Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Menu Lebaran Tahun 2025, Tempe Rebus dan Bumbu Pecel

[Artikel 17#, kategori Lebaran] Karena rumah sudah kosong, maka langkah selanjutnya menyiapkan hidangan untuk lebaran. Seperti biasanya meski kali ini ada sempat diberi uang jajan oleh si bungsu, saya tetap memilih menu hemat saja. Ya, tetap makan tempe rebus.

Biasanya beli tempe, saya akan menghabiskannya bisa sampai seminggu karena dalam mode hemat. Campurannya paling hanya nasi dan tomat atau kecap. Bagaimana dengan lebaran? Tentu, harus sedikit mewah. 

Tapi entah, saya masih ragu untuk memilih apakah akan membeli sambel tomat sachet seperti biasanya atau kecap sachet cap lele yang punya kelezatan. Namun saya memikirkan kecap plus ada lomboknya. Bingung sendiri nentuin topingnya.

Usai sholat id

Ada sedikit keteledoran usai memotong tempe jadi ukuran kecil-kecil. Saya lupa memasukkannya ke kulkas. Alhasil, setelah ditinggal beberapa jam, tempe terlihat seperti ada bulunya.

Saya mendadak khawatir takutnya beracun. Sudah masuk mode hemat, masa kudu dibuang begitu saja semua tempenya. 

Akhirnya memutuskan merebus semua tempenya ke dalam wajan. Yah, selamat kata saya dalam hati. Ke depan bakalan benar-benar makan tempe rebus. Lebaran apa ini sambil merancu dalam pikiran.

Ketika ide toping masih belum ketemu, satu hari kemudian usai sholat id di Lawang Sewu, saya memutuskan membeli pecel yang tinggal kasih air panas dan langsung dimakan.

Beli pecel bungkus seperti yang kamu lihat dalam gambar juga karena tidak menemukan kecap yang ada lombok di dalamnya. Sial, yasudah itu saja pilihannya.

Menu lebaran

Saya tidak menyangka menghabisi waktu lebaran kali ini memakan tempe rebus dengan toping bumbu kacang (pecel). Dan rencananya akan dimakan tiap hari, entah bertahan beberapa hari.

Kepulangan (mudik) si pemilik rumah memang membuat dapur kembali bisa saya gunakan. Saya dapat bereksperimen apa saja dan tidak perlu khawatir menganggu kenyamanan orang lain.

Saya bersyukur atas nikmat yang diberikan. Semoga tahun depan, ada banyak nikmat lain yang saya bisa dapatkan.

Selamat Hari Raya Idulfitri 1446 H, Mohon Maaf Lahir dan Batin. Kalau ada sisa makanan di tempatmu, sini bagi buat saya saja. 😅

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

📌 Realitas Finansial Juni 2026: Ketika Tagihan Menembus Angka 1 Juta dan Bertahan di Jalur Blogger