Catatan

Pria (Tidak) Berharga

Gambar
Saya melihat teman lama yang perutnya membuncit sedang menggendong anaknya. Terlihat senyumnya yang lepas seakan mengatakan bahwa dialah yang paling bahagia di dunia ini. Sebuah pesan kepada para lelaki bahwa ia sudah tiba digaris akhir seorang pria sukses. Lalu, kapan kamu? Entahlah, saya juga bingung mengapa saya berjalan tidak pada semestinya seperti para pria lainnya yang kerap kali membagikan momen-momen bahagianya dengan pasangan dan anak kesayangannya. Memiliki istri yang rupawan, apalagi setia, cakep tuh disebut keluarga kecil yang bahagia. Inilah kekurangan pada diri saya yang mengaku hebat dalam konsistensi, tapi sulit ekonomi. Pria (tidak) berharga Saya kembali memulai perjalanan baru sebagai pria yang kini menginjak usia 38 tahun. Apa yang akan terjadi sepanjang tahun, saya harap itu sangat berharga.  Di umur sekarang ini, saya percaya bahwa 'laki-laki sukses ada keluarga dibelakangnya yang hebat'. Saya merenung sesaat, andai saja saya bisa kembali mengulang waktu s...

Keputusan yang Disesali

[Artikel 38#, kategori Amir] Dulu saya berharap banyak kepadanya. Apalagi kapal yang kami bangun butuh banyak orang direkrut. Saya menghargai kemampuannya, terutama bagaimana cara dia berkomunikasi. Namun sekarang entah kenapa saya menyesali keputusan yang saya ambil dulu.

Hari ini, 6 Desember, cuaca Kota Semarang sedikit adem. Ada angin dan gerimis yang jadi satu paket yang menandakan hujan masih akan dialami hari ini. Namun saya kaget, sosok itu tiba-tiba menghubungi dan mengatakan sudah di depan pintu.

Keputusan yang disesali

Ternyata dia sudah menghubungi si bungsu pemilik rumah. Tidak heran ia membawa oleh-oleh khas tempat tinggalnya dengan penuh antusias. Saya sadar di sini bahwa saya bukan siapa-siapa baginya. Maksud saya nilai saya sebagai orang yang mengulurkan tangan saat dulu membawanya kembali ke Kota Semarang.

Saya tidak menyukainya, terutama kondisinya. Bukan saya iri dengan keberhasilan pribadinya yang melewati saya. Tapi, saya seolah tidak dihargai sama sekali. 

Sebagai seseorang yang mengulurkan tangan masuk ke dalam bagian dotsemarang, saya membawanya terlalu dalam ke bagian penting tempat saya tinggal (keluarga). Saya tidak menyangka adaptasinya dengan keluarga membuat saya terpinggirkan.

Jalur langit yang ia dapatkan membuatnya seakan mendapat beasiswa seperti yang saya dapatkan. Kini, ia sukses sebagai pribadi maupun pria yang resmi menyudahi masa lajangnya.

Saya? Hanya begini-begini saja. Masih berkutat dengan dotsemarang. Menjaga nama ini agar tidak padam dan merawat kenangan agar tidak terkubur seperti orang-orang yang awalnya datang kemudian menghilang.

Saya tahu ini adalah resiko yang harus saya hadapi. Tidak ada yang namanya kesetiaan dan sikap menghargai dari apa yang sudah dilakukan. Seperti pepatah mengatakan kesetiaan hanya datang saat daging yang diberikan lebih banyak. Tidak peduli tangan pertama siapa yang datang.

Ya, saya menyesalinya sekarang. Jika tahu keadaannya begini, mungkin saya akan membiarkannya apabila diberi kesempatan kembali mengulang.

...

Saya ingin mengingatkan kepadamu yang datang ke halaman ini. Jangan pernah bicara kesetiaan kepada orang yang sangat baik. Karena saat kamu berikan, ia akan pergi saat ada yang lebih baik menawarkan lebih banyak kebaikan.

Kesalahan saya adalah terlalu mengandalkan dan membuatnya tahu isi dapur saya yang seharusnya tidak boleh diperlihatkan.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berkenalan dengan Istilah Cinephile

[Review] One Day, Film Korea Tentang Pertemuan Pria dengan Wanita Koma yang Menjadi Roh