Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Bagaimana Perasaan Orang yang Serba Salah ?


Marah, pengen banget. Tapi dampaknya, dikira jahat atau apalah. Ribet juga memikirkannya. Ini demi kebaikan atau demi apa? Orang yang punya perasaan ini apakah dia benar-benar menderita ketimbang orang yang dianggap serba salah tersebut?

Saya tak tahu harus bicara apa lagi dan ketika berhadapan dengan orang ini, saya malah berusaha hati-hati. Menyakiti perasaan orang nanti dosa, tersinggung atau malah dia lebih marah kemudian ketimbang saya.

Seharusnya, sebuah kekurangan atau kesalahan yang diingati tiap waktu dapat berubah jika ia manusia baik dan menghormati seseorang.

Tidak perlu diingatkan lagi untuk hal-hal kecil yang seharusnya tidak dilakukan. Botol minuman yang  kosong di dalam kulkas buat apa ditaruh di sana kembali bila kosong.

Pemikiran orang yang normal akan melakukan sesuatu di sana, seperti kembali mengisinya agar dapat diminum lagi atau setidaknya tidak dibiarkan kosong setelah ia habiskan.

Hal ini tidak sekali dua kali, dilakukan berulang kali. Dan ini bukan hanya ini saja. Hampir sebagian besar segala hal yang dilakukannya sama semua.

Orang yang berada disekitarnya, mau tak mau memberitahu. Jika itu orang baru kenal, wajar bila ia merasa orang melakukan kelalaian karena kebiasaan. 

Tapi tidak juga sebuah kebiasaan menjadi sesuatu yang baik. Apalagi dampaknya terjadi pada orang lain. Semisal ingin minum air dari dalam kulkas, tidak ada isinya karena kosong. Atau menjumpai dapur selalu berantakan.

Hey, saya juga manusia

Kekeliruan yang dilakukan berulang kali ini tidak wajar. Perasaan saya yang serba salah, dikira orang jahat dan sok benar, membuat saya begitu rendah dihadapan orang tersebut.

Saya juga manusia yang punya sifat marah dan jengkel ketika melihat kelakuan yang dilakukan berulang-ulang kali tetap sama. Itu salah. Mbok ya dipikir, saya begini bukan karena kamu tidak becus.

Saya begini karena peduli. Mana ada botol minuman yang sudah diminum dibiarkan kosong dan tetap ditaruh di dalam kulkas. Saya pas mau minum, kok jadi gak ada. 

...

Saya tahu bahwa marah, sok benar dan memperlakukan orang seolah sewena-wena itu nggak baik. Tapi kudu mengerti juga, bagaimana perasaan saya sebagai orang yang merasa serba salah.

Saya marah kalau apa yang kamu lakuin salah dan terus dilakukan berulang kali. Kamu itu bukan anak kecil yang perlu bimbingan atau murid yang harus dibantu oleh gurunya.

Apakah kamu mengerti!

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini