Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Hari yang Buruk


[Artikel 10#, kategori keluarga] Saya tidak menyangka, baru berjalan satu langkah, sudah terkena masalah. Saya akan mengingat ini selalu bahwa menjalani hidup tidak ada yang mudah. Bahkan hanya hitungan jam dari kebahagiaan.

Satu hari setelah menyapa April dengan membawa banyak harapan yang terasa gundah gulana, saya dipertemukan persoalan yang membuat saya begitu menyedihkan. Baik sebagai kakak, maupun sebagai kekasih.

Harus menjadi kuat

Keadaan yang sudah menggrogoti seseorang, lalu dengan mengharapkannya dapat berubah adalah kesia-siaan belaka. Apa yang dikatakan sebelumnya seperti omong kosong. Kenyataannya, berubah sangatlah susah.

Kabar itu datang. Sambil membawa pikiran yang awalnya sudah tenang, mendadak menjadi dangkal. Marah, kesel, dan pada akhirnya menyumpah pada diri sendiri.

Andai saya lebih kuat menjadi manusia, mungkin keadaanya tidak begini. Kuat dari sisi finasial, kuat sebagai seseorang dan kuat bagi mereka yang merasa terasing di dalam keluarga.

*Melepas nafas

Belum reda

Saat ingin menunjukkan baik-baik saja, tanpa diketahui bahwa saya sangat sedih, Dia malah juga datang dengan kedustaan. Pikiran yang awalnya biasa, mendadak ikut tersiksa.

Entah apa yang salah hari itu. Ini adalah hari yang buruk. Apakah ini nasib dari mereka yang berbuat dosa di masa lalu? Atau memang saya saja yang sial karena melakukan banyak kesalahan.

Hati saya sangat panas. Kepala saya mau pecah. Namun tanpa sadar saya menitikkan air mata. Malam ini terasa begitu panjang. Saya ingin menjadi kuat, perasaan saya sambil menggenggam batin.

Dua masalah datang bersamaan. Untuk mereka yang dapat bertahan, saya acungi jempol. Saya begitu gagal menjadi diri sendiri saat ini. Padahal masih banyak masalah di masa depan yang akan dihadapi.

Bagaimana bisa saya menyongsong masa depan bila ternyata saya lemah keadaannya?

*Menghela nafas.

Komentar

Postingan populer dari blog ini