Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Lapangan Sepakbola Vorvo Samarinda ( Jalan Jend. Soeprapto)



Rumput hijau alami yang sudah terlihat panjang-panjang tersebut mengingatkan saya ke sebuah momen masa lalu. Di sini, dulunya saya pernah bermain sepakbola. Banyak kenangan juga yang tersimpan. Kini keberadaannya masih seperti tahun-tahun sebelumnya.


Saya melintas pagi ini, tepat tanggal 1 Oktober 2015, di kawasan yang dekat dengan jalan raya ini. Tidak berubah, bisa dibilang tidak ada yang mengelola layaknya sebuah fasilitas sebuah kota yang dapat diandalkan. Soal fungsi, lapangan ini tetap dapat digunakan seperti jaman saya. Jaman masih duduk di bangku Sekolah.

Apa yang mau ceritakan disini? Ingatan saya sepertinya mulai terbatas dengan suasana sekitar saya saat ini yang sedang merajut kata demi kata. Terlintas sekilas dimana saya dibawa ke masa SMA. Waktu itu saya sekolah di SMA 5 Samarinda.

Lapangan ini masih ada juga. Saat lewat sini kemarin sedang digunakan latihan olahraga volly.

Saya ingat wajah seseorang. Fajar, seorang yang suka sekali dengan sepakbola dan memiliki naluri sebagai penjegal lawan kalau nggak salah waktu itu.

Di jaman tersebut, kekuatan mimpi bagi anak Sekolah yang ingin menjadi pemain bola profesional sangat kuat. Tapi mimpi itu telah pergi. Saya tidak memilih mimpi tersebut pada akhirnya. Tidak perlu diceritakan juga kondisi wajah pesepakbolaan tanah air kita saat ini.



Mungkin kenangan dari lapangan ini hanya ini yang saya ingat. Saya berharap lapangan ini menjadi salah satu fasilitas kota Samarinda yang dapat diperindah. Dipergunakan untuk turnamen agar terus ramai dan meningkatkan perekonomian masyarakat yang ada disekitarnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini