Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Pulang Malam


[Artikel 21#, kategori Amir] Mendapatkan pekerjaan itu menyenangkan, apalagi gajinya sesuai harapan. Berpikir menjadi seorang pekerja, hanya perlu mencintai apa yang dilakukan dan berusaha mengikuti arus yang ada. 

Melihat seseorang begitu semangat bekerja, tentu juga tertular rasa bahagia. Namun tak disangka, pekerjaan yang berhasil didapatkan membuat prihatin.

Pulang malam sudah menjadi gambaran satu bulan setelah diterima dan mungkin, masa depan akan terbentuk dari sini. Andai hidup sendiri, mungkin tak perlu khawatir bahwa tidak ada orang yang berada disekitar.

Hanya saja, situasinya berbeda ketika seseorang tersebut tinggal satu atap dengan orang lain. Harapan menjadi lebih baik malah berubah jadi prasangka.

Sibuk dengan dunianya

Saya sudah cukup tahu diri untuk membiarkan keadaan dari tuan rumah yang tak perlu memikirkan bagaimana kehidupan di rumah.

Namun akhir-akhir ini, saya harus juga memaklumi seseorang yang baru menikmati dunianya ikut dalam lingkaran diri sendiri.

Bangun pagi, pulang malam dan begitu setiap hari. Bahkan akhir pekan yang menjadi satu-satunya rasa peduli terhadap rumah, diambil menjadi hari libur untuk menyenangkan diri sendiri.

Saya terjebak. Saya tidak dapat berkata apa-apa. Yang saya tahu, saat ini saya memegang sapu lebih banyak dari hari biasanya.

Mungkin ini adalah cara olahraga baru agar tubuh sehat. Tapi, bagaimana dengan tanggung jawab. Di sini bukan kos, seenaknya pulang pergi tanpa berbuat apa-apa. 

Pulang malam

Tubuh lelahnya sudah terbaring saat saya bangun dini hari. Entah jam berapa dia pulang. Apakah dia sudah mandi? Entahlah, hidung saya tidak sensitif terhadap bau.

Saya tidak mengerti, mengapa pekerja baru malah pulang malam hampir setiap hari? Risiko pekerjaan karena digaji? Atau tidak enakan karna ajakan?

Bila tahu keadaannya begini, saya sangat bersyukur bahwa saya tidak memiliki gaji tiap bulan. Meski terlihat menderita karena uang selalu pas-pasan, saya bahagia dengan banyak waktu.

...

Begitulah menjadi orang lain yang ada disekitar kita. Saat kita sibuk dengan dunia sendiri, mereka tidak diam sebenarnya. Suara hati mereka menari-nari dipikiran.

Pulang malam, saya harap tidak lupa dengan tanggung jawab sebagai manusia.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini