Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Awalnya Izin Tidak Main, Eh Malah Bisa Main


[Artikel 52#, kategori futsal] Saya sudah pasrah ketika Jumat pekan ketiga di bulan Maret harus dilewati karena berkegiatan ke luar kota lagi bareng Disporapar Jateng. Dari sini saya belajar, secinta-cintanya saya bermain futsal, tetap saja teralihkan ketika harus liputan.

Saya sedang berada di bis, melihat pemandangan indah yang dilewati. Hari kedua, Jumat (13/3), saya tidak menyangka bahwa alasan futsal kali ini lagi-lagi karena sebuah pekerjaan. Saya sedih kenapa tahun ini banyak kegiatan dilakukan pas ada hari Jumat-nya.

Sebelum hari keberangkatan, saya bingung bagaimana bola yang saya bawa untuk dipakai setiap bermain harus saya kasihkan kepada salah satu rekan. Untunglah itu dapat dilakukan dan saya tenang bola dapat digunakan hari Jumat besok.

Karena kepergian kali ini adalah tanggung jawab dari sebuah pekerjaan, saya mengikhlaskan diri untuk tidak bermain. Kesempatan seperti ini tidak mungkin saya lepaskan.

Namun kebahagiaan itu datang seperti melihat sinar matahari terbit di pagi hari. Kunjungan tempat wisata rombongan kami ternyata berakhir lebih cepat. Itu artinya saya dapat bermain futsal malam harinya.

Saya tidak menyangka bahwa itu benar-benar nyata saat akhirnya tiba di depan kantor Disporapar Jateng yang berada di jalan Pemuda sore hari. Masih ada beberapa jam dan kali ini dipastikan tidak terlambat datang ke lapangan.

Ini luar biasa, perasaan saya saat sudah di dalam lapangan.
Saya tidak jadi libur futsal.

Tubuh yang tidak banyak beristirahat kali ini karena kebanyakan duduk dalam perjalanan dengan bis, mendadak teralihkan dengan kebahagiaan.

Aneh rasanya bahwa cinta itu dapat mengubah waktu. 
Terima kasih, Tuhan.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini