Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Gas Kosong


[Artikel 10#, kategori rumah] Terbiasa dengan beragam fasilitas yang sudah ada, belum tentu orang itu termasuk berada (Kaya). Kalau ada, kenapa dibuat merana. Kali ini tentang gas yang sangat membantu ketika tidak ada pemasukan. 

Memasak bukanlah hobi buat saya, tapi bagian penting dalam menjalani kehidupan sehari-hari saat mode hemat. Saat pemasukan tidak ada, saat mencoba konsisten dengan makanan dan saat mencoba memasak dengan bahan yang murah tapi bisa bertahan lama.

Kreatif yang tidak bertanggung jawab

Dan mendadak gas di rumah habis oleh orang rumah setelah digunakan untuk memasak. Kecewa, tentu saja. Apalagi baru datang dari luar kota (Karanganyar). Awalnya tidak berpikir itu sebagai kesalahan. Wajar sajalah.

Hari berganti hari, Minggu berganti minggu. Gas tetap kosong. Sempat berpikir patungan beli gas saat masih ada uang, karena si orang rumah ini sudah menghubungi pemilik rumah, tidak jadi deh.

Kesel juga waktu itu karena pemilik rumah tidak tahu apa-apa, harus dilibatkan oleh makhluk yang menempati rumah mereka. Seharusnya inisiatif diri untuk membeli. Yang gunakan siapa, yang habiskan siapa.

Saat saya terus memasak telur hanya lewat penanak nasi, orang ini malah gunakan alat memasak yang biasa dipakai saat mendaki. 

Alatnya sederhana, dan tabung gas kecil yang biasa ditemukan di mana-mana. Saya sering melihatnya saat acara untuk memanaskan makanan.

Dia menemukan solusi bagi dirinya sendiri. Sisi kreatif yang perlu diapresiasi. Namun saya membenci sikapnya yang tidak bertanggung jawab.

Andai dia berinisiatif membeli gas dengan cara patungan, mungkin saya menyerahkan uang yang saya dapatkan dari luar kota. Meski itu tidak banyak. Setidaknya kompor dapat menyala.


Ketika kompor bisa digunakan, saya bisa memasak tempe yang saya beli dengan harga 5 ribu rupiah. Saya dapat menghabiskannya selama 1 minggu. Apalagi kebutuhan nasi masih terpenuhi.

Terkadang saya benar-benar berhemat. Dan selalu belajar dari setiap masalah yang datang.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

📌 Realitas Finansial Juni 2026: Ketika Tagihan Menembus Angka 1 Juta dan Bertahan di Jalur Blogger