Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Mampir Mal Hanya Untuk Pup


[Artikel 17#, kategori Lucu] Jika dipikir lagi, ini kejadian lucu yang saya alami. Ini terjadi saat saya sedang di Jogja. Suasananya sangat ramai, maklum momen natal. Tapi isi perut sudah di ujung tanduk, sulit ditahan lagi.

Hari ke-2 atau tanggal 25 Desember 2023. Kami memutuskan jalan-jalan sebelum esok harinya pulang. Ada banyak tujuan kali ini. Apalagi ada grup ibu-ibu dan anak muda, saya yang hanya driver hanya mangut-mangut saja saat disuruh ke sana atau ke sini.

Mendadak sakit perut

Ini Jogja, bukan Kota Semarang. Semakin sering saya ke sini, ternyata Jogja sangatlah luas daerahnya. Entah itu sedang berada di Kabupaten Sleman atau pusatnya, itu tetaplah saya sebut Jogja.

Tempat-tempat yang kami kunjungi saat itu, letakya jauh-jauh. Apalagi tempat kami menginap dan Pakuwon Mall Joga. Rute yang ditempuh berliku-liku karena masih mengandalkan google map sebagai teman perjalanan.

Nah, di sini sialnya. Sebelum tiba di tempat yang dituju, perut saya mules. Entah kenapa perjalanan sangat sangat lama terasanya. 

Singkat cerita, kami akhirnya tiba. Baru mau masuk ke mal, macet parah menyertai. Padahal jika jalan kaki saja, masuk ke malnya sangat mudah.

Akhirnya tiba di depan pintu utama mal. Karena sudah di ujung tanduk, saya minta ganti driver sama keluarga dan bergegas menuju toilet terdekat.

Kondisi kendaraan tidak langsung parkir. Hanya menurunkan para penumpangnya saja dan kemudian bergegas pergi lagi ke tempat tujuan berikutnya.

Ya, saya kemudian ditinggal tentunya. Ah, biarlah pikir saya karena tujuan utama saya harus tercapai terlebih dahulu. Oh ya, grup ibu-ibu tentu turun juga dan menghabiskan waktu di sini. Saya tidak ikut bergabung dengan mereka. 

Setahun lagi, mungkin kenangan ini akan membuat saya malu dan ketawa sendiri. Bagaimana tidak, ke mal terbesar yang ada di Jogja malah mampir untuk buang hajat (pup).

Selesai urusan, saya langsung menyusul keluarga lain dengan ojek online. Yah, lumayan jauh juga jaraknya lagi. Sepertinya saya akan tetap memilih Kota Semarang ketimbang Jogja jika begini.

...

Beruntung tujuan kami adalah Mal Pakuwon Jogja. Kita semua tahu toilet mal sudah 11 12 sama seperti hotel. Kesan mewah membuat nyaman beraktivitas di dalam biliknya. Yah, meski ada rasa kurang nyaman juga karena keramaian orang-orang yang begitu terasa kehadirannya.

Jadi nggak enak ketika suaranya terdengar. Kondisinya yang lagi di pucuk, tentu menimbulkan suara dan bau yang tidak ramah. Hahaha... saya ketawa geli sendiri membayangkan kondisi saya saat itu.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini