Misi Hemat Bersama Kopi Luwak Sachet

📌 Sekali Seumur Hidup: Menjaga Asa Menikah di Usia 40 Tahun