Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Bagaimana Rasanya Ketika Dia Ternyata Mengaku Sudah Bertunangan?


[Artikel 51#, kategori Pria Seksi] Langsung Nyesek di dada. Diam seribu bahasa dan lalu pasrah. Meski perasaan terkhianati, tidak mungkin melanjutkan hubungan yang sudah berjalan bahagia ini.

Saya mencoba merasakan bagaimana bila posisi saya sebaliknya. Wanita yang dicintai dan sudah terikat malah berhubungan dibelakang dan memadu kasih.

Saya membisu persekian detik ketika sebuah percakapan dengannya membahas soal tunangan. Saya ditonjok, ditampar dan lemas seketika.

Saya ingin bangkit dari rasa kehilangan kesadaran yang begitu dalam dan berteriak, itu bohong kan! Jantung saya berdetak kencang. Pikiran dan perasaan bertolak belakang. Sungguh ini tidak nyata, bukan?

Lalu, pertanyaan berikutnya datang sebelum saya bernafas dengan tenang.

"Terus bagaimana?"

Seperti senjata yang menodong kepala, saya sangat pasrah bahwa saya akan mundur demi kebaikan. Saya bukan tidak berani berjuang, hanya saja jalannya sudah salah.

Sebagai laki-laki, saya tidak ingin memiliki cerita yang sama di masa depan. Entah apakah itu saya yang merasakan atau anak-anak saya kelak. Itu sebuah kesalahan. Bukan cinta yang indah seperti itu.

Saat semua dunia terasa berhenti berputar, perasaan tercerai berai, suara itu mengatakan bahwa itu hanyalah kebohongan. Dia mengerjai saya.

Meski terdengar lega, entah kenapa saya belum bisa berhenti gemetar. Kekalutan yang terjadi di dalam batin hanya menipu lewat senyuman dibibir.

...

Saya diam, tidak dapat berbuat apa-apa. Seperti orang yang lumpuh, kaki saya tidak dapat digerakkan. Saya mau rebahan, tapi kok sangat jauh dengan kenyataan.

Meski saya buruk atau dicap penjahat, saya tidak ingin melakukannya seperti itu. Kesalahan saya adalah tidak pernah tau hal penting seperti ini sebelum menjadikannya teman wanita (pacar).

Saya benar-benar shock! Dan semoga saya baik-baik saja tentang perasaan ini sekarang. Entah ada apa waktu itu kenapa saya dikerjain, yang pasti saya tidak sedang merayakan apapun.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini