Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Tak Bersosialisasi dengan Tetangga Bukan Berarti Anti Sosial


[Artikel 1#, kategori rumah] Saya hanya trauma dengan perlakuan beberapa orang saja dan ini yang membuat saya tidak begitu aktif di lingkungan sekitar. Apa yang orang-orang pikirkan tentang saya adalah salah bila tak pernah mengobrol lebih jauh. 

Tiba-tiba saja kepikiran setelah menonton tayangan 86 di Youtube. Bagaimana tanggapan warga, terutama tetangga dari terdakwa yang dibawa Polisi. 

Dia baik, pendiam dan ramah. 

Saya memikirkan sesuatu, andai saya berada diposisi tersebut, apakah yang tetangga katakan tentang saya yang begitu jarang bersosialisasi terhadap sekitar. Bahkan untuk berkontribusi pun saya enggan.

Masih trauma

Saya tinggal di daerah yang awalnya masih bisa dihitung penghuninya. Perlahan-lahan, orang-orang mulai menempati kawasan yang bisa disebut sebuah perkomplekan.

Rasa sosialisasi saya yang tinggi sebenarnya, karena memang senang berteman dan bicara dengan banyak orang, membuat saya tertarik untuk sering bicara dengan tetangga baru.

Ada yang berasal dari pasangan muda-mudi, pasangan yang punya pengalaman dalam pernikahan yang sudah lama hingga ibu-ibu yang punya wajah sangat baik.

Kenyataannya saat waktu terus berjalan, harapan saya terhadap makna kebaikan tetangga berubah drastis. Saya pikir wajar bila ada konflik kecil dalam bertetangga.

Saya jadi trauma dengan perlakuan beberapa tetangga terhadap saya dan penghuni rumah saya. Entah karena itu sekedar usil atau memang dari diri saya yang membuat mereka seakan murka.

Semenjak itu terjadi, saya tidak ingin menjadikan harapan yang saya dapatkan berimbas kembali ke depannya. Saya akhirnya membatasi diri. Bertegur sapa disaat disapa, dan tersenyum saat hanya saling berpapasan. Selebihnya, saya tidak ingin terlibat apapun dengan segala aktivitas.

...

Beginilah saya, dengan sikap kurang dewasanya dalam menjalani kehidupan. Awalnya yang dianggap menyenangkan dan memiliki harapan tinggi akan kebaikan, sekali merasa tersakiti untuk hal-hal yang memang sangat kritis, saya lebih baik mundur dan diam untuk tidak terlibat.

Banyak orang baik sebenarnya yang sering saya temui. Namun tak banyak orang baik yang memang bersikap baik dari apa yang dilihat sehari-hari.

📝 Diperbarui Senin, 4 November 2024

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini