Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Dunia Tanpa Tayangan Sepak Bola


[Artikel 37#, kategori sepakbola] Tiada menyangka bahwa asyiknya pertandingan sepak bola di televisi akhirnya berakhir karena wabah. Pengorbanan beli kuota hingga meniadakan malam minggu karena tidak memiliki pasangan, kini terasa hampa. Dunia seakan berhenti begitu saja.

Virus Corona benar-benar berhasil menghentikan sebuah negara, termasuk liga-liga Eropa. Indahnya La Liga, Cepatnya Liga Inggris dan Asyiknya melihat bintang Seri A, kini bukan lagi menjadi daftar aktivitas rutin di depan layar.

Sepak bola telah hilang

Bila hanya sebagai penonton saja, sebenarnya saya diuntungkan dari sisi hemat kuota. Waktu yang banyak luang dan pikiran yang lebih tenang karena tim kesayangan tidak kalah bertanding semalam.

Namun bagaimana dengan penonton yang membeli tiket terusan satu musim? Para pekerja stadion, pemasukan klub hingga nasib hak siar televisi yang berdampak pada gaji pemain. Semua dibuat pusing memikirkannya.

Bagi sebagian penduduk dunia, sepak bola menjelma layaknya kepercayaan. Sepak bola tidak lagi tentang kesenangan dan impian, tapi sebuah industri yang menguntungkan.

Sengitnya Liga Eropa dan Liga Champions bukan hanya membuat waktu tidur para pekerja pagi dan mereka yang beraktivitas di dunia pendidikan terganggu. Tapi itulah seni kenikmatannya bagi para penggemar sejati klub kesayangan.

Bagi saya, penonton layar biasa, hanya berdampak kehilangan gairah yang biasanya menunggu dengan semangat tiap akhir pekan. Meski tim kesayangan kalah.

Bagaimana nasib para pemainnya?

Saya tidak tahu karena saya bukan Lionel Messi atau Ronaldo. Saya hanya berbicara tentang apa yang saya rasakan saja sebagai penggemar biasa.

Corona yang memberi ketakutan akan selalu diingat dalam pikiran setiap orang di dunia ini. Sepak bola yang menyenangkan, menggembirakan dan bahkan ngeselin sudah tidak lagi bersama saya beberapa minggu ini.

Saya harap wabah ini lekas pergi dan mengembalikan rutinitas saya setiap akhir pekan dan tengah pekan setiap sebulan sekali. Mari berharap yang terbaik untuk kita semua.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini