Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Masih Bersepeda (Part 2)


[Artikel 2#, kategori Pria Biasa] Beberapa orang memuji saya yang ke mana-mana bersepeda, itu menyenangkan. Padahal, itu hanya sebuah kebiasaan. Dan kebiasaan itu membuat saya jadi malas merawat sepeda. Mau gimana lagi, sudah 4 tahun saya bersepeda.

Saya pikir saya sudah menyembunyikan rapat-rapat pertambahan usia saya bulan ini. Ternyata masih aja ada yang dapat informasinya. Saya lupa bahwa ada akun yang lupa saya hapus dan menyimpan tanggal yang paling saya hindari setiap tahun.

Sudah tidak terawat

Saya senang melihat atmosfir Kota Semarang yang semakin hari semakin ramai saja orang-orang bersepeda. Bedanya dengan mereka, sepeda saya kalau dijual sekarang mungkin di bawah 400 ribu.

Bandingkan dengan mereka yang semakin minimalis, dengan sebutan sama sebagai sepeda lipat, harganya dapat mencapai puluhan juta.

Sudah ketebak dong, sepeda dapat memperlihatkan status seseorang. Ah, sudahlah. Kembali soal sepeda saya yang semakin tidak terawat, alias malas dibersihkan.

Saya memang sengaja melakukannya. Bukan karena salah satu alasannya malas. Cuma secemerlang apapun, saat bertemu dengan pesepeda lain, saya jadi minder. Apalagi bila tahu mereknya dari luar. 

Masih bersepeda

Satu-satunya kendaraan yang saya terus gunakan adalah sepeda yang saya beli tahun 2015. Bila tidak sedang bersepeda, terutama acara di Semarang atas atau butuh waktu cepat, saya gunakan transportasi umum atau online.

Tapi pioritas tetap bersepeda bila hanya dalam kota. Mau ke mal, hotel, tempat makan, gedung pemerintahan, tempat wisata hingga datang ke sebuah acara, saya menggunakan sepeda.

Bersepeda memang membuat sehat. Hal yang paling saya banggakan adalah perut saya tidak buncit karena bersepeda.

Dalam urusan asmara, saya tidak tahu harus gimana. Soalnya boncengan di belakang sudah tidak saya pasang. Lagian tidak akan ada perempuan yang mau berkencan naik sepeda.

Meski harapan itu selalu ada. Membayangkan film-film yang menaruh adegan dua orang bersepeda saling berpasangan, rasanya sangat menyenangkan.

Mendadak keingat mantan yang anti diajak Car Free Day yang harapannya bisa naik sepeda bersama. Mari tinggalkan ingatan ini.

...

Pria 33 tahun masih berkendara dengan sepeda, dari aktivitas, bersenang-senang, bekerja hingga sekedar menikmati udara pagi, bagaimana pendapatmu?

Apakah ini terlihat bahwa saya merupakan pria dengan garis kemiskinan atau menunjukkan bahwa sehat itu murah? 

Semoga punya sepeda lebih bagus lagi suatu hari nanti

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini