Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Jambu Air yang Kesekian Kalinya Berbuah


[Artikel 12#, kategori rumah] Setelah dikarunia buah kelengkeng di bulan Maret hingga Mei, kini giliran pohon jambu air yang berbuah. Sungguh menyenangkan memetik buah dari pohon di rumah. 

Saya pikir sudah menuliskan tentang pohon jambu air yang tiap beberapa bulan terus berbuah, ternyata belum sama sekali. Menarik saja menceritakan ini karena saya bisa tahu bulan keberapa lagi akan berbuah.

Juni 2020

Awal bulan, pohon jambu air di rumah kembali berbuah. Saya penasaran tentang manfaat buah ini, terutama kandungan vitaminnya. Apakah ada vitamin C?

Dan benar, bukan hanya kandungan vitamin C nya saja yang dibawanya, tapi juga mengandung vitamin A. Bagus buat mata, mengingat saya sering di depan laptop.

Ketika sering mengkampanyekan hidup sehat dengan memakan buah, sebenarnya tantangannya adalah mengeluarkan uangnya. Beberapa kebutuhan harus diutamakan dan saya khawatir bila harus terus menerus membeli buah.

Hidup sehat itu memang murah, tapi juga harus mengeluarkan biaya. Saya sangat bersyukur dengan awal bulan ini setelah pohon jambu air berbuah.

Tinggal petik, makan dan paling nikmat memakannya adalah setelah beberapa jam menaruhnya di dalam kulkas. Syukurlah jambu air, meski banyak semut merah di pohonnya, berbuah dengan baik. Pernah sih ada ulatnya waktu awal-awal berbuah.

Bagi-bagi ke tetangga

Meski saya orangnya lebih menutup diri semenjak berusia 30 tahun ke atas, saya tetap memperhatikan tetangga. Kali ini jambu air yang cukup banyak berbuahnya, saya bagikan kepada mereka.

Manusia adalah makhluk sosial, tidak mungkin saya melupakannya. Semoga pemberian ini bukan sesuatu yang buruk, terutama jambu airnya. Takutnya ada ulatnya.

...

Panen buah jambu air sama menyenangkannya dengan buah kelengkeng. Masih ada satu lagi pohon yang juga sudah berbuah sebelumnya barengan buah kelengkeng, yaitu buah mangga. Saya lagi-lagi lupa bercerita tentang ini.

Jambu air mengandung banyak serat yang diperlukan oleh tubuh. Kabar baiknya bagus buat sistem percernaan. Dan juga saya jadi hemat untuk tidak membeli vitamin C yang ada di apotik atau minimarket.

Era pandemi yang masih menghantui ini, sangat penting untuk menjaga isi dompet.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

📌 Realitas Finansial Juni 2026: Ketika Tagihan Menembus Angka 1 Juta dan Bertahan di Jalur Blogger