Sifat Buruknya Pria 29 Tahun


Pernah merasakan manisnya dikejar gebetan yang tak menghiraukan bagaimana sakitnya setelah putus suatu hari nanti. Dan akhirnya mereka menjadi pasangan yang selalu setia, pandai mendengar, selalu memberi motivasi untuk saling menguatkan dan menceritakan hal-hal kecil yang tak pernah mereka ceritakan kepada orang lain. Kini setelah putus, jangan berharap cerita manis diawal akan sama. 


Perlu diketahui terlebih dahulu, sifat buruk ini bukan berarti semua pria diumur 29 tahun akan sama. Ini sebuah judul yang menarik dan penulisnya saja yang mengalami. So, baca saja ceritanya.

Kamu seperti kekanak-kanakan, deh.
Kenapa tiap punya mantan, hobinya ngajakin balikan.

Tiba-tiba saja kalimat tersebut terlontar dalam sebuah pesan singkat yang terkirim buat saya yang memang berusaha berkomunikasi dengan mantan. Seperti kena serangan jantung tiba-tiba. Dan saya membencinya, marah dan kesal. Marahnya kepada momen yang waktu ia sampaikan.

Saya memang bermaksud berbaikan dengan mantan tapi tujuan awal saya menghubungi adalah saya butuh teman cerita. Keadaan saya saat ini seperti kejadian penetapan darurat 1 oleh Polisi saat pertandingan sepakbola, final Piala Presiden.

Saya benar-benar galau, dan tak tahu siapa lagi yang dapat dipercaya. Saya masih trauma dengan istilah teman - teman yang disebut terbaik. Efek dotsemarang sangat terasa di sini akhirnya. Terutama soal saya sedang berada di rumah sakit.

Butuh dukungan dan semangat 

Seperti tangkai bunga dengan batang kecilnya yang tumbuh diantara yang sama, mereka seolah saling menguatkan. Tak peduli angin, hujan dan panas terik matahari. Mereka adalah satu paket dalam kehidupan mereka.

Menjadi pria diusia 29 tahun tanpa seorang wanita dan teman itu menyakitkan. Seolah dianggap tegar dan mampu menyesuaikan nyatanya tidak demikian. Satu persatu masalah datang memang terasa mudah dilewati, tapi semua itu butuh saluran untuk dapat dikeluarkan.

Kondisi saya hampir 1 bulan seakan makan tidur dan mandi. Itu-itu saja. Cerita lewat blog hanya bisa sedikit membuat lega. Andai blog bisa memberi motivasi, ternyata tidak mungkin. Ah, sudahlah. Ini pelajarannya karena blog tidak mungkin dapat berbicara.

Ingin mendapatkan sesuatu yang tetap sama

Cinta itu tumbuh dengan rasa kekaguman dan mengalir seperti air karena perasaan yang sudah tidak dapat terbendung lagi. Apakah aliran tersebut tetap sama setelah musim kemarau tiba? 

Sepertinya hanya rasa cinta ibu kepada anak atau orang tua yang tak pernah pudar untuk tetap memberi kasih sayangnya meski disakiti berkali-kali. Saya sangat kagum dengan rumah tangga orang tua yang menikah di tahun 90an ke bawah. Mereka sadar, anak adalah penguat mereka.

Generasi sekarang sepertinya tidak mungkin untuk mendapatkan sesuatu yang tetap sama. Awalnya mengagumi, suka, dan saling mengenal satu sama lain dengan meresmikan sebuah hubungan. Indah, bahagia dan semua masalah seolah terlewati. Maklum, ketika kedua orang bersatu semua tampak mudah. 

Prinsipnya, jadilah pendengar yang baik saat pasangan berbicara tentang keluh kesahnya. Pria selalu dituntut dengan istilah kuping besar. Mereka makluk yang selalu serba salah. Diam dianggap tak memberi motivasi, berbicara dikira sok tahu. 

Hanya ingin bilang 'Aku butuh teman buat mendengar keluh kesahku'

Ketika sebagian besar teman-teman saya yang saya kenal sudah menikah, pasti mereka bahagia. Ada yang mendengarkan, memberi masukan, dan saling melengkapi. Saya iri akan hal itu.

Saya? Seolah jalan dikesendirian diantara hilir mudik yang melewati lorong-lorong di rumah sakit. Ramai, mereka ramah, dan menegur balik saat ditegur. Tapi, bukan orang-orang seperti ini yang saya inginkan. Orang yang sudah mengerti karakter saya dan pernah berjuang mengatakan rasa suka kepada saya.

Saya berharap menemuka hal itu lagi. Tidak mungkin rasa madu berubah meski ada campur tangan manusia yang membuat sarang lebah rusak. Rasa madu tetaplah manis. Prinsip sederhana tentang mantan yang dulu sayang.

Ternyata tidak sesederhana yang saya pikirkan. Belum juga curhat, panjang lebar bercerita atau si mantan bertanya tentang kondisi meski sudah disodorkan selembar curhatan, si mantan langsung dengan rasa percaya dirinya mengatakan 'mau balikan?' Kayak anak kecil saja.

Sejak saat itu saya tahu bahwa ini kesalahan besar dalam hidup saya tentang mengatur perasaan. Menghubungi mantan bukan jalan terbaik. Apakah karena kebanyakan mantan kekasih, si mantan saya itu bisa berkata demikian. Kalau begitu saya pasrah, entah jadi keberapa yang dikatakan seperti itu.

Ingin menjadi Troy saja sepertinya

Pemberani, gagah dan tidak mengenal ampun adalah sosok Troy yang saya sering tonton filmnya. Saya kagum dengan apa yang dimiliki dan kemampuannya. Meski begitu, ia punya perasaan terhadap wanita yang ia sakiti.

Kharismanya tak perlu diragukan lagi. Sayang ujungnya harus mati. Lupakan cerita kematiannya karena ia bermaksud menyelamatkan sang wanita pujaan yang mulai membuatnya membuka perasaan. Saya hanya berharap, dengan kondisi saya saat ini, saya menjadi seorang Troy, Pemberani.

...

Usia 29 tahun tanpa seseorang memang menyedihkan. Tapi bukan berarti sebagai pecundang. Kondisi dan situasi yang benar-benar super galau ini yang sebenarnya meruntuhkan kejayaan pria yang berharap menjadi pria seperti Troy, pemberani, gagah, berkharisma dan dikagumi banyak orang. Baik pria maupun wanita.

Kenyataannya, saya seperti anak kecil yang ingin bercerita kepada ibunya tentang perasaannya. Tapi sang ibu masih tak berdaya lemah dengan selang inpus dibagian tubuhnya. Tidak. Pasti tidak semua wanita sekejam itu. 

Mungkin ini adalah kesalahan terbesar seorang pria yang ingin melihat mantannya tetap sama. Mantannya yang tetap manis seperti madu yang dibuat oleh lebah. Menyegarkan meminumnya langsung tapi menyengat saat ia tahu, pria itu bukan siapa-siapa lagi.

Saya tak bermaksud buruk dengan menulis kejadian ini tentang mantan saya. Mantan yang mana yah? Pernah pacaran? Lho.. haha.. Saya pikir, konten ini suatu hari ada yang menemukan dan mengalami masalah yang sama seperti saya. Bila ada, dan Anda sedang membacanya, saya hanya bisa kasih saran. Beri kesibukan pada aktivitasmu saja. Saat galau jangan hubungi mantan. Itu akan percuma dan mantan akan menganggapmu pria kurang dewasa saja.

*Saya sempat berpikir bagaimana pria seperti ini merasakan sakit begitu menyakitkan, padahal baru juga pacaran. Bagaimana dengan pasangan yang cerai dan punya anak? Bukankah mereka sudah klop satu sama lain. Dan bagaimana perasaan salah satunya saat harus melepaskan ikatan resmi mereka. 

**Mungkin saya kebanyakan baca berita karena seringnya melihat kasus kawin cerai akhir-akhir ini. Dan tidak pernah menonton FTV lagi yang selalu membawa cerita manis di setiap tayangnya tentang indahnya berpacaran, menikah dan punya anak.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini