Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Dibalik Layar Postingan Bioskop Central City XXI; Makan Nasi Kucing


[Artikel 4#, kategori dibalik layar] Postingannya rilis tidak berapa lama setelah kunjungan di hari pembukaan, Kamis (17/10). Maklum saja, perasaan saya mengatakan bahwa ini harus cepat terbit karena masih segar. Cek di sini untuk melihat artikelnya.

Setelah diantar ke depan, jalan besar, oleh orang rumah dengan motor, saya langsung bergegas menuju halte bus. Maksud hati berhemat, tapi setelah tiba di Central City, rasanya tidak afdol tanpa merasakan langsung tempat duduk di dalam studio.

Saat saya tiba, pengunjung mal masih sepi. Pendingin ruangan pun lebih nyaman di dalam bioskop ketimbang mal. Entah, apakah ini standar operasional bioskop.

Belajar dari pengalaman datang ke bioskop Transmart Majapahit, bioskop Cinema XXI Central City juga sama. Tak ada acara khusus atau tertentu untuk meresmikan kehadiran atau memberi penonton pertama mereka dengan suprise. Benar-benar seperti biasanya pergi ke bioskop.

Setelah tiket udah digenggaman, harganya lebih murah dari standar 21 pada umumnya di Semarang dan sama seperti bioskop tetangga depan, saya memutuskan langsung keluar mal untuk mengisi perut.

Saya tidak mungkin mengeluarkan duit lagi untuk sekedar merasakan pengalaman pop corn atau cemilan lain dari pihak bioskop. Ada 1 jam untuk bersantai dan mengisi perut.

Untunglah kawasan sekitar banyak warung kecil yang menjual makanan. Pilihan akhirnya jatuh pada nasi kucing agar lebih hemat karena telah mengeluarkan biaya untuk bioskop.

Membuat konten ini sebenarnya mudah, tinggal ambil di Instagram dan tambahkan beberapa informasi pendukung untuk melengkapi. Tapi kali ini saya tidak melakukannya. Kalau bisa dijangkau, untuk apa saya melakukannya.

Dua bungkus nasi kucing plus es teh manis seharga 8 ribu rupiah selesai disantap. Kini waktunya masuk ke bioskop. Ada masih banyak waktu tersisa.

Jangan lupa mampir blog dotsemarang.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini