Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Akhirnya Menikah


[Artikel 30#, kategori wanita] Tidak menyangka pernikahan itu tiba. Wanita yang terlihat di depan rumah, akhirnya mengucapkan janji setia pada pria. Ini bukan kisah tentang saya. Hanya sebuah kisah perayaan dua insan di tengah wabah Corona yang melanda.

Saya selalu membayangkan bagaimana perasaan pengantin wanita yang akhirnya menjadi perempuan seutuhnya. Baginya pernikahan adalah cita-cita, mimpi dan alasan mengapa mereka terus berusaha.

Kebahagiaan yang tiada tara membuat wanita tampak seperti bidadari. Bahkan setelah perayaan, wanita terus membagikan kesenangannya. Bagi pria, itu adalah kelegaan karena sudah berjuang melewati berbagai hal.

Harus tetap bahagia

Sebagian kebahagiaan itu terenggut kala Corona menyambut. Tanggal yang sudah ditentukan seolah ujian hidup dan mati. Tak peduli, yang penting cintanya dapat dibagi kepada orang yang disayangi secara resmi.

Harus tetap bahagia meski tanpa restu banyak orang yang melihat. Impian pernikahan yang selama ini banyak dilihat, hanya berakhir pada kerabat. Tenda yang telah berdiri dan kursi yang rapi tersusun, hanya kosong melompong.

Saat menerima kotak makanan, kertas terselip diantara makanan dan penutup kotak. Hanya permintaan maaf karena tak dapat berbuat apa-apa untuk mengundang tetangga.

Saya mengerti keadaannya memang sulit. Semoga kedua mempelai bahagia selalu, sakinah mawaddah warohmah.

Wanita yang kuat, baik secara mental maupun fisik. Tetaplah menemukan impian lainnya setelah kalian menikah. Masih banyak kebahagiaan yang dapat memberi makna pada perjalanan pernikahan kelak.

...

Bukan hanya menyatukan 2 insan manusia, tapi 2 keluarga besar. Suara speaker yang terdengar dengan balutan budaya adat istiadat Jawa sebenarnya ingin disambut dengan kehadiran.

*Gambar : ilustrasi

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini