Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Kembali ke Jogja: Pulang

[Artikel 15#, kategori Jogja] Saya pikir masih sempat bermain futsal Selasa malamnya. Tapi, malah sudah harus pergi lagi ke Jogja. Padahal rencana pulang dari bandara Jogja hari Kamis (25/4), eh malah liburan dulu. Maafkan saya rekan-rekan futsal saya.

Selasa menjelang siang (23/4), akhirnya kami akan kembali ke Jogja. Pemilik rumah yang datang sejak akhir bulan Maret harus sudah kembali ke Kota Samarinda melalui bandara Jogja. 

Kenapa harus selalu pergi lewat Jogja? Itu karena penerbangan pesawat dari Jogja bisa langsung ke Kota Samarinda. Sedangkan jika dari Kota Semarang, maka masih harus tiba di Kota Balikpapan. Sedangkan jarak Samarinda dan Balikpapan jika tanpa tol waktu tempuhnya bisa 2 jam lebih.

3 hari 2 malam

Kali ini tidak menginap di apartemen seperti biasanya. Melainkan menginap di salah satu hotel. Yang ikut ngantar kali ini ada si menantu dan cucu kesayangan pemilik rumah. Jadinya, hotel menjadi alternatif terbaik untuk kali ini.

Dulu ketika harus pergi ke Jogja, mungkin saya akan pasti mengeluh karena keluar kamar itu artinya membawa pekerjan ikut serta. Karena sekarang sudah terbiasa, mau nggak mau harus memainkan perasaan saja.

Berbeda saat kedatangan akhir bulan Maret kemarin, berada di Jogja kali ini terbilang lebih lama. Satu sisi itu menyenangkan, namun sisi lain saya harus memanajen waktu antara jadi driver dan bangun dini hari untuk mengurusin dotsemarang.

Untunglah menginap kali ini di hotel. Suasananya agak nyaman, meski satu kamar dengan pemilik rumah. Ada perasaan segan dan dag dig dug bersama beliau. Maklum, saya kudu bangun pagi-pagi dan tidur lebih awal. Sebaliknya, beliau adalah orang yang kuat begadang. Maka dini hari pasti masih terjaga.

...

Saya sudah sangat lelah mengendara dari Kota Semarang menuju Jogja. Sesampainya Jogja, posisi tetap driver membuat saya harus tetap terjaga meski tubuh juga mulai kurang bergairah (capek maksudnya).

Dah, lah. Sekian dulu sampai sini. Pemilik rumah akan kembali hari Kamisnya, beberapa hari lagi. 

Artikel terkait :


Komentar

Postingan populer dari blog ini