Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Kompak! Real Madrid dan MU Mengawali Tahun 2022 dengan Kekalahan

[Artikel 12#, kategori Real Madrid] Tidak ada yang benar-benar mengharapkan tim favorit mereka mendapatkan hasil buruk atau kalah. Namun jika semua tim favorit kalah, sepertinya ada yang salah. Ada apa dengan Madrid dan Manchester United?

Lama juga tidak memposting Real Madrid di blog. Terakhir kali pada bulan Mei 2021. Madrid saat itu sedang kalah melawan Chelsea dan gagal lolos ke final.

Mengawali awal tahun 2022, ini adalah tulisan pertama tentang Real Madrid. Sayang tidak mulus di awal. 

Bertandang ke kandang Getafe, Madrid keok dengan skor 1-0. Mungkin pengaruh kandang lawan dan masih suasana tahun baru? Entahlah.

Manchester United ikut keok

Selang beberapa hari kemudian, giliran Manchester United bermain melawan Wolves di kandang sendiri, Selasa dini hari (4/1).

Di atas kertas, seharusnya tim bisa mengalahkan dan apalagi dukungan suporter yang besar di dalam stadion.

Sial, malah ikutan tergelincir. MU kalah 1-0 dari Wolves. Kegagalan ini juga memperlihatkan bagaimana strategi Rangnick tidak berjalan sama sekali.

Jika begini, yang salah bukan pelatih. Pemain seolah bermain setengah hati. Ini berbeda dari awal-awal kedatangan Rangnick.

Entahlah, ada apa dengan para pemain. Apakah filosofinya tidak dipahami atau maunya diberi waktu terus. Mau sampai kapan?

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini