Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Mobil Depan Rumah


[Artikel 9#, kategori rumah] Saya pernah trauma ketika tinggal di rumah lama saat menaruh mobil di depan rumah tetangga. Tidak ada suara gemuruh waktu itu hingga terkejut saat dihampiri pemilik rumah yang merasa terganggu. Saya dan keluarga, sempat berdebat dengan pemilik rumah meski kami harus tetap mengalah.

Sebulanan ini, saya semakin sering melihat mobil tetangga menaruh (parkir) di depan rumah yang saya tinggali sekarang. Entah kenapa tetangga melakukan itu. Apakah karena tempatnya teduh atau mereka tidak punya ruang parkir lagi di dekat rumahnya.

Trauma masa lalu melintas begitu saja seperti yang saya ceritakan di awal paragraf. Apa yang harus saya lakukan? Mengulang sejarah seperti masa lalu, atau membiarkan mobil itu yang silih berganti menaruh mobil di depan rumah.

Dalam pikiran kecil, saya ingin melakukannya. Menarik tarif parkir jika boleh. Tapi, tapi... Tidak enak juga rasanya merasakan teguran seperti yang pernah saya rasakan. Saya tidak ingin menjadi pemarah seperti tetangga dulu saya.

Ya, saya adalah orang baik. Kata hati nurani. Biarlah mobil itu di sana meski tak pernah bicara kepada saya, sekedar meminta izin menaruh mobilnya.

*Saya masih ingat ketika dulu ditegur tetangga, saya bilang ke security rumah bagaimana saya parkir mobil ini. Pak security yang malah menyarankan di depan rumah tetangga tersebut.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini