Catatan

📌 PRALASTIS: Catatan Pria Realistis & Elastis di Usia 40 Tahun

Gambar
Momen sakral ini akhirnya tiba juga, meski kisahnya sudah terproklamir sejak awal tahun. Selamat datang di perjalanan baru tengah tahun ini: menjadi pria berusia 40 tahun. Sebuah angka yang memaksa saya untuk melangkah lebih bijak. Ke depan, saya akan mencoba bersikap realistis saja, terutama saat menyadari tidak ada bekingan besar di belakang saya. Namun di saat yang sama, saya berjanji untuk tetap elastis menghadapi setiap sandungan yang menghadang. Pergantian usia kali ini ternyata terasa lebih berharga dari biasanya. Siapa sangka, ada banyak ucapan yang datang mengalir, meskipun sebenarnya saya sempat berada di fase membenci momen seperti ini. Dulu sekali, saya menyukainya. Namun seiring berjalannya waktu, ada memori-memori tertentu yang membuat hari ulang tahun terasa melekang. Saat tulisan ini dibuat, momennya memang bukan tepat di hari pergantian usia, melainkan sudah berjalan beberapa hari setelahnya. Menemukan waktu yang pas untuk merenung dan menulis ternyata tidak mudah. Nam...

Saya Menyukai Rasa Cokelat Ini


[Artikel 14#, kategori Amir] Sudah dua minggu, tempat cokelat ini berada di meja dengan isinya yang telah kosong. Saya pikir pemiliknya mengeluarkannya dan tidak membuangnya karena lupa. Saya belajar dari sini tentang sesuatu yang berharga.

Postingan ini bakal sulit dinalar oleh kamu yang berpikir tentang rasa cokelat. Itu hanya sebuah gambaran saja tentang apa yang saya taruh di sini. 

Tulisan ini tentang bagaimana seseorang bisa lupa tentang apa yang sudah dilakukannya. Bahkan untuk menyingkirkannya saja itu sangat sulit. Berbagai kode coba saya katakan untuk dia agar segera menyingkirkan tempat cokelat yang keberadaannya hampir 2 minggu. Benar-benar tak beranjak dari meja yang ditaruh.

Andai saya, tentu akan saya taruh di tempat sampah karena isinya tidak ada. Yang terjadi tidak demikian. Kesadaran pemiliknya sangat rendah atau ia sengaja menaruh di sana agar orang terakhir yang menghabiskan cokelatnya merasa bersalah?

Mungkin saja. Semisal benar, maka bicara saja. Atau ini tidak, kenapa tetap dibiarkan. Saya ragu apakah pemilik tersebut memikirkan perasaan orang lain.

Dari tempat cokelat ini saya belajar untuk bersabar dan menahan emosi. Menunggu momen yang tepat untuk tanggap dengan apa yang dilihat. Bila terlalu lama, maka singkirkanlah. Toh, pemilik tak peduli. Menjadi baik terkadang tak perlu bicara bahwa kita adalah orang baik. Bertindak saja.


...

Cokelat dari tempat ini berbeda dengan cokelat kebanyakan yang sejenis. Entah apa isinya yang kalau dimakan langsung, semacam ada biji-biji yang mengganjal di lidah. 

Saya belajar dari rasa cuek pemilik yang membiarkan tempat cokelat ini berada lama di meja tersebut. Apakah ia tak peduli atau lupa? Dalam kehidupan, memikirkan hal-hal kecil itu sangat penting juga.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini