Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

22 Kilometer


[Artikel 18#, kategori sepeda] Jumat pekan ini adalah paling terberat bermain futsal. Setelah berkunjung ke salah satu hotel untuk berdiskusi soal acara bulan Maret, saya masih menyempatkan melihat suasana jalan Depok. Total saya bersepeda hari itu adalah 22 Kilometer.

Jarang-jarang saya memperhatikan jumlah jarak bersepeda saya, meski ada aplikasi pencatat di hape saya, yakni google fit. Namun hari ini (14/2), wajah lelah saya tidak dapat dibohongi saat ditanya rekan futsal saya setelah bermain.

Saya benar-benar lelah.

Saya seperti terlalu sombong setiap ditanya dari mana bersepedanya (baca rumah). Padahal saya hanya menyukai apa yang saya lakukan dengan konsekuensi yang harus saya rasakan. Rasa lelah.

Jarak 22 km memang tak berarti bagi mereka yang terbiasa mengacu sepedanya setiap hari. Namun saya berbeda dengan mereka yang kini kadang membuat saya semakin minder. Sepeda brompton bukan saja menaikkan status pesepeda, namun juga saya tak pandai merawat sekarang ini.

Perbedaan lainnya karena alat transportasi yang saya gunakan adalah sepeda. Murni full sepeda kemana-mana. Bisa dibayangkan pindah satu tempat ke tempat lain dengan kaki yang pegel. Saya tahu tidak boleh mengeluh karena ada yang lebih mengerikan dari saya.

Semoga sehat selalu

Alhamdulillah, bermain futsal tetap berjalan lancar meski menguras nalar. Kesenangan, cinta dan bagaimana sikap adalah kekuatan yang saya lakukan untuk apa yang saya lakukan hari ini.

Lelah, sangat lelah. Capek, benar-benar capek. Risiko, saya tidak dapat membantah. Saya hanya berharap tetap selalu diberi kesehatan. 

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini