Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Halo April 2020


[Artikel #70, kategori catatan]  Semenjak awal tahun 2020, baru kali ini saya menyapa nama bulan. Entah kenapa April yang akhirnya jari jemari ini berlabuh di sana. Menyebut bulan keempat ini, mengingatkan saya pada nama perempuan. 

Rabu pagi, 1 April 2020, cuacanya sangat cerah di Ibu Kota Jawa Tengah kali ini. Rencananya pagi hari saya ingin bersepeda. Namun karena perut mendadak lapar, saya batalin.

Saya ingin segera menyapa April sebenarnya. Berbicara kepadanya dan mengajaknya mendengarkan keluh kesah saya. Lihat dompet saya kosong melompong.

Tidak ada pemasukan

Corona adalah satu-satunya penyebab pendapatan saya mendadak seret. Meski begitu, saya belajar dari sini bahwa saya tidak dapat mengandalkan dotsemarang dikala online dari sisi pemasukan.

Saya tertampar kenyataan karena tidak adanya pemasukan. Berpikir dotsemarang adalah perusahaan, mungkin sedang berada di titik bawah. Saya harus belajar hari ini.

Memang perasaan saya sedikit tenang karena bisa dituangkan dalam tulisan. Tapi kehidupan sehari-hari, perlu juga disambungkan. Saya tidak ingin begitu mengeluh. Karena saya tahu, ada yang hidupnya dari saya lebih susah.

Kenyataan lainnya, keluarga mulai bergantung pada pendapatan yang dihasilkan anak-anaknya. Saya di sini benar-benar gagal menjadi pria yang katanya sayang keluarga.

Tidak tahu harus berkata apa

Hari-hari yang saya lewati akhir-akhir ini lebih menyenangkan. Dia bukan sekedar menjadi kekasih, tapi juga teman yang punya cinta kasih. Kehidupan tahun ini rasanya masih ada harapan melihat diri saya tetap bertahan.

Ketika tiba waktunya menyapa lewat si April  lewat kata-kata, perasaan saya mendadak tersentak. Kejadian kembali berulang. Sebuah harapan yang diangkat tinggi-tinggi sesama anggota keluarga mendadak membuat sedih.

Mau marah, rasanya percuma. Bersedih, hanya itu yang bisa dilakukan. Tidak tahu lagi harus berkata apa. Saya cemburu dengan kisah pria sukses yang didukung keluarganya. Harapan itu seperti hanya mimpi di siang bolong.

...

Hari ini, akhirnya saya merasakan ayam goreng setelah semingguan hanya memakan telur rebus. Terkadang mie rebus yang dimasak hanya lewat air panas listrik. Kompor gas sedang habis. Benar-benar tantangan yang dihadapi semenjak wabah virus Corona masuk ke Indonesia.

April, saya berharap banyak kali ini. Lebih dari April sebelumnya. Bila kamu ingin mengatakan saya menyedihkan, biarlah. Toh, April akan membuka lembaran barunya. Semoga ada kisah bahagia untuk diceritakan.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini