Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Memanjakan Kata Hati


Ketika perasaan mampu menggerakkan pikiran lalu diikuti tubuh, maka itulah yang sedang saya bicarakan di halaman ini. Sebenarnya bisa saja menolak dengan dalih berbagai macam alasan. Namun ketika itu, lebih baik mendengarkan kata hati. Seperti memanjakan anak kecil yang suka minta sesuatu meski enggan membelinya.

Inspirasi tulisan ini datang di pagi buta, waktu Indonesia saat saya bekerja. Paragraf di atas malah didapat saat sedang di toilet, lagi pup. 

Memanjakan Kata Hati

Cucian di dapur hari ini lumayan banyak. Saya pikir untuk membiarkan saja hingga pagi hari. Yang terjadi, perasaan saya tidak mengizinkan saya untuk membiarkan. Tiga piring, 2 gelas dan 6 sendok, plus tempat memasak nasi alat rice cooker.

Tidak begitu lama, cucian udah selesai. Apakah saya akan lapar, mengingat waktu sudah mau pukul 3 pagi? Kata hati saya kembali mengambil alih pikiran dan tubuh saya. Akhirnya saya menanak nasi di rice cooker. Untungnya, sisa beras masih cukup untuk dimasak.

Dari aktivitas ini, saya kok berpikir bahwa saya sangat memanjakan kata hati saya. Seperti tidak bisa menolak. Mengalahkan prinsip sekuat apapun. Saya tidak tahu sejak kapan kata hati adalah suara paling benar. Yang menyebabkan sepertinya karena saya suka menulis blog. Mungkin saja itu jadinya wajar. 

Menulis membuat saya berbicara pada diri sendiri di dalam hati. Mengganti kata demi kata agar tercipta sebuah kalimat yang saya bentuk. Ada sisi baiknya memang ketika mampu mendengarkan kata hati seperti yang terjadi pada saya barusan.

Tidak jadi malas, tempat cucian dapur bersih (tidak menumpuk piring kotor), perasaan jadi lega, tidak menunda-nunda dan lainnya.

Bagaimana denganmu, apakah sering memanjakan kata hati juga? Atau sebaliknya?

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini