Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Tidak Ada Dodol Tape Hari Ini

[Artikel 37#, kategori Amir] Orang baik ini kembali datang setelah lebaran ketiga bersama pasangannya, Minggu malam (14/4). Saya berharap kedatangannya membawa tape dodol yang selalu jadi favorit saya. Ternyata, harapan itu sirna.

Saya pernah ingat dia bilang jika ke Semarang akan membawa jajanan yang menjadi kesukaan saya dari tempat tinggalnya. Tidak perlu diberitahu katanya, pasti dibawa.

Namun kali ini saya kecewa karena ia bukan saja tidak membawanya tapi juga seakan tidak mengingat saya soal itu. Anehnya, dia membawa makanan khas dari tempat tinggalnya untuk pemilik rumah.

Sepertinya saya dimatanya memang bukan siapa-siapa. Dia tahu mana orang yang paling berjasa dalam hidupnya. Ah sudahlah, berpikir positif saja mungkin memang dia lupa dan lagi nggak punya uang saja.

Tidak berubah

Saya pikir sifat pria akan berubah usai ia memiliki pasangan. Ternyata tidak sama sekali. Entah apa yang dialaminya atau si pasangan tidak menyadarinya.

Saya harap ia bisa berubah dan hubungannya dengan pasangannya tetap awet sampai tua. Sedih rasanya ketika masalah sepele akan merusak segalanya.

Satu sisi saya iri saat berharap pasangan, orang lain dengan mudah mendapatkannya. Memang takdirnya ia sebagai orang baik diberi pasangan yang baik.

...

Akhirnya ia kembali dengan terpaksa karena pemilik kamar aslinya segera tiba, Kamis pagi (18/4). Saya ingin menahannya tapi bingung karena sekarang ia bersama pasangannya. Mau tidur di mana coba?

Kalau masih single, bisa numpang di kamar saya seperti dulu saat awal-awal dia ngikutin saya. Sekarang sudah tidak nyaman lagi, baik diri saya yang ingin lebih sendiri maupun dia yang sudah punya istri.

Andai saja saya tidak menolongnya, mungkin garis hidup saya akan berubah.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini