Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Purwokerto

[Artikel 34#, kategori Amir] Ada perasaan lega ketika seseorang keluar dari hidup kita. Namun disaat itu juga, ada beban yang ditinggalkan. Aneh memang, sebenarnya apa yang diharapkan. Kini, masa lalu itu benar-benar sudah ditinggalkan. Semoga kita semua selalu bahagia.

Orang yang paling saya percayai dan saya bawa untuk membantu dotsemarang terbang tinggi akhirnya jadi orang terakhir yang meninggalkan Ibu Kota Jawa Tengah.

Semenjak ia menerima fasilitas yang seharusnya ia bicarakan dulu kepada saya, sejak itu rasa hormat saya sudah hilang. Dan kini, saya benar-benar percaya bahwa orang baik itu tidak akan pernah ada yang setia. Selama kesempatan datang untuk menyelematkan.

Purwokerto

Kota yang pernah saya lewati tapi tak pernah disinggahi. Saya jadi ingat waktu dulu saat bersamanya melewati Kota ini setelah menghadiri undangan dari rekan blogger dari Banyumas.

Ternyata jodohnya Ibu Kota Kabupaten Banyumas ini adalah dia. Pekerjaan yang mengharuskannya pergi disertai jabatan tinggi meninggalkan beban tersendiri. Dengan berkendara motor, ia melenggang pergi (8/1/21).

Semenjak menjadi bagian rumah di sini, ia memang bukan lagi orang yang saya kenal saat tangan saya membawanya kembali ke Kota Semarang.

Sikapnya yang hanya menuruti orang-orang rumah, mau tidak mau memberi beban baru kepada saya yang sudah memutuskan hidup dalam kesunyian.

Tugas satu rumah yang sudah dikerjakan bertahun-tahun, kini bertambah dengan tugas-tugas manusia yang patuh terhadap ajakan. Antara tantangan atau juga sebuah tanggung jawab yang dipaksa berat.

...

Bismillah, semoga saya kuat. Dan selamat pindah ke tempat baru. Orang-orang melihatmu sebagai orang baik, jangan sampai orang-orang melihat buntut di belakangmu.

Mari kembali bekerja keras, dotsemarang!

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini