Naik Gojek di Samarinda, Hampir Semuanya Bilang Sebagai Pekerjaan Utama


[Artikel 23#, kategori Samarinda] Semua driver Gojek yang kendaraannya saya tumpangi mengatakan bahwa menjadi driver bagi mereka adalah pekerjaan utama, bukan sampingan. Begitu menggiurkannya profesi ini di Samarinda? Kabar baiknya, orang-orang yang terbiasa menggunakan transportasi online tak perlu ragu untuk main ke Ibu Kota Kalimantan Timur ini.

Di Semarang, saya terbiasa menggunakan transportasi online saat tempat yang dituju tidak dapat dijangkau oleh sepeda. Seperti daerah Semarang atas. Saya sendiri berada di Semarang bawah, kawasan kota bila mengartikan istilah atas dan bawah.

Alasan sederhana saya saat memakai transportasi online adalah tidak ingin merepotkan keluarga yang memiliki rutinitas dengan pekerjaannya.

Pekerjaan utama

Mereka tidak menolak pembayaran non tunai yang dimiliki Gojek dengan GoPay-nya. Ini berbeda dengan salah satu kota yang saya baca di medsos yang tidak mau menerima pembayaran non tunai akibat peminat konsumennya tidak banyak.

Samarinda yang terus ingin menuju menjadi salah satu kota metropolitan di Indonesia tentu ini kabar baik bagi orang - orang yang menyukai non tunai dalam bertransaksi.

Tinggalkan dulu tentang di atas (pembayaran non tunai), kembali membahas pekerjaan utama driver di Samarinda, kira-kira apakah semua menyukainya?

Diantara sekian driver motor yang saya tumpangi, plus kendaraan roda empat dua kali, cerita penyesalan ternyata ada juga. Awal manis dan indah yang membuat seseorang tergiur dipermulaan saat Gojek hadir di kota-kota besar, salah satunya di Samarinda, saat ini, ia sangat menyesal meninggalkan pekerjaan lamanya yang rutin memberi gaji tiap bulan.

Kekecewaan yang ditumpahkan saat saya duduk dibelakang, memang banyak driver yang juga mengalami. Persaingan memang memberi dampak. Bukan hanya datang dari satu atap, namun kompetitor seperti Grab pun turut mendukung penyesalan setiap driver.

Saat persaingan masih sedikit, memang jatah harian yang diraup mampu diakumulasikan dengan sangat tinggi bila dibandingkan dengan gaji bulanan yang didapat sesuai UMR.

Lantas, penyesalan tersebut sekarang hanya menjadi cerita saat mereka ditanya. Mau tidak mau, driver tersebut tetap menjalankan profesi driver sambil berharap ada lowongan baru yang menyelamatkan perasaannya.

Pekerjaan sampingan

Akhirnya saya menemukan jawaban yang minoritas dari apa yang tiap saya tanyakan kepada driver tentang pekerjaan mereka.

Hanya 1 driver memang yang menjawab ia melakukan pekerjaan hanya sampingan saat saya naik Go Car bersama sahabat saya saat malam hari.

Mahasiswa rupanya yang tengah mencari kesibukan waktu demi mengisi kantong, sekedar uang tambahan.

...

Hadirnya Gojek, termasuk Grab di Samarinda bukan saja memudahkan segala aktivitas yang saya lakukan di sana. Namun juga memangkas waktu, cara saya menghargai diri sendiri sebelum bicara tentang orang lain.

Dengan banyaknya driver sekarang ini, di Semarang pun sama saja, memang menjadi dilema bagi para driver. Saya tentu tak perlu memikirkan mereka sebenarnya.

Yang saya soroti adalah Samarinda merupakan kota besar yang tentu sudah seharusnya diikuti tren kekinian seperti kota-kota lainnya.

Bila ini menjadi kampanye menarik kunjungan wisata, perusahaan transportasi online seperti mereka sepertinya perlu dipertimbangkan untuk diajak bekerja sama.

Pemanfaatan teknologi secara benar, sudah seharusnya memakmurkan. Oh ya, bila dihitung berapa kali saya naik Go Ride, rasanya sampai 6 kali. Jarak antar tempat yang saya tempuh memang tidak jauh. Jadi pengeluarannya pun tidak banyak, mengingat saldo GoPay masih ada sisa dari Semarang.

Artikel terkait :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Deserving of the Name, Drama Korea Tentang Dokter Modern dan Dokter Oriental (Akupuntur)