Postingan

Menampilkan postingan dengan label Amir

Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

✨ Kejutan Sore Hari: Silaturahmi, Bengkel Langganan, dan Rezeki yang Tak Terduga

Gambar
[ Artikel 40#, kategori Amir]  Rabu sore (10/12), suasana tenang mendadak pecah oleh dering telepon. Sebuah nama yang sudah sangat akrab muncul di layar. Tanpa banyak basa-basi, ia mengabarkan sudah berada tepat di depan pintu rumah. Saya sempat terperanjat, namun saat pintu dibuka, pemandangan pertama yang menyambut adalah tentengan buah-buahan sebagai buah tangan. Beliau, yang kini berkarier di wilayah Kabupaten Semarang, sengaja mampir setelah menyelesaikan urusan servis sepeda motor. Padahal, jika dipikir secara logika, di sekitar tempat kerjanya tentu bertebaran bengkel serupa. Namun, pilihannya untuk tetap turun ke Semarang bawah membuktikan satu hal: kepercayaan . Rasa sreg pada bengkel langganan mengalahkan jarak tempuh yang jauh. Sebuah loyalitas yang mungkin sulit dipahami orang awam, tapi sangat masuk akal bagi seorang pemilik kendaraan. Seni Menyambung Silaturahmi Saya selalu mengagumi kecerdasan sosial beliau. Datang bertamu dengan membawa oleh-oleh bukan sekadar forma...

Kedatangan Sang Pembawa Rezeki: Nostalgia dan Harapan Baru

Gambar
[ Artikel 39#, kategori Amir ] Lama tak ada kabar, tiba-tiba saja beliau satu ini mengabari bahwa ia akan datang dan menetap sebentar di Semarang . Entah apa yang membawanya kembali, namun diam-diam saya berharap kedatangannya ini membawa hoki atau keberuntungan dalam kisah hidup yang sedang saya jalani belakangan ini. Kawan lama saya ini, salah satu sosok sukses yang dulu pernah menjadi bagian dari komunitas dotsemarang bersama-sama, memberitahu bahwa penempatan pekerjaannya kini berada di sekitaran Jawa Tengah . Kepindahannya ini lagi-lagi terjadi, setelah sebelumnya ia dan sang istri menjalani hiruk pikuk kehidupan di Jakarta . Sejujurnya, saya malah baru tahu jika kemarin-kemarin ia sempat berada di Ibu Kota. Tapi sudahlah, itu bukan lagi urusan saya. Kisahnya dan kisah saya memang sudah berjalan di jalur yang jauh berbeda. Berkah Rezeki yang Kontroversial Jujur, awalnya saya sempat merasa enggan untuk menerimanya datang. Bukan tanpa alasan, dahulu saya sering merasa keberunt...

Keputusan yang Disesali

Gambar
[ Artikel 38#, kategori Amir ] Dulu saya berharap banyak kepadanya. Apalagi kapal yang kami bangun butuh banyak orang direkrut. Saya menghargai kemampuannya, terutama bagaimana cara dia berkomunikasi. Namun sekarang entah kenapa saya menyesali keputusan yang saya ambil dulu. Hari ini, 6 Desember , cuaca Kota Semarang sedikit adem. Ada angin dan gerimis yang jadi satu paket yang menandakan hujan masih akan dialami hari ini. Namun saya kaget, sosok itu tiba-tiba menghubungi dan mengatakan sudah di depan pintu. Keputusan yang disesali Ternyata dia sudah menghubungi si bungsu pemilik rumah. Tidak heran ia membawa oleh-oleh khas tempat tinggalnya dengan penuh antusias. Saya sadar di sini bahwa saya bukan siapa-siapa baginya. Maksud saya nilai saya sebagai orang yang mengulurkan tangan saat dulu membawanya kembali ke Kota Semarang. Saya tidak menyukainya, terutama kondisinya. Bukan saya iri dengan keberhasilan pribadinya yang melewati saya. Tapi, saya seolah tidak dihargai sama sekali....

Tidak Ada Dodol Tape Hari Ini

Gambar
[ Artikel 37#, kategori Amir ] Orang baik ini kembali datang setelah lebaran ketiga bersama pasangannya, Minggu malam (14/4). Saya berharap kedatangannya membawa tape dodol yang selalu jadi favorit saya. Ternyata, harapan itu sirna. Saya pernah ingat dia bilang jika ke Semarang akan membawa jajanan yang menjadi kesukaan saya dari tempat tinggalnya. Tidak perlu diberitahu katanya, pasti dibawa. Namun kali ini saya kecewa karena ia bukan saja tidak membawanya tapi juga seakan tidak mengingat saya soal itu. Anehnya, dia membawa makanan khas dari tempat tinggalnya untuk pemilik rumah. Sepertinya saya dimatanya memang bukan siapa-siapa. Dia tahu mana orang yang paling berjasa dalam hidupnya. Ah sudahlah, berpikir positif saja mungkin memang dia lupa dan lagi nggak punya uang saja. Tidak berubah Saya pikir sifat pria akan berubah usai ia memiliki pasangan. Ternyata tidak sama sekali. Entah apa yang dialaminya atau si pasangan tidak menyadarinya. Saya harap ia bisa berubah dan hubunganny...

Mengambil Alih Pekerjaan

Gambar
[ Artikel 36#, kategori Amir ] Dengan tidak tinggal lagi di rumah karna sudah menikah, mau tidak mau pekerjaan yang biasanya dipegang olehnya, terpaksa saya ambil. Ya, terpaksa. Karena tidak ada pilihan lagi. Semoga saya sehat selalu saja. Dulu, saya sering mengabaikan pekerjaan orang bawah (si Amir) yang disuruh antar jemput ke Jogja dan Semarang. Saat diajak olehnya pun, saya tidak ingin. Toh, pembagian kerjaannya jelas. Saya di rumah bersih-bersih, ngurus tetek bengek dan hal kecil. Sedangkan urusan jemput menjemput, saya berikan kepadanya. Masa semua saya harus handle. Jangan egois kata saya dalam hati. Kena karma Sekarang, pekerjaan saya ambil semua. Meski ada menantu di rumah si pemilik rumah yang juga sangat rajin bersih-bersih. Saya jadi tidak enak sendiri karena dia adalah wanita dengan satu anak dan saya pria single. Saya seperti terkena karma karena mengambil alih pekerjaan si Amir. Sudah sejak akhir tahun 2022 kemarin hingga sekarang, saya terus bolak-balik antara Jogja dan...

Akhirnya Menikah Juga

Gambar
[ Artikel 35#, kategori Amir] Andai orang rumah tidak datang, mungkin saya tidak akan menyaksikan pernikahan orang satu ini. Saya turut bahagia dengan momen pernikahannya. Semoga langgeng hingga tua. Ini kesekian kalinya mengunjungi rumah si pria berkacama bersama orang rumah. Bedanya kali ini dengan dulu adalah rombongannya berbeda.  Bila dulu, banyak anak mudanya. Kali ini lebih ke orang tua. Pemilik rumah sebenarnya yang meluangkan waktu untuk seseorang yang tidak saya sukai semenjak melepaskan tanggung jawabnya terhadap dotsemarang. Menghormati keinginan orang tua Saya tidak tahu apakah harus iri atau malah bangga. Pilihan menikah ternyata lagi-lagi cerita tentang keinginan orang tua. Memang wajar sih, apalagi dengan umur di atas 30 tahun. Siapa tidak menginginkan cucu bagi orang tuanya. Dengan pekerjaan yang solid dan gaji bulanan yang di atas rata-rata, tidak ada kata mundur karena alam semesta rasanya sudah merestui. Saya pun akan berpikir demikian apabila berada di posisin...

Purwokerto

Gambar
[ Artikel 34#, kategori Amir ] Ada perasaan lega ketika seseorang keluar dari hidup kita. Namun disaat itu juga, ada beban yang ditinggalkan. Aneh memang, sebenarnya apa yang diharapkan. Kini, masa lalu itu benar-benar sudah ditinggalkan. Semoga kita semua selalu bahagia. Orang yang paling saya percayai dan saya bawa untuk membantu dotsemarang terbang tinggi akhirnya jadi orang terakhir yang meninggalkan Ibu Kota Jawa Tengah. Semenjak ia menerima fasilitas yang seharusnya ia bicarakan dulu kepada saya, sejak itu rasa hormat saya sudah hilang. Dan kini, saya benar-benar percaya bahwa orang baik itu tidak akan pernah ada yang setia. Selama kesempatan datang untuk menyelematkan. Purwokerto Kota yang pernah saya lewati tapi tak pernah disinggahi. Saya jadi ingat waktu dulu saat bersamanya melewati Kota ini setelah menghadiri undangan dari rekan blogger dari Banyumas. Ternyata jodohnya Ibu Kota Kabupaten Banyumas ini adalah dia. Pekerjaan yang mengharuskannya pergi disertai jabatan tinggi m...

Pergi ke Jogja

Gambar
[ Artikel 33#, kategori Amir ] Ia melepaskan semua tanggung jawab ketika telpon itu datang untuk bersiap. Entah sejak kapan dedikasinya diberikan begitu besar kepada beliau. Pekerjaannya ditinggal, apalagi tanggung jawabnya di rumah.  Ketika saya sangat berharap ia membantu saya memegang sapu atau membersihkan sebagian rumah, meski akhir pekan , ia hanya tidur menghabiskan hari libur bila tidak bekerja. Namun anehnya, ia sangat bersemangat pergi kala malam menjemput atau sok sibuk sendiri dengan melenggang bersama si merah. Hari ini, Jumat (10/12), pemilik rumah datang. Seperti biasa ia langsung pergi ketika dihubungi. Pelajarannya hari ini Orang-orang terlihat baik, penuh tanggung jawab dan berdikasi sebenarnya bukan karena ia seperti itu wujud aslinya. Seperti melihat 2 karakter. Entah kenapa orang seperti ini ada. Saya harap wujud aslinya tidak menjadi bumerang bagi dirinya. Artikel terkait : Bawa Mobil Pulang Pergi Ke Gunung Kebiasaan Lagi Lainnya

Bawa Mobil

Gambar
[ Artikel 32#, kategori Amir ] Ini adalah kali pertamanya dia pulang membawa mobil. Menyenangkan pasti. Bertemu keluarga besar di rumah dan sekalian sedikit memperlihatkan prestasi yang selama ini tidak terlihat oleh orang di tempat tinggal. Saya pun merasakan masa-masa itu dulunya. Kesampaian juga ia pulang setelah lebaran keputusannya bertahan seperti tahun lalu untuk tidak mudik. Apalagi anjuran pemerintah kali ini lebih ketat. Harus bawa surat bebas Covid-19. Si Merah yang tidak jadi dijual ikut mudik oleh orang yang merawatnya di Semarang. Saya harap baik-baik saja setelah kembali nantinya. Andai saya pulang dengan membawa mobil, mungkin saya akan ajak keluarga liburan atau mentraktir ke tempat-tempat yang belum pernah dikunjungi. Menyenangkan ketika raut wajah orang tua tersenyum melihat kita. Sehat selalu buat kita semua. Tanggal 26 Mei, hari Rabu, bertepatan dengan Hari Raya Waisak. Artikel terkait : Pulang Pergi Ke Gunung Kebiasaan Lagi Orang Sosial Jangan Biarkan Itu Terbuka ...

Pulang

Gambar
[ Artikel 31#, kategori Amir ] Menyenangkan bisa pulang. Bertemu orang rumah, keluarga dan mengenang masa silam. Namun pulang jangan disalahartikan. Seolah tanpa beban dan membiarkan keadaan. Akhir pekan selalu datang dengan penuh harapan. Hari-hari yang sibuk mungkin bisa dimaklumi menjadi alasan ketika tempat tinggal yang dijadikan pijakan malas diperhatikan. Sayangnya, kita hidup tidak sendirian. Ada orang lain yang bekerja keras untuk membersihkan. Harapan demi harapan selalu sirna tak kala tubuhnya tak bergerak sama sekali. Terkadang malah pergi untuk melepaskan penat dengan pergi ke gunung. Atau sibuk karena pekerjaan belum usai dan menghabiskan akhir pekan tanpa sadar. Ketika tubuhnya tidak pergi ke mana-mana, harapan itu datang lagi. Sayang kembali sirna dan berakhir menjadi petang. Ia tak melakukan apa-apa juga. Pulang Kini, kesempatan datang lagi. Akhir pekan malah pulang. Meninggalkan pekerjaan rumah yang tak mungkin dihandle seorang diri layaknya pembantu yang tak dibayar. ...

Pergi Ke Gunung

Gambar
[ Artikel 30#, kategori Amir ] Entah sejak kapan, gunung menjadi ramah untuk didatangin. Begitu terlihat menarik baginya seolah prestasi untuk label seorang pria. Dibalik kemewahan itu, ia lupa siapa sebenarnya dirinya. Ketika dukungan membentuk seseorang, tak lantas harus berpaling pada kenyataan. Bahkan, melupakan. Yang terjadi hari ini adalah kesalahan dan semoga suatu hari ia menyesal melakukan. Tebakan benar, semakin hari ia semakin jumawa. Dari yang biasa, menjadi terkesan luar biasa. Seolah kenyamanan membutakan dirinya yang sederhana. Akhir pekan yang seharusnya datang dengan keuletan dan perhatian dari keadaan, malah dibuang dengan keinginan lebih besar. Merayakan kepuasaan batin dan hegemoni orang-orang yang saling mengenal. Di tempat asal, rumah yang seharusnya memberi kenyamanan malah tidak diperlakukan semestinya alasan ia tinggal. Seolah bertukar peran, siapa tuan dan siapa pembantu. Apakah pengalaman tinggal di kamar kosan membuat acuh terhadap lingkungan yang lebih besa...

Kebiasaan Lagi

Gambar
[ Artikel 29#, kategori Amir ] Orang ini tidak pernah bangga dengan apa yang sudah dipinjamkan kepadanya. Ada yang lebih menarik, yang lama ditinggal. Kejadian terus berulang dan yang melihat diharap maklum. Semoga dia menyesal kemudian. Saya menegurnya untuk menaruh kunci kendaraan tidak di kamarnya. Toh, itu bukan miliknya. Kendaraan itu digunakan untuk keperluan orang rumah, bukan pribadi.  Lantas ia menunjukkan apa yang telah dilakukan selama ini, seakan tanpa dia, itu tidak berjalan dengan baik. Sampai sini saya mengerti bahwa ia mulai menuntut. Tahun 2021, ia mulai menunjukkan kebiasaannya lagi. Padahal yang ia pakai, bukan milik pribadi. Entah keberanian apa yang ia miliki, padahal dengan gajinya yang besar untuk ukuran saya, seharusnya ia bisa memikirkan masa depannya lebih baik lagi. Bukan menunjukkan kekuatan yang menopang dia selama ini. Saya dilema. Apakah saya benar membawanya masuk ke lingkaran ini atau hanya menunggu waktu saja saat ia sadar bahwa ia bukan siapa...

Orang Sosial

Gambar
[ Artikel 28#, kategori Amir ] Orang-orang menyukai tampilan, perbuatan dan sikap baik. Mudah berkomunikasi apalagi, hingga dapat berinteraksi dengan sekitar. Orang ini saya sebut orang sosial. Duuk.. bunyi benturan dari luar kamar dan saya langsung melihat apa yang terjadi. Ternyata dia. Saat ditanya sedang mencari sesuatu untuk di luar yang sedang memasang tenda sebelum malam tirakatan. Sosial tinggi Saya jadi penasaran dengan bunyi tadi. Rasanya kakinya membentur sesuatu. Sesaat setelah tiba di tempat, tidak terjadi apa-apa. Tidak ada pecah atau rusak. Hanya saja terlihat semacam pasir yang berserakan tanpa dibersihkan olehnya. Dia menurut saya begitu sempurna di mata masyarakat. Benar-benar kebalikan dari saya yang lebih menyukai berdiam di rumah tanpa terlibat apapun dengan lingkungan. Melakukan apa saja saat diminta tolong adalah sifat baiknya yang layak dipuji. Orang-orang yang mengenalnya juga pasti menyukai karena persepsi yang terbangun adalah positif. Sifatnya yang dari dulu...

Jangan Biarkan Itu Terbuka

Gambar
[ Artikel 27#, kategori Amir ] Saya menyukai orang-orang yang memiliki efek kejut atau tidak terduga. Hanya saja, terkadang semua harapan tidak dapat disematkan pada keseluruhan. Lelah rasanya untuk menjaga momentum itu tetap sempurna. Kita selalu bersemangat tentang sesuatu secara bersama atau sesuatu yang menarik perhatian. Ada ruang untuk berkembang dan dikenal. Nilai kita jadi tinggi. Tapi itu semua akan sia-sia jika yang sebenarnya tidak sesempurna itu. Kekurangan bukan untuk ditunjukkan, tapi bagaimana menjadikan kekurangan sebagai kekuatan. Kesalahan berulang tentu seharusnya diperbaiki, bukan membuat sakit hati. Orang-orang yang sudah mati rasa, tidak akan lagi bersedia menjaga perasaan itu. Artikel terkait : Pergi mancing Koran Gas Kosong Jangan Tunjukkan Kelemahanmu Lainnya

Pergi mancing

Gambar
[ Artikel 26#, kategori Amir ] Tidak peduli apa yang akan dilakukannya. Hanya saja, jangan bawa aset rumah dalam aktivitas pribadi. Merasa berjasa dan selalu dibutuhkan, terkadang membuat takabur. Dini hari seperti biasa terbangun. Hari ini kesiangan, sudah setengah 4. Meski sebelumnya sudah bangun jam 1. Karena masih ngantuk, tidur lagi. Saat ingin sarapan, entahlah kenapa waktu sahur sekarang jadi kebiasaan buat sarapan, ada dia. Yang buat kesel adalah ingin sarapan, nasinya tidak ada. Rice cooker terbuka dengan isinya yang berada di wastafel pencucian. Kenapa tidak memasak nasi? Alasannya, karena ia makan tadi jam 2 pagi dan sisa nasinya masih keras. Coba dipikir lagi, ini sudah jam setengah 4, seharusnya mudah dicuci. Emang dasar gak punya niat. Pergi memancing Dini hari ini tidak biasanya ia sudah bangun dan bersiap dari pakaian yang terlihat. Ia pergi mancing katanya. Saya yang sudah malas karena tidak ada nasi buat sarapan sambil berusaha membuat mie rebus, hanya menjawab sekila...

Koran

Gambar
[ Artikel 25#, kategori Amir ] Hanya bisa melihatnya. Seakan memanggil untuk memindahkannya. Hari demi hari terlewati dan kini sudah 1 bulan terganti. Kapan koran itu disingkarkan? Batin saya menyakinkan. Dulu saya pernah berlangganan koran. Saat itu, koran masih murah dan gudang informasi. Internet masih susah, alias jaringannya yang belum kencang seperti sekarang. Koran ini tergeletak di lantai rumah. Hanya digunakan sebagian untuk membungkus barang yang mau dikirimkan ke luar Jawa. Entah kenapa sisa koran tersebut tidak disingkirkan, setidaknya masih berguna bila disimpan di tempat yang aman.  Manusia ketika tidak membutuhkan, mereka menyia-nyiakan. Namun ketika diperlukan, dicari sampai ketemu. Bila tidak, terpaksa mengeluarkan isi dompet dan menelusuri panasnya jalan raya. Sangat dekat Kakinya sering melewati tapi tidak mau menghinggapi. Bentuknya yang lebih besar dari piring buat makan seolah tidak kelihatan oleh matanya. Apakah begini rasanya andai jadi mantan? Tahu tapi tid...

Gas Kosong

Gambar
[ Artikel 10#, kategori rumah ] Terbiasa dengan beragam fasilitas yang sudah ada, belum tentu orang itu termasuk berada (Kaya). Kalau ada, kenapa dibuat merana. Kali ini tentang gas yang sangat membantu ketika tidak ada pemasukan.  Memasak bukanlah hobi buat saya, tapi bagian penting dalam menjalani kehidupan sehari-hari saat mode hemat . Saat pemasukan tidak ada, saat mencoba konsisten dengan makanan dan saat mencoba memasak dengan bahan yang murah tapi bisa bertahan lama. Kreatif yang tidak bertanggung jawab Dan mendadak gas di rumah habis oleh orang rumah setelah digunakan untuk memasak. Kecewa, tentu saja. Apalagi baru datang dari luar kota (Karanganyar). Awalnya tidak berpikir itu sebagai kesalahan. Wajar sajalah. Hari berganti hari, Minggu berganti minggu. Gas tetap kosong. Sempat berpikir patungan beli gas saat masih ada uang, karena si orang rumah ini sudah menghubungi pemilik rumah, tidak jadi deh. Kesel juga waktu itu karena pemilik rumah tidak ta...

Jangan Tunjukkan Kelemahanmu

Gambar
[ Artikel 61#, kategori motivasi ] Setiap orang memiliki kelemahannya masing-masing. Beberapa orang mungkin sadar dengan kelemahan mereka dan sebagian memakluminya. Bila kamu memiliki kelemahan, cobalah jangan tunjukkan. Bukan tentang seberapa buruk kamu atau apakah ingin diterima, tapi ada hal lain yang bisa kamu lakukan. Berkali-kali dilakukan (menunjukkan kesalahan) seperti tidak pernah belajar. Saya tahu bahwa kamu memiliki kekurangan. Tapi tolong, jangan tunjukkan kepada saya. Saya tahu bahwa potensimu lebih besar dari kekuranganmu. Ditutupi seperti apapun, ketika kamu akhirnya terus-menerus menunjukkan kekuranganmu, kamu hanya akan dikenal karena kesalahan.  Bagaimana mengatasi sebuah kekurangan? Ingatlah bahwa ketika kekuranganmu diketahui orang, cepatlah perbaiki dan jangan lakukan lagi. Seperti menginjak kotoran binatang, tidak mungkin terus-terusan menginjaknya karena jalan yang dilalui hanya itu saja. Bila harus begitu, gunakanlah kendaraan atau kala...

Libur Kerja, Milih Tidur Seharian

Gambar
[ Artikel 22#, kategori Amir ] Orang-orang yang punya tanggung jawab, saya pikir tidak akan melakukannya. Namun sebaliknya. Karena alasan keadaan, terkadang dibenarkan. Saya menunggu apa yang dilakukannya setelah ia mendapat libur dari aktivitas pekerjaannya. Berangkat pagi, pulang malam, hampir setiap hari adalah rutinitas yang dilakukannya sekarang setelah sukses mendapatkan pekerjaan. Pekerjaan yang begitu mudah didapatkan bagi lulusan sarjana. Dia begitu sibuk, sampai lupa ia tidak tinggal di rumah sendiri atau kamar kos. Kenyataannya seolah lupa daratan. Jiwa saya berontak, saya bukan pembantunya. Ketika mendapat jatah libur, saya menunggu gebrakannya untuk menghargai ia bukanlah pemilik rumah yang menghargai filosofi dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Awal-awal masih diingatkan, ia melakukannya. Membersihkan rumah dan aktivitas lain. Semakin ke sini, ia melupakannya dan memilih tidur panjang. Entah apakah dia mendadak lupa ingatan atau memang senang melu...

Pulang Malam

Gambar
[ Artikel 21#, kategori Amir ] Mendapatkan pekerjaan itu menyenangkan, apalagi gajinya sesuai harapan. Berpikir menjadi seorang pekerja, hanya perlu mencintai apa yang dilakukan dan berusaha mengikuti arus yang ada.  Melihat seseorang begitu semangat bekerja, tentu juga tertular rasa bahagia. Namun tak disangka, pekerjaan yang berhasil didapatkan membuat prihatin. Pulang malam sudah menjadi gambaran satu bulan setelah diterima dan mungkin, masa depan akan terbentuk dari sini. Andai hidup sendiri, mungkin tak perlu khawatir bahwa tidak ada orang yang berada disekitar. Hanya saja, situasinya berbeda ketika seseorang tersebut tinggal satu atap dengan orang lain. Harapan menjadi lebih baik malah berubah jadi prasangka. Sibuk dengan dunianya Saya sudah cukup tahu diri untuk membiarkan keadaan dari tuan rumah yang tak perlu memikirkan bagaimana kehidupan di rumah. Namun akhir-akhir ini, saya harus juga memaklumi seseorang yang baru menikmati dunianya iku...