Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Hampir Saja


[Artikel 52#, kategori Pria Seksi] Saya memetik pelajaran hari ini dan mungkin sewaktu-waktu kembali terjadi. Sekeras apapun wanita, ia sebenarnya lemah. Terlihat garang, tapi sebenarnya ingin dilarang. Saya merasa bersalah hari ini.

Dewasa itu seperti memiliki 2 sisi. Apalagi berhadapan dengan generasi yang berbeda. Memaksakan hanya membuatnya patah dan siap-siap ditinggal pergi. Meski sebenarnya dewasa itu seharusnya lebih mengerti dan bersikap lebih lunak.

Hampir saja

Saya melepaskannya karena sempat berpikir kebahagiaan adalah tujuan akhir. Mau dipaksain sekeras apapun, bakal sulit ke depannya. Namun mendadak pikiran masa lalu datang. Apakah kejadian itu terulang kembali. Hanya bermodal kata-kata di perpesan online, ia pergi tanpa bersalah dan hanya membawa amarah.

Tidak-tidak. Ini tidak boleh terjadi lagi. Saya nggak boleh kalah kembali oleh masa lalu. Saya harus terus berupaya untuk menggagalkan perasaannya yang menguasai logika.

Untunglah saya menggagalkan rencananya. Benar-benar olahraga jantung kali ini. Perasaan yang sudah nyaman ini harus tetap terjaga hingga ia kembali. 

Kali ini harus lebih baik

Perjalanan ini baru saja dimulai. Tidak mungkin harus sudah mengucapkan selamat tinggal. Wanita kali ini memiliki pesonanya sendiri. Lebih menyenangkan dan menggoda tapi terkadang butuh sandaran untuk menjadi terang benderang.

Saya ingin menjadi tiang, tempat ia bersandar sebelum ia pulang. Dan saya sadar, sebagai tiang haruslah kokoh dan kuat. Bagaimana bisa membuatnya terbang tinggi ketika tiangnya mudah patah tak bertuan. Ya, saya harap melihatnya terus bersemangat. Penuh keceriaan dan tangan yang hangat.

Maafkan saya yang masih belum kuat.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

☕ Cerita Juli: Memulai Misi Hemat Bersama Kopi Luwak Sachet