Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Pergi mancing


[Artikel 26#, kategori Amir] Tidak peduli apa yang akan dilakukannya. Hanya saja, jangan bawa aset rumah dalam aktivitas pribadi. Merasa berjasa dan selalu dibutuhkan, terkadang membuat takabur.

Dini hari seperti biasa terbangun. Hari ini kesiangan, sudah setengah 4. Meski sebelumnya sudah bangun jam 1. Karena masih ngantuk, tidur lagi.

Saat ingin sarapan, entahlah kenapa waktu sahur sekarang jadi kebiasaan buat sarapan, ada dia. Yang buat kesel adalah ingin sarapan, nasinya tidak ada. Rice cooker terbuka dengan isinya yang berada di wastafel pencucian.

Kenapa tidak memasak nasi?

Alasannya, karena ia makan tadi jam 2 pagi dan sisa nasinya masih keras. Coba dipikir lagi, ini sudah jam setengah 4, seharusnya mudah dicuci. Emang dasar gak punya niat.

Pergi memancing

Dini hari ini tidak biasanya ia sudah bangun dan bersiap dari pakaian yang terlihat. Ia pergi mancing katanya.

Saya yang sudah malas karena tidak ada nasi buat sarapan sambil berusaha membuat mie rebus, hanya menjawab sekilas apa adanya.

Pikiran saya semoga tidak benar. Pergi memancing jangan bilang bawa aset rumah, maksudnya kendaraan.

Dan benar saja, suara itu akhirnya berbunyi dan beranjak pergi. Saya harap tidak terjadi apa-apa dikemudian hari. Ia terlalu terlena dalam situasi sekarang.

..

Libur akhir pekan, saya pikir ia akan lebih banyak beraktivitas di rumah. Setidaknya membersihkan ruangan. Selain ia benar-benar istirahat, ia tidak melakukan apapun.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini