Catatan

Pria (Tidak) Berharga

Gambar
Saya melihat teman lama yang perutnya membuncit sedang menggendong anaknya. Terlihat senyumnya yang lepas seakan mengatakan bahwa dialah yang paling bahagia di dunia ini. Sebuah pesan kepada para lelaki bahwa ia sudah tiba digaris akhir seorang pria sukses. Lalu, kapan kamu? Entahlah, saya juga bingung mengapa saya berjalan tidak pada semestinya seperti para pria lainnya yang kerap kali membagikan momen-momen bahagianya dengan pasangan dan anak kesayangannya. Memiliki istri yang rupawan, apalagi setia, cakep tuh disebut keluarga kecil yang bahagia. Inilah kekurangan pada diri saya yang mengaku hebat dalam konsistensi, tapi sulit ekonomi. Pria (tidak) berharga Saya kembali memulai perjalanan baru sebagai pria yang kini menginjak usia 38 tahun. Apa yang akan terjadi sepanjang tahun, saya harap itu sangat berharga.  Di umur sekarang ini, saya percaya bahwa 'laki-laki sukses ada keluarga dibelakangnya yang hebat'. Saya merenung sesaat, andai saja saya bisa kembali mengulang waktu s...

Futsal Hari Kamis : Mini Soccer-an Dulu

[Artikel 5#, kategori mini soccer] Semakin ke sini, gairah main mini soccer tim main hari Kamis semakin besar. Terutama apabila ada kalender merah atau hari libur, agenda mini soccer pasti jadi pilihan. Kamis terakhir di bulan Maret, tim memutuskan mini soccer-an dulu.

Tentu, ini adalah kabar yang menyenangkan. Saya tidak menampiknya meski akan dibuat ribet untuk akses transportasinya. Lapangan yang disewa pilihannya ada di Semarang bagian atas dan itu berarti saya sulit membawa sepeda seperti sedang bermain futsal biasanya.

Mau tidak mau sedikit berkorban, toh sudah difasilitasi dapat ikut bermain. Yang penting mau datang dan bersenang-senang bareng.

Gawang mini soccer yang terlalu besar

Dalam beberapa tahun, posisi saya sebagai kiper sudah mantap apabila main mini soccer. Entah itu bersama tim hari Selasa maupun hari Kamis. Ya, sesekali jika ada kesempatan bermain bukan sebagai kiper, saya pasti lebih menyukainya.

Nah, kesenangan menjadi kiper futsal rupanya sulit dilakukan saat menjadi penjaga gawang untuk mini soccer. Kamis malam kemarin (27/3), kami bermain di lapangan Orso Jangli. Ini kali keduanya saya datang ke sini.

Rasanya untuk pemain berukuran mini, tertawa, ukuran gawangnya sangat besar. Terutama lebar gawang yang sangat panjang. Kalau ukuran tinggi tak perlu ditanyakan, tangan saya pasti sulit menyentuh tiang meski sudah melompat.

Kekurangan tersebut rupanya sukses dimanfaatkan betul oleh rekan-rekan yang menjadi lawan. Beberapa orang yang saya tahu betul karakternya sulit mencetak gol juga seakan bersenang-senang atas penderitaan yang saya alami.

Ya, mereka yang sukses mencetak gol menyarangkan bola ke pojok-pojok tiang jauh gawang yang saya jaga. Itu adalah kekalahan saya yang benar-benar memalukan.

Saya sebenarnya sudah memaksimalkan kekurangan tersebut dengan mengambil langkah menutup pergerakan bola yang dibawa ke depan gawang. Beberapa kali bahkan sukses menggagalkan peluang lawan yang akan mencetak gol.

Tapi, ada saja yang lolos karena kesalaha kecil. Bola mini soccer yang ukurannya lebih besar dari ukuran bola futsal memang menyebalkan. Kok bisa lepas sih dari tangan kata saya dalam hati saat ada rekan sukses menceploskan bola ke gawang yang saya jaga.

Nebeng pulang bareng teman

Saya benar-benar beruntung mengenal rekan-rekan yang mengajak bermain, entah itu futsal atau mini soccer. Tanpa bantuan mereka, mungkin saya hanya akan jadi manusia yang menghabiskan waktu mendekam di dalam kamar saja tiap malam.

Bantuan mereka saya harap dapat dibalas oleh Tuhan Yang Maha Esa. Selain diringankan oleh iuran tiap bermain, terkadang saya akan nebeng pulang bersama salah satu rekan.

Seperti yang dilakukan tiap bermain mini soccer. Jika lapangannya bisa diakses dengan hanya bersepeda, tentu saya akan memilih bersepeda saja. Tapi, akses lapangan mini soccer identik dengan jaraknya yang jauh atau ada di Semarang bagian atas.

Terkadang memalukan jika diingat umur sekarang yang masih saja menganggap keberuntungan adalah salah satu kemampuan. Yang dapat saya lakukan hanyalah dengan memaksimalkan totalitas bermain saja agar dapat membayar kepercayaan mereka.

...

Futsal rutin di bulan Maret resmi berakhir dan diakhiri dengan bermain mini soccer pada hari Kamis malam. Alhamdulillah, tidak ada yang cedera dan semua happy.

Beberapa orang yang selama ini rutin juga bermain makin ke sini terlihat perkembangannya. Saya senang bisa mengamati orang-orang berpotensi.

Ya, meski bermain bola ini hanya untuk bersenang-senang. Bukan mencari talenta terbaik untuk membangun tim profesional.

Terima kasih bulan Maret dan orang-orang baik. Sampai jumpa bulan berikutnya.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkenalan dengan Istilah Cinephile

Akhirnya Mereka Mudik Juga

[Review] One Day, Film Korea Tentang Pertemuan Pria dengan Wanita Koma yang Menjadi Roh

Sifat Buruknya Pria 29 Tahun