Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Kehilangan Momentum di Awal Tahun 2018


[Artikel 8#, kategori keluarga] Selama ini selalu khawatir setiap keluarga datang akan berpengaruh pada lingkungan pekerjaan. Dan benar saja, saya sudah kehilangan momentum itu. Aktivitas dotsemarang banyak terganggu. Kadang dilema antara mementingkan keluarga atau kepentingan bersenang-senang dalam bekerja.

Perasaan bersalah harus saya alami di awal tahun ketika semangat yang sudah dibangun kandas begitu saja. Mau begini, takut jadinya. Mau begitu, ntar salah jadinya. Dan semua rasa bersalah itu menumpuk menjadi beban yang berdampak dotsemarang belum ada aktivitas hari ini.

Pengalaman sebenarnya banyak mengajari saya untuk lebih luwes terhadap situasi yang datang seperti ini. Hanya saja, kadang semua diluar perkiraan. Sebel, hanya bisa menggerutu dalam pikiran.

Keluarga datang sebenarnya bukanlah hal negatif. Mereka banyak membawa hal positif dan kebahagian yang selama ini tertahan saat fokus pada pekerjaan. Mereka bak sinar matahari ditengah kegelapan bagi kami yang masih bertahan di Semarang.

Kini mereka sudah kembali pulang ke Ibu kota Kalimantan Timur. Sudah seharusnya saya memperbaiki keadaan agar tidak berlarut - larut berantakan. Saya harus lebih semangat lagi untuk dotsemarang. 

Saya harus lebih bijaksana lagi untuk mengalami hal yang sama berikutnya. Dan saya masih ingin belajar menjadi orang baik, tentunya.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini