Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Komitmen Itu Terasa Menakutkan


[Artikel 7#, kategori pria 33 tahun] Itu saat bertemu dengan wanita yang selalu mengatakan ngebet ingin menikah, tapi esoknya minta pisah. Tidak bisakah apa yang diucapkan itu konsisten. Khawatirnya setelah saya berusaha, eh malah ditinggalin seperti yang sudah-sudah.

Saya adalah pria yang tidak mengandalkan kekuatan kedua orang tua, khususnya hal finansial. Semua saya sendiri yang memikirkan, termasuk bagaimana ekonomi masa depan saya. Dan saya tidak datang dari keluarga yang kaya raya.

Menjadi bloger sebagai profesi adalah tantangan. Satu sisi diandalkan karena datang dengan kesenangan dan kenyamanan untuk berbuat apa yang kita bayangkan, sisi lainnya harus memikirkan bagaimana ini menjadi anugerah di masa depan bersama pasangan.

Di umur hari ini (33 tahun), saya dihadapkan dengan sebuah komitmen. Sama seperti tahun lalu ketika 'menikah' begitu mudah dan ngebet diucapkan wanita kepada saya. Saya ingin sekali menikah dengannya. Tapi entahlah, komitmen begitu menakutkan hari ini.

Apakah karena wanita yang berbicara menikah hanya menguji saja? Bila saya lolos ujian, saya berhak bersamanya dan menjadi pasangannya. Sebaliknya, ketika gagal ujian, saya hanya perlu ditinggalkan. Tidak peduli kata cinta dan seribu pelukan mesra yang kami lakukan. Anggap saja kami tidak berjodoh.

Banyak hal yang saya pikirkan saat sekarang. Ketika diajak berkomitmen untuk menikah, saya ingin sekali fokus padanya. Berusaha yang terbaik, dan berteman dengan masalah agar dapat solusinya.

Namun, saya sedikit cemas ketika komitmen itu hanyalah ucapan saja. Air mata yang menetes hari ini dengan bibir berat mengucapkan betapa inginnya menikah, hanya hitungan hari, mendadak berubah. Saya takut ditinggalkan jika begini.

Perjalanan masih panjang, selesaikan dulu tujuan awal datang. Berikan kekuatan, untuk saling mendukung satu sama lain. Bukan perasaan menggebu-gebu yang terkadang hilang karena tidak sanggup menahan.

*Saya ingin bersamanya, tapi konsistenlah. Jangan tiba-tiba pergi begitu saja.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini