Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Kamar Mandi Sejuta Umat

Hahaha.. Terlalu Lebay untuk menggambarkan situasi dan kondisi pagi hari di sebuah kamar mandi yang ada di rumah sakit saat ini di mana saya berada. Orang-orang sudah ramai mengantri. Mulai dari tidak membawa apa-apa sampai yang membawa peralatan tempur (baca mandi). Saya sendiri harus terkena dampak menahan buang air yang sudah hampir diujung tanduk. Inilah kamar mandi sejuta umat.

Cuaca cerah begitu memukau pagi ini. Ya, saya baru bangun. Tampang kusam, dan semoga tai mata tidak hinggap di jendela *nyanyi. Di samping, kedua adik saya masih terlelap dengan tidurnya. Di depan tubuh saya, ada ibu dan anak yang bercengkrama sembrani mengecek kamar mandi kosong. Sebelah kiri juga tak kalah ramai. Ibu dan putrinya yang ngobrol. Sang putri sudah bersiap pergi sekolah dengan seragam SMA nya.

Tubuh saya berusaha bangkit untuk melihat apakah kamar mandi dengan 2 pintu sudah kosong. Ah, lupakan. Orang-orang sudah menunggu antrian rupanya. Ini memakan waktu agak lama sepertinya. Nasib si adek kecil yang di ujung tanduk semakin menjerit.

Bila mengibaratkan kamar mandi ini seperti tiket konser artis yang dipuja maka membayangkan kerumunan manusia di sini seperti hal biasa sepekan ini saya berada. What, sepekan? Haha... Saya juga nggak menyangka kalau saya sudah menghabiskan waktu di sini.

Meski menjadi idola, rebutan masuk kamar mandi, terkadang jadi masalah saat beberapa oknum tidak bertanggung jawab. Semisal air mati, udara di Samarinda, eh bukan, disekitar maksudnya berubah bau. Kotoran yang dibuang terpaksa berbekas karena air yang habis dan mereka sudah kepepet. Efeknya? Sudah ketebak. Rasa jijik menghantui mereka yang akan mau masuk saat sentuhan kaki pertama.

Itulah cerita pagi ini dari kamari mandi yang berada di rumah sakit yang menjadi sentral seluruh pengunjung. Sepertinya giliran saya masuk, sudah tidak tahan nih! Arghh... Untunglah, kejadian mati air (mungkin kehabisan) hanya beberapa kali terjadi. Saat ini semua seperti sedia kala.

Komentar

Postingan populer dari blog ini