Tuan Rumah


[Artikel 26#, kategori Causeway] Hari ini tiba-tiba saja terpikirkan istilah tuan rumah yang terinspirasi drama Korea. Tuan rumah memiliki kuasa atas rumahnya dan si penyewa atau yang numpang hanya punya hal yang harus ia pikirkan dalam-dalam, tahu diri.

Saya beruntung tinggal dengan tuan rumah yang baik di Semarang. Memberikan kebebasan untuk memilih, mau bersantai saja atau bertanggung jawab mengerjakan hal-hal kecil yang memang lumrah sebagai penumpang mengkondisikan diri sebagai rasa terima kasih.

Hanya saja tulisan ini bukan menunjukkan siapa tuan rumah layaknya kisah drama di film Korea. Tahun 2018, saya memiliki banyak tuan rumah. Plus, tuan rumah merangkap penyewa seperti saya.

Bila hidup tuan rumah bebas semau dia, maka tuan rumah lainnya pun kurang lebih sama dan cenderung mengikuti kemana angin berhembus diantara langit-langit rumah yang sengaja dibangun dengan banyak fentilasi ini.

Sebagai penumpang, saya ingin bilang sebenarnya bahwa saya tidak baik kali ini. Saya bingung dengan yang kondisi yang terjadi. Situasinya seperti pengulangan dalam rumus matematika yang selama ini saya tidak sukai.

Belum lagi tuan rumah yang merangkap penyewa. Apakah harus saya layani sebagai tuan rumah atau memperlakukan sama seperti saya sebagai penyewa, yang suatu hari harus pergi karena masa berlakunya sudah habis.

Tuan rumah utama masih terjebak dengan rutinitas dan kebiasaan yang mau tidak mau harus dimaklumi. Hanya saja, si tuan rumah kali ini membawa tamu yang mirip seperti saya dahulu.

Sebagai orang yang numpang, tentu tamu merupakan raja. Maka sudah selayaknya para tamu saya anggap tuan rumah lain yang wajib dihormati.

...

Tahun ini, saya ingin memperlakukan tuan rumah saya dengan sangat baik. Mendoakannya agar selalu diberi kesehatan dan diberi kelancaran untuk semua tugas yang dijalankannya.

Diam memang seolah tak bermanfaat, dan kadang saya mau bila terpergoki saat diam. Namun diam saya adalah rasa lelah setelah beraktivitas.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini